BTM–CK Didukung Elite Tua, Frangklin Wahey Menantang Dengan Barisan Mudanya.

banner 468x60
Jayapura —Pemungutan Suara Ulang (PSU) Gubernur Papua yang dijadwalkan pada 6 Agustus 2025 mulai memperlihatkan garis pertarungan yang tak biasa. 
Jika pasangan BTM–CK mendapat dukungan dari para tokoh senior partai yang dikenal sebagai jenderal lapangan politik Papua maka dari arah berlawanan, muncul kekuatan baru yang tak kalah percaya diri Frangklin Wahey dengan barisan generasi muda yang mulai bersuara.
Frangklin Wahey,  Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Jayapura sekaligus anggota DPR Papua, tampil membawa semangat berbeda. Bersama kader-kader muda yang dididik lewat pengalaman organisasi dan komunitas yang  saat ini menjadi legislator muda. Mereka menyatakan niat mereka bukan sekadar tampil, tapi mengambil alih.
 “Mereka masa lalu. Kita melangkah ke depan dengan pikiran baru. Generasi emas 2045,” ujar Frangklin dalam pernyataan kepada Wartawan, Minggu ( 29/6).
Baginya, kekuasaan bukan soal siapa yang lebih dulu, tapi siapa yang siap memberi jalan bagi perubahan. 
“Kita butuh pemimpin yang bisa mengkader orang banyak. Bukan yang cuma memelihara lingkaran keluarga atau satu golongan saja,” tambahnya.
Frangklin dan beberapa rekannya tak datang dari ruang elite. Mereka tumbuh dari bawah dari organisasi kepemudaan, dari KNPI, dari ruang-ruang diskusi aktifis yang akrab dengan suara sumbang dari rakyat. 
Kini, dari DPR Papua, ia membawa semangat itu ke panggung yang lebih besar. Tak hanya bicara soal kemenangan elektoral, ia bicara soal reformasi cara berpikir dan cara memimpin.
Dua foto yang tersebar luas di media sosial menggambarkan pertarungan ini secara visual. Satu sisi jajaran elite tua partai mengenakan jas partai, menunjukkan otoritas dan senioritas. 
Di sisi lain Frangklin dan rekan-rekan muda dengan jaket biru, wajah terbuka, gaya informal tapi tegas mewakili semangat anak muda.
Kubu BTM–CK mengandalkan barisan tokoh senior dari PDIP, Demokrat, Golkar, dan NasDem. Struktur mereka kuat. Tapi kelompok Frangklin punya energi dan jejaring generasi muda yang mewakili lebih dari 60% total pemilih di Papua.
Secara struktur, politik Papua masih bertumpu pada budaya patronase, birokrasi, dan warisan elite. Tapi semangat zaman mulai bergeser. Gelombang anak muda mulai menyuarakan ketidakpuasan atas wajah-wajah lama yang terus-menerus hadir tanpa perubahan.
Frangklin Wahey tak segan menyampaikan kritik terbuka terhadap para pendahulu mereka. 
“Mereka masa lalu. Kita melangkah ke depan dengan pikiran baru, generasi emas 2045,” ujarnya. 
Pernyataan ini menggambarkan bukan hanya ambisi elektoral, tapi juga narasi identitas bahwa saatnya orang muda Papua mengambil alih ruang-ruang politik yang selama ini dikuasai kelompok elite tua yang mapan.
Frangklin menyebut mereka sebagai generasi yang hanya tahu mengurus diri dan keluarga. Pernyataan itu tajam, tapi banyak dirasakan masyarakat.
Bagi Frangklin dan barisannya, PSU Pilgub Papua  ini bukan soal siapa yang lebih besar logistiknya, tapi siapa yang lebih mampu mewakili harapan rakyat ke depan. 
Papua 2045, kata Frangklin, harus dibentuk oleh mereka yang terbuka dan mau membuka jalan bagi semua.
“Kami bukan anti orang tua. Tapi kami ingin akhiri cara lama yang sudah terlalu lama dibiarkan,” tutupnya.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *