Jejak Akun Bayangan di Balik Serangan ke Abisai Rollo

banner 468x60

Jayapura, – Menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur Papua 2025, percakapan digital di Kota Jayapura berubah panas. Di balik linimasa media sosial dan grup-grup percakapan WhatsApp seperti IKKJ (Info Kejadian Kota Jayapura), muncul akun-akun misterius yang secara intensif menyerang Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo.

Menelusuri sejumlah akun tersebut. Mereka aktif menyebarkan narasi provokatif menggoreng pernyataan Abisai dalam video viralnya beberapa waktu lalu. 
“Suara ABR adalah cermin wajah kolonialisme modern di Port Numbay,” tulis akun Sekiwe Waliwa dalam salah satu komentar di grup publik. Namun ketika ditelusuri, akun ini hanya memiliki satu pengikut, tanpa jejak identitas yang dapat diverifikasi. 
Aktivitasnya hanya berkutat pada satu isu: serangan terhadap Abisai Rollo.
Sekiwe Waliwa bukan satu-satunya. Ada akun-akun lain seperti Lomase Geibey, Wenda Pugu, hingga Tegayo Koime yang diduga menggunakan nama samaran khas pegunungan Papua. Hampir seluruhnya menggunakan narasi serupa: membenturkan antara “orang gunung” dan “orang pantai”, sembari mengutip potongan video  pernyataan Abisai.
Video yang menjadi bahan bakar utama provokasi itu memuat ucapan Abisai:
“Bahwa tidak ada demo, tidak ada palang kota ini. Karena yang biasa palang dan demo itu bukan orang Port Numbay, bukan orang pantai, orang-orang gunung ini.”
Pernyataan itu kemudian dipasangkan secara kontras dengan cuplikan pidato Calon Gubernur Papua, BTM:
“Saudara-saudara yang gunung silakan tinggal di sini…!!! batu yang sudah turun dari gunung tra akan naik kembali.”
Dua kutipan ini kemudian diedit dalam sejumlah video pendek dengan musik dramatis dan teks sorotan merah yang disebarkan di platform Facebook dan TikTok. Beberapa video bahkan diberi tagar #PapuaUntukSemua, #TolakKolonialismePortNumbay, dan #KamiAnakGunung.
Namun ketika ditelusuri, akun penyebar video tersebut juga memiliki pola yang mencurigakan: jumlah pengikut minim, tidak pernah membagikan aktivitas pribadi, dan hanya fokus pada isu Abisai versus BTM. Sebagian besar akun dibuat dalam kurun waktu 1 hari kemarin
Tak mudah menelusuri siapa dalang sebenarnya. Namun pola penyebaran, narasi yang konsisten, dan target yang spesifik menunjukkan adanya indikasi koordinasi politik. 
“Ini bukan lagi perang opini biasa. Ini operasi digital yang dimanfaatkan untuk kepentingan elektoral,” ujar seorang aktivis literasi digital di Jayapura yang meminta namanya disamarkan.
Salah satu penggiat medsos, Yosef Mandosir menyebut fenomena ini sebagai “politik siber identitas”.
 “Dengan menghidupkan kembali dikotomi orang gunung versus orang pantai, narasi ini mencoba menciptakan polarisasi sosial demi keuntungan politik tertentu jelang PSU,” katanya.
PSU Pilgub Papua memang belum digelar. Namun tensi sosial sudah terasa. Polarisasi yang diciptakan melalui media sosial mulai menjalar ke ruang nyata. 
Di sejumlah warung kopi dan tongkrongan mahasiswa, perdebatan soal ‘identitas asli Papua’ menghangat. Apalagi sebagian narasi mencoba membingkai Abisai Rollo sebagai simbol kolonialisme dalam kota Port Numbay.
Padahal sejarah menunjukkan sebaliknya. Abisai adalah putra asli Port Numbay, marga Rollo yang sejak lama bermukim di Tanah Tabi. Ia terpilih menjadi Wali Kota Jayapura lewat proses demokratis. Namun di tengah kontestasi PSU Pilgub Papua terkait elektoral yang makin panas, latar belakang itu mulai dipelintir menjadi komoditas politik.
Akun-akun hantu di media sosial bukan sekadar gangguan digital. Dalam konteks Papua, narasi provokatif yang membelah identitas sosial bisa berujung pada konflik terbuka. 
Jika tidak ditangani sejak dini, operasi digital ini bukan hanya menggerus rasionalitas politik, tapi juga bisa menjadi bom waktu yang meledakkan harmoni sosial yang rapuh.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *