“Pelayanan itu sebuah kehormatan, bukan beban kerja.” Kalimat itu diucapkan pelan namun penuh makna oleh Fredi Ginia Tabuni, Wakil Bupati Lanny Jaya. Kalimat yang menggambarkan perubahan besar dalam perjalanan hidup seorang putra Pegunungan Papua yang dulu dikenal sebagai legislator jalanan julukan bagi para aktivis jalanan yang tak mengenal lelah menuntut keadilan.
Dari Jalanan Menuju Pemerintahan
Lahir dan besar di tengah gejolak sosial serta keterbatasan akses di wilayah Pegunungan Fredi muda sudah terbiasa hidup dalam kondisi serba tidak ideal. Pendidikan ditempuh dengan susah payah. Tapi justru dari keterbatasan itu muncul semangat: membela rakyat kecil, menyuarakan yang tak terdengar.
“Dulu kami tidak punya fasilitas. Tapi kami punya suara dan sepatu yang kuat,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan senyum kecil mengenang masa-masa itu.
Politik: Bukan Tujuan, Tapi Sarana Perjuangan
Masuknya Fredi ke Partai NasDem bukanlah keputusan yang mudah. Baginya, politik adalah arena yang licin dan kerap menjauh dari rakyat. Tapi ia percaya, ketika dijalani dengan niat tulus, politik justru bisa menjadi sarana pelayanan yang paling efektif.
“Kalau saya hanya berteriak di jalan, suara saya bisa hilang di angin. Tapi kalau saya duduk di kursi birokrasi, saya bisa teken surat keputusan,” kata Fredi, menjelaskan alasannya.
Ia mencalonkan diri dalam Pilkada Lanny Jaya bukan untuk memburu jabatan, tapi untuk melanjutkan misi yang dulu dimulai di jalanan: memperjuangkan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan yang merata di wilayah pegunungan.
Sejak dilantik sebagai Wakil Bupati, Fredi Ginia Tabuni dikenal sebagai pejabat yang rajin turun langsung ke kampung-kampung terpencil. Ia enggan hanya duduk di balik meja. Dalam banyak kesempatan, ia tetap tampil dengan gaya khasnya: ransel di punggung, sepatu lapangan, dan bahasa yang membumi.
“Bagi saya, pelayanan adalah kehormatan. Orang yang merasa pelayanan itu beban, berarti tidak layak jadi pejabat,” tegasnya.
Di beberapa distrik yang belum tersentuh pembangunan, kehadiran Fredi bukan hanya membawa program pemerintah, tapi juga harapan. Ia duduk bersama mama-mama di dapur, mendengarkan cerita mereka. Ia mendatangi anak-anak yang belajar di pondok reyot, dan menjanjikan perbaikan bangunan sekolah, bukan hanya dalam pidato.
Fredi Ginia Tabuni adalah contoh bahwa transformasi sosial bisa dimulai dari jalanan, tapi tidak harus berhenti di sana. Ia membawa semangat aktivisme itu ke dalam sistem, tanpa kehilangan jati diri.
Dalam suasana politik Papua yang kerap panas dan penuh curiga, kehadirannya memberi narasi tandingan bahwa masih ada pejabat yang melihat jabatan bukan sebagai privilese, tapi sebagai amanah.
Dan di tengah jalan berliku membangun Papua Pegunungan, Fredi melangkah dengan sepatu yang masih berdebu, membawa semangat kaki abu ke ruang-ruang pemerintahan.








