Kecam Narasi Seksual Tak Etis di Grup SOCAKAB Jayapura

banner 468x60

Jayapura — Kontestasi politik jelang Pemilihan Gubernur Papua kembali diwarnai dengan praktik komunikasi yang dinilai tidak etis. Kali ini, sorotan tertuju pada dugaan penyebaran narasi bernuansa seksual di grup WhatsApp resmi bernama SOCAKAB (Solidaritas Camat Kabupaten Jayapura). Salah satu yang menjadi sasaran adalah tokoh perempuan Papua, HYU, yang menyampaikan pernyataan sikap terbuka atas insiden tersebut.

Dalam rilisnya, HYU menyebut bahwa beredar sebuah unggahan berisi foto dirinya bersama Putri Doyo di grup tersebut, dengan narasi tendensius yang diduga berasal dari Calon Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano (BTM). Tulisan singkat bertajuk “Pasangan Serasi” disinyalir menjadi pemantik komentar yang tak kalah problematik dari salah satu anggota grup, yakni Ted Mokai, yang diduga sebagai pendukung militan BTM.
Yang paling disorot adalah komentar “Salome seh” sebuah ungkapan vulgar yang dalam konteks Papua dimaknai sebagai singkatan dari “Satu Lobang Ramai-Ramai”. Bagi HYU, komentar ini bukan hanya tak pantas, tapi juga telah melukai martabat perempuan Papua secara kolektif.
 “Ini bukan sekadar candaan. Ini bentuk pelecehan seksual non-verbal yang dilakukan di ruang publik digital oleh orang-orang yang mestinya menunjukkan keteladanan,” ujar HYU dalam keterangannya, Selasa (17/6).
Lebih jauh, HYU menegaskan bahwa tindakan seperti ini menunjukkan wajah lain dari para elit politik yang berlaga dalam kontestasi kekuasaan.
 “Sangat tidak pantas jika seseorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin publik justru menjadi bagian dari narasi yang melecehkan dan memecah belah masyarakat,” katanya.
Ia mempertanyakan etika kepemimpinan jika sejak masa kampanye saja, ruang publik sudah dipenuhi dengan ujaran bernada merendahkan dan tidak senonoh.
Akan Laporkan ke Bawaslu dan Komisi Perempuan
Sebagai respons tegas, HYU berencana menggelar jumpa pers resmi dan segera melaporkan insiden ini kepada Bawaslu serta Komisi Perempuan.
 “Saya tidak akan tinggal diam. Ini bukan hanya tentang saya sebagai individu, ini tentang penghinaan terhadap perempuan Papua dan publik yang mendambakan pemilu yang bermartabat,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, HYU juga menyerukan kepada masyarakat untuk kritis dan tidak permisif terhadap narasi-narasi cabul yang merusak integritas demokrasi.
“Jangan pilih pemimpin yang membiarkan lingkarannya menyebarkan penghinaan seksual. Kalau hari ini kita diam, maka kita sedang merestui moralitas busuk memimpin masa depan,” tegasnya.
Pilkada, seharusnya menjadi arena kontestasi ide dan gagasan, bukan panggung penghinaan karakter. Dalam situasi sosial politik yang rentan, narasi seperti ini hanya akan memperuncing perpecahan dan mencoreng wajah demokrasi Papua.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *