Bikin Geger Jelang PSU Papua, Relawan BTM-CK di Keerom Membelot ke MDF-AR

banner 468x60

ARSO – Peta dukungan politik di Kabupaten Keerom mendadak berguncang. Sekelompok relawan yang selama ini dikenal loyal terhadap pasangan Benhur Tomi Mano – Constan Karma (BTM-CK) tiba-tiba mengalihkan haluan. Dalam surat resmi bertanggal 25 Juni 2025, Relawan Keerom Bersatu (RKB) mencabut dukungan politiknya terhadap BTM-Karma dan menyatakan berpaling ke pasangan Matius D. Fakhiri – Aryoko Rumaropen (MDF-AR).

Deklarasi pembelotan ini dibubuhi tanda tangan Ketua RKB, Paito Alisofyan, dan Sekretaris Andel C Wahur, S.Si, lengkap dengan stempel organisasi. Dalam pernyataan tertulis yang kini beredar luas di media sosial dan grup-grup WhatsApp politik Papua, RKB menyebut dinamika politik PSU yang “memunculkan berbagai pandangan dan sikap masyarakat terhadap isu-isu sosial” sebagai alasan evaluasi sikap politik mereka.
“Setelah kami mencermati dan menilai, kami anggap Bapak Matius Fakhiri dan Bapak Ariyoko sebagai figur yang tepat memimpin Papua lima tahun ke depan,” tulis mereka.
Pernyataan ini bukan sekadar pergeseran sikap relawan. Di baliknya, terdapat sinyal pergeseran basis sosial dan moral di akar rumput Keerom, daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong suara potensial BTM. Dalam berbagai kesempatan, Benhur Tomi Mano kerap menyebut Keerom sebagai rumah perjuangannya di wilayah perbatasan.
Namun, narasi “perjuangan lama” itu agaknya mulai goyah. Masuknya MDF-AR dengan pendekatan milenial, narasi rekonsiliasi kultural, dan jaringan birokratik yang solid, mulai menggeser daya tarik simbolik BTM di kalangan pemilih muda dan komunitas adat.
“Ini alarm bagi kubu BTM. Jika Keerom yang notabene ‘kandang’ mereka saja mulai retak, bagaimana dengan distrik-distrik abu-abu lainnya?” ujar seorang pengamat politik lokal dari Universitas Yapis yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, MDF-AR memanfaatkan waktu jelang PSU dengan strategi diam-diam tapi mematikan: menyasar relawan di daerah yang secara simbolik penting, namun selama ini dianggap sudah “aman” oleh kubu lawan. Keerom, dengan letak strategisnya yang berbatasan langsung dengan PNG dan kedekatannya secara historis dengan konflik serta stabilitas politik, menjadi arena rebutan narasi besar.
Sementara itu, kubu BTM-Karma belum mengeluarkan pernyataan resmi atas pembelotan RKB. Namun sumber internal menyebutkan bahwa tim kampanye tengah melakukan konsolidasi internal dan akan segera mengklarifikasi isu ini.
Langkah RKB ini juga bisa menjadi bola salju. Jika pembelotan serupa terjadi di kabupaten lain yang selama ini diasosiasikan dengan loyalitas terhadap BTM-Karma, maka keseimbangan kekuatan dalam PSU 6 Agustus mendatang bisa berubah drastis.
Siapa sebenarnya RKB? Meski bukan organ resmi partai, relawan ini dikenal militan sejak Pilkada Gubernur sebelumnya. RKB terbentuk dari simpul-simpul pemuda kampung, tokoh masyarakat, dan sebagian eks-anggota tim sukses BTM- YB. Dalam tubuhnya mengalir jejaring adat dan gereja lokal yang tak bisa diremehkan.
Kini, dengan membelot ke MDF-AR, RKB mempertegas bahwa pertarungan di Papua bukan sekadar adu program atau elite politik. Ini pertarungan persepsi, kepercayaan, dan siapa yang dianggap bisa membawa harapan baru di tengah trauma politik dan ekonomi yang membelit Papua pasca-2020.
“Figur Matius Fakhiri membawa narasi ketertiban, sedangkan Ariyoko menawarkan kredibilitas teknokratik. Kombinasi ini, bagi sebagian warga Keerom, tampaknya lebih menjanjikan ketimbang nostalgia masa lalu,” kata Paito Alisofyan Ketua RKB.
PSU Papua kini makin memanas. Jika pembelotan RKB hanyalah awal, maka kita mungkin sedang menyaksikan pergeseran besar dalam politik Papua dari  tokoh Politik Indentitas lokal menuju kompetisi rasional antarfigur. Dan di tengah gejolak itu, satu kabupaten bisa mengubah arah sejarah.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *