Saya bukan siapa-siapa. Saya menulis ini bukan karena punya pangkat, gelar, atau posisi penting. Nama saya tak perlu disebut, karena tulisan ini hanya lahir dari satu hal keresahan. Keresahan melihat perdebatan yang membelah masyarakat Papua, setelah video Walikota Jayapura Abisai B. Rollo (ABR) viral di mana-mana.
Mengapa Saya Mendengar Ucapan Abisai Rollo dengan Kepala Dingin
Saya menulis ini ditemani sebatang rokok dan segelas kopi. Dengan bekal pengetahuan apa adanya, dan potongan-potongan informasi yang lewat dari WhatsApp grup, Facebook, hingga pernyataan-pernyataan pro dan kontra yang tak pernah habis. Barangkali sebagian dari pikiran saya keliru. Tapi barangkali juga ada benarnya. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasa.
Pernyataan ABR tentang “orang pantai” dan “orang gunung” memang menyakitkan bagi sebagian orang. Saya pun merasa terkejut. Tapi makin banyak saya membaca dan mendengar, saya bertanya-tanya sendiri apakah ucapan itu benar-benar berniat membelah masyarakat?
Ataukah sebenarnya ia sedang menyentil sesuatu yang memang sudah lama jadi masalah, tapi tak pernah kita mau bicarakan secara jujur?
Sebagai warga yang tinggal di Kota Jayapura, saya tahu, kita punya banyak luka. Ada luka karena tanah yang dirampas. Ada luka karena ketimpangan. Tapi ada juga luka karena sesama kita sendiri karena saling curiga, karena konflik antarkelompok, karena gesekan yang kadang lahir bukan dari Jakarta, tapi dari kita sendiri yang tak saling mengerti.
Apakah menyebut fakta sosial itu otomatis menjadikan ABR sebagai juru bicara kolonialisme? Apakah semua yang tidak sesuai dengan narasi “korban” lantas dianggap musuh? Saya tidak tahu pasti.
Tapi saya kira, jika kita terbiasa membungkam orang hanya karena ucapannya tidak kita suka, maka kita pun sedang melestarikan gaya kolonial itu sendiri.
Saya bukan membela ABR. Dia pun tidak kenal saya, Saya pun tak selalu setuju dengan langkah-langkahnya. Tapi saya ingin jujur sebagai walikota, dia memang punya tanggung jawab menjaga kota ini tetap damai. Dan kadang, itu membuatnya mengambil langkah atau ucapan yang tidak populer. Bisa jadi keliru, tapi belum tentu jahat.
Justru saya melihat, banyak elite yang bersuara lantang soal tanah adat dan kolonialisme, tetapi diam saat keluarga mereka sendiri terlibat dalam jual-beli tanah kepada investor. Banyak yang membela rakyat kecil, tapi tinggal di rumah besar, jauh dari suara rakyat itu sendiri. Maka ketika mereka mengecam ABR dengan moral tinggi, saya bertanya: apakah itu kritik, atau hanya bagian dari permainan politik?
Yang saya takutkan, kita semua orang gunung dan orang pantai, orang tua dan muda terlalu sibuk mencari musuh, sampai lupa mencari cara untuk duduk bersama. Kita marah karena merasa disakiti, tapi dalam kemarahan itu, kita juga menyakiti yang lain. Dan jika terus begini, Papua akan tetap jadi ladang pertempuran batin dan kata, sementara tanahnya terus dijual, airnya terus ditambang, dan anak-anaknya terus hilang dalam sejarah.
Saya hanya menulis. Karena suara saya mungkin tak akan pernah terdengar di kantor dewan atau dalam forum-forum besar. Tapi saya percaya, kebebasan berpikir adalah hak siapa saja. Dan kalau saya tidak bisa bicara di ruang rapat, biarlah tulisan ini jadi ruang saya menyampaikan apa yang saya rasa. Boleh setuju, boleh tidak. Yang penting, saya sudah mencoba jujur kepada diri sendiri.
Rokok saya sudah hampir habis. Kopi tinggal setengah. Tapi keresahan ini belum selesai. Karena Papua belum selesai. Dan kita masih harus saling dengar, sebelum benar-benar kehilangan satu sama lain.
Penulis : Hanya Orang Biasa











