Sentani — Lapbiru.com
Tindakan seorang kepala distrik di Sentani yang mengusir pedagang sayur keliling memantik perdebatan di ruang publik. Video dan narasi peristiwa itu ramai dibahas di grup Facebook publik IKKJ Info Kejadian Kota Jayapura dan Sekitarnya.
Peristiwa tersebut pertama kali disorot akun Dani Papua. Dalam unggahannya, Dani mengkritik cara kepala distrik yang menegur pedagang dengan nada keras dan terkesan arogan.
Padahal, pedagang sayur keliling itu disebut hanya mangkal sementara di pinggir jalan, tanpa mengganggu lalu lintas maupun ketertiban umum.
“Keberadaan pedagang sayur keliling justru membantu masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga. Mereka tidak perlu ke pasar jauh hanya untuk beli bumbu atau sayur sedikit,” tulis Dani Papua dalam unggahannya.
Menurut Dani, dalam konteks ekonomi rakyat kecil, pedagang keliling adalah solusi. Bukan masalah. Ia menilai penertiban semestinya dilakukan secara persuasif dan berlandaskan aturan yang jelas, bukan dengan cara represif.
Ia juga menyoroti belum adanya regulasi spesifik di Kabupaten Jayapura yang melarang pedagang sayur keliling mangkal sementara di lingkungan permukiman, selama tidak mengganggu ketertiban dan lalu lintas.
“Dalam kondisi aturan belum jelas, pengusiran dengan cara kasar justru salah kaprah,” tulisnya lagi.
Narasi tersebut memicu respons beragam. Kolom komentar pun terbelah.
Sejumlah netizen mendukung langkah kepala distrik. Erick M menilai tindakan itu sudah tepat.
“Mantap. Kami masyarakat Papua ada di belakang bapak. Terus lakukan supaya pedagang kaki lima tidak melakukan hal yang sama,” tulisnya.
Nada serupa disampaikan Dem J. “Mantap pak distrik. Kami mendukung. Batasi penjual keliling biar pasar lancar,” komentarnya.
Candra juga melihat sisi positif penertiban. Menurutnya, pemerintah tinggal mengatur penempatan kios sayur di beberapa titik.
“Biar masyarakat yang uangnya tidak cukup ke pasar bisa beli di kios sayur tersebut,” ujarnya.
Namun, dukungan terhadap pedagang keliling juga tak kalah kuat. Erik, salah satu netizen, mengaku sependapat dengan Dani Papua.
“Pedagang keliling sangat membantu sekali, apalagi buat kita yang malas jalan jauh ke pasar, dengan uang seadanya,” tulisnya.
Dalam unggahannya, Dani Papua juga membandingkan penertiban pedagang kecil dengan persoalan lain yang dinilai lebih mendesak.
Mulai dari peredaran miras, narkotika, praktik prostitusi, anak sekolah berkeliaran di jam belajar, hingga ASN yang tak berada di tempat tugas saat jam kerja.
“Skala prioritas penertiban keliru. Pedagang kecil yang tidak mengganggu justru jadi sasaran,” tulis Dani.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak distrik terkait insiden tersebut. Perdebatan di media sosial masih terus bergulir, memperlihatkan satu hal ruang publik selalu sensitif, terutama ketika bersinggungan langsung dengan denyut ekonomi rakyat kecil.







