Sentani – Lapbiru.com
Di Kabupaten Jayapura, pembangunan tidak selalu berbicara tentang jalan beraspal mulus atau gedung-gedung baru di pusat kota.
Di wilayah-wilayah terjauh, pembangunan justru dimaknai sebagai kehadiran pemimpin yang mau datang, melihat, dan mendengar langsung. Itulah yang dilakukan Bupati Kabupaten Jayapura, Dr. Yunus Wonda, SH, MH, saat menempuh perjalanan berat menuju Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, Provinsi Papua.
Perjalanan menuju Kampung Omon bukanlah perjalanan biasa. Dari titik terakhir yang masih bisa dijangkau kendaraan, rombongan harus melanjutkan perjalanan sekitar 25 kilometer dengan berjalan kaki.
Jalur yang dilalui berupa hutan lebat, jalan setapak licin, tanjakan curam, serta medan alam yang menuntut fisik dan mental kuat. Tidak ada kemewahan, tidak ada karpet merah. Yang ada hanyalah lumpur, akar pohon, dan heningnya rimba Papua.
Di sepanjang perjalanan, berbagai tantangan dan cobaan menghadang. Cuaca yang berubah cepat, kondisi jalur yang berat, hingga kelelahan menjadi ujian tersendiri.
Namun dengan semangat kebersamaan dan keyakinan, rombongan Bupati Jayapura akhirnya tiba dengan selamat. “Puji Tuhan,” ungkap sejumlah warga dan rombongan saat Kampung Omon akhirnya terlihat di kejauhan.
Kehadiran Yunus Wonda di kampung terpencil itu bukan untuk sekadar menggugurkan kewajiban atau agenda seremonial.
Ia datang dengan satu tujuan melihat langsung kondisi masyarakat dan memastikan negara hadir hingga ke wilayah paling sulit dijangkau.
Kampung Omon selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang minim sentuhan pembangunan, baik dari sisi infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan, maupun akses ekonomi.
Kampung Omon merupakan kampung adat yang dihuni oleh Suku Elseng, komunitas asli yang hidup berdampingan dengan alam.
Jarak yang jauh dan akses yang terbatas membuat kampung ini sering luput dari perhatian. Bagi sebagian warga, kunjungan kepala daerah terasa seperti peristiwa langka bahkan belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan pakaian sederhana dan langkah yang tak menunjukkan jarak kekuasaan, Yunus Wonda menyapa warga satu per satu.
Ia duduk bersama masyarakat, mendengarkan cerita mereka tentang kehidupan sehari-hari, tentang anak-anak yang harus berjalan jauh untuk bersekolah, tentang sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan, serta harapan akan jalan dan fasilitas dasar yang layak.
“Pemerintah tidak boleh hanya bekerja dari balik meja,” ujar Yunus Wonda dalam pertemuan bersama warga.
Menurutnya, seorang pemimpin harus mau merasakan langsung apa yang dirasakan rakyatnya. Jalan kaki berjam-jam menembus hutan menjadi bagian dari tanggung jawab itu.
Kunjungan ini sekaligus menjadi bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk membangun dari pinggiran.
Yunus Wonda menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh terpusat di wilayah perkotaan saja, sementara kampung-kampung terpencil terus tertinggal.
Baginya, keadilan pembangunan berarti memastikan setiap warga, di manapun mereka tinggal, mendapatkan perhatian yang sama.
Warga Kampung Omon menyambut kunjungan tersebut dengan rasa haru dan penuh kehangatan. Kehadiran langsung Bupati memberi mereka harapan baru.
Mereka merasa tidak lagi sendirian menghadapi keterbatasan. Bagi masyarakat Suku Elseng, didatangi dan didengarkan adalah bentuk penghormatan yang sangat berarti.
Lebih dari sekadar kunjungan, perjalanan ini menjadi simbol kepemimpinan yang berpihak. Yunus Wonda tidak ingin laporan pembangunan hanya berhenti di atas kertas.
Ia memilih melihat dengan mata kepala sendiri, merasakan dengan kaki sendiri, dan mendengar langsung dari mulut masyarakat.
Langkah kaki yang menembus hutan Kampung Omon menjadi pesan kuat bahwa melayani rakyat bukan soal kenyamanan, melainkan keberanian untuk hadir di tempat yang paling sulit.
Di tengah sunyi dan keterbatasan, Yunus Wonda menunjukkan bahwa negara hadir bukan sebagai slogan, tetapi sebagai tindakan nyata.
Bagi Kabupaten Jayapura, perjalanan ke Kampung Omon bukan hanya tentang jarak 25 kilometer yang ditempuh, tetapi tentang jarak keadilan yang perlahan dipersempit.
Dan bagi masyarakat Suku Elseng, kunjungan itu meninggalkan keyakinan bahwa suara mereka kini telah sampai ke telinga pemimpin daerah.










