Jayapura — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Garda Republik Indonesia (Garuda) menegaskan bahwa dukungan terhadap pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 2, Mariyo, Matius D Fakhiri dan Aryoko Rumaropen (MDF–Aryoko), merupakan amanat resmi partai yang wajib dijalankan seluruh kader.
Garuda Ancam PAW Kader Pembelot, Tegaskan Dukungan Total untuk Mariyo-Aryoko
Tak ada ruang bagi pembangkangan. DPP mengancam akan memecat sekaligus melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap setiap kader, termasuk anggota DPRK tingkat kabupaten dan kota, yang terbukti mendukung pasangan calon lain.
“Partai ini tidak main-main. Jika ada kader yang menyeleweng dan membelot, apalagi anggota DPRK yang mendukung pasangan BTM-CK, akan langsung kami proses untuk dipecat dan dilakukan PAW,” tegas Wakil Ketua Umum DPP Garuda, Prof. Ir. Jefry Juliato Waisapy, SH., MH., MM dalam keterangannya, Kamis (10/7).
Pernyataan keras ini muncul sebagai respons terhadap fenomena pembelotan sejumlah kader partai koalisi yang semula menyatakan dukungan terhadap pasangan Mariyo-Aryoko, yang beralih ke pasangan BTM-CK menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua 6 Agustus 2025.
Menurut Jefry Waisapy, tindakan semacam itu mencerminkan kualitas pendidikan politik yang buruk. “Ini bukan hanya pengkhianatan terhadap partai, tapi juga terhadap rakyat yang mempercayakan mereka duduk sebagai wakil,” katanya.
Ia menyebut pembelotan sebagai bentuk politik tak bermartabat dan mengingatkan bahwa instruksi partai bersifat final dan mengikat.
Senada dengan itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Garuda Kota Jayapura, Usman, ST, memastikan pihaknya akan mengamankan instruksi DPP hingga tingkat akar rumput. Ia menegaskan bahwa seluruh struktur partai di tingkat kota akan digerakkan untuk memenangkan paslon nomor 2 di wilayah strategis seperti Jayapura Utara dan Jayapura Selatan.
“Instruksi DPP untuk memenangkan MDF–Aryoko adalah harga mati. Ini komitmen struktural partai dari pusat sampai daerah,” ujar Usman.
Menurutnya, DPC Garuda Kota Jayapura akan memfokuskan kerja pemenangan di dua distrik dengan jumlah pemilih yang besar. Di Distrik Jayapura Utara, terdapat 8 kampung/kelurahan dengan 131 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan total Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 66.565. Sementara di Jayapura Selatan, terdapat 7 kampung/kelurahan, 141 TPS, dan 70.876 pemilih.
“Basis ini harus digarap serius. Kami sedang mengkonsolidasikan semua simpul kader untuk fokus door-to-door, edukasi pemilih, dan jaga suara sampai ke kotak suara,” lanjut Usman.
Pernyataan sikap DPP dan DPC Garuda ini menambah daftar partai-partai yang mulai bersikap tegas menghadapi potensi pembelotan kader menjelang PSU. Dalam dinamika politik Papua yang sarat dengan kepentingan lokal dan tekanan elite, partai-partai koalisi pemenang tampaknya mulai memperketat barisan.
Sejumlah pengamat menilai ketegasan partai seperti Garuda justru menunjukkan adanya kekhawatiran soal disiplinnya barisan partai di akar rumput. Apalagi, berdasarkan pemilu sebelumnya, mobilisasi partai di Papua kerap tak sejalan dengan hasil suara di lapangan, terutama jika tidak disertai pengawasan ketat dan distribusi logistik yang adil.
Namun bagi DPP Garuda, instruksi untuk memenangkan MDF–Aryoko tak sekadar strategi elektoral, melainkan juga pertaruhan atas konsistensi dan wibawa partai.
“Kalau partainya saja mereka khianati, bagaimana bisa dipercaya memperjuangkan aspirasi rakyat?” tegas Jefry Waisapy.
Dinamika ini menjadi catatan penting dalam menjelang PSU yang diprediksi berlangsung sengit, terutama di wilayah adat Tabi-Saireri. Pemetaan kekuatan partai politik, kesetiaan kader, serta soliditas tim kampanye menjadi elemen krusial dalam pertarungan elektoral mendatang.
Bagi Partai Garuda, ini bukan lagi sekadar urusan elektoral, tapi soal kehormatan organisasi.










