Jayapura – Belum juga kotak suara dibuka, debat belum dimulai secara resmi, namun lini masa sudah gaduh seperti final debat capres. Kali ini, dua tokoh dunia maya yang belakangan rajin muncul di kolom komentar Panji Agung Mangkunegiro IV dan Henry Jonadab Ukru kembali adu urat jempol dalam Drama Epik Dunia Maya Jilid II.
Topiknya tentu saja masih hangat Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua 2025. saling adu gagasan dengan jurus pamungkas masing-masing.
Babak Pertama: Kata-Kata Lebih Tajam dari Surat Suara
Drama ini dibuka dengan panasnya adu komentar:
Panji: “Henry Jonadab Ukru anak kecil itu cebok dulu.. Munafik lapis muka mono kampungan.”
Henry: “Panji Agung Mangkunegiro IV hanya itu kemampuanmu? Habis bahan langsung serang personal. Wkwkwk.”
Panji: “MDF raja akun palsu!”
Henry: “BTM raja playing victim!”
Tak puas, Henry lanjut dengan referensi masa lalunya. “Ko tau saya pernah menangkan orang. Tanya Lessin Elsuagi atau Gifli Renaldo. Ko kelola akun Serua Alhamidi lalu tuduh saya? Ko terlalu cerewet, macam perempuan bunting dua bulan!” tulisnya.
Panji balas:
“Drama mu itu ada di akun Serua Alhamidi, nyali kecek! Ko tipu, ko terkutuk, itu saja bro. Hehe.”
Sementara itu dalam sesi adu argumen Masuklah Sang Filsuf Medsos: Kejora Karetho
Saat debat makin tak karuan, muncullah sosok bijak di tengah keributan: Kejora Karetho. Seperti filsuf dunia maya, ia mencoba menengahi:
“Judul dan isi berita harus berimbang. Narasi jangan provokatif ya….
Kebenaran itu harus diuji dan dikaji, bukan dengan serang pribadi. Jangan ajarkan ikan berenang, cukup sediakan air… pasti dia berenang.” ungkapnya.
Namun Panji tak tinggal diam. Responsnya:
“Kejora Karetho, manusia tidak berguna. Ko bisa apa? Tak berguna!” balasnya.
Di lain pihak, Netizen Ikut Campur: Diam Itu Emas?. Tak ingin ketinggalan, akun bernama Boban mencoba menenangkan suasana:
“Panji, mungkin yang ko bilang benar, tapi cara ko bicara tidak mencerminkan kebenaran. Jadi diam saja dulu sudah.”
Tapi Panji tetap dalam mode peperangan:
“Boban, makin tajam fakta, makin mereka terusik! Demokrasi itu kritis, bukan hoax! Serua Alhamidi itu akun palsu MDF, dibiarkan gentayangan!”
Sementara Itu, Rakyat Papua: Tertawa atau Lapor Polisi?
Drama medsos ini mungkin tidak akan masuk dalam dokumen resmi KPU, tapi sudah pasti masuk ke dalam sejarah digital Pilgub Papua. Sementara rakyat masih menunggu hasil PSU, drama Panji vs Henry bisa jadi satu-satunya hiburan gratis di dunia yang makin mahal ini.
Satu hal yang pasti: Pilkada boleh panas, tapi medsos jangan sampai terbakar.





