Jayapura – Menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Provinsi Papua yang akan digelar pada 6 Agustus 2025, suhu politik di media sosial mulai memanas.
Fenomena ini mendapat perhatian dari aktivis politik di Kabupaten Jayapura, Aris Kreutha, yang menyampaikan seruannya melalui akun Facebook pribadinya.
Dalam unggahannya, Aris menyoroti maraknya hoaks, caci maki, saling hina, tudingan tak berdasar, serta upaya merendahkan antarpihak, termasuk terhadap kedua calon gubernur. Menurutnya, hal ini mencerminkan kurangnya pendidikan politik yang sehat di tengah masyarakat.
“Tidak ada pendidikan politik yang baik yang bisa diperoleh pemilih sebagai dasar untuk memilih pemimpin yang tepat,” tulis Aris dalam unggahannya.
Ia menekankan pentingnya bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan pilihan politik, serta menghindari perilaku-perilaku negatif yang justru merusak nilai demokrasi.
“Marilah kita bijak, dengan tidak melakukan hal-hal di atas,” imbaunya.
Aris juga menilai bahwa praktik politik negatif seperti ini merupakan ciri khas dari demokrasi di negara berkembang. Ia mengajak masyarakat Papua untuk menjadikan momen PSU ini sebagai ruang pembelajaran demokrasi yang sehat, bukan ajang untuk saling menjatuhkan.
Fenomena kampanye negatif yang didominasi narasi permusuhan dan kebencian, menurutnya, hanya akan mengalihkan perhatian publik dari substansi pemilu yang seharusnya berfokus pada adu gagasan, visi, misi, program kerja, dan rekam jejak para calon.
Pemilih, lanjut Aris, membutuhkan informasi yang akurat dan objektif agar dapat menentukan pilihan secara cerdas dan berlandaskan pertimbangan rasional.
“Menciptakan iklim politik yang sehat adalah tanggung jawab kita bersama bukan hanya calon dan tim suksesnya, tetapi juga masyarakat sebagai pemilih,” tegasnya.
Menutup pesannya, Aris mengucapkan salam damai menjelang PSU:
“Salam PSU.”, Ungkapnya










