Esai : Muhamad Isa Almuntazar
Bagaimana Rasionalitas Berhadapan dengan Wahyu, Realitas, Materi, Pandangn Dunia, Gerakan dan Dirinya Sendiri ?
Tulisan pendek ini akan membantu Anda dalam menyederhanakan persoalan rumit yang kita hadapi seputar keagamaan, filosufi, sains, ideologi (pandangan dunia) gerakan dan pikiraan manusia. Satu-satunya pembeda manusia dari binatang adalah adanya rasionalitas pada manusia. Untuk itu peran rasionaltas pada kehidupan manusia sangat lah sentral.
Kondisi umum manusia kebanyakan mereka mendiami planet Orang Awam. Hal ini membuat kemerdekaan berpikir sebagai kemewahan. Otak manusia lumpuh oleh doktren, dogma dan algoritma di tangan Si jahat yang akan membabat habis akal sehat. Manusia mengalami kemiskinan bahasa dan saling berkomunikasi dibawah standar kekayaan bahasa unggas.
Bahasa manusia modern di bawah teknologi digital menjadikan kortek dan kognisi sebagai medan perang persepsi, menjadi arus kuat mendirikan peradaban kebencian yang dibungkus oleh kemasan sakral : seperti agama, mazhab, HAM atau demokrasi. Tapi dibalik itu isinya kejahatan standar ganda. Lihat ulah Trump dan Nethanyahu pada genosida Gaza misalnya.
Selentur lidah tak bertulang dengan mudah sekali orang mengatakan Ini Kebenaran atau saya lah yang bersama kebenaran. Tapi untuk memahami kebenaran sangat licin sekaali jalannya. Ada seseorang keukeuh berpendirian pada tafsirnya atas kitab suci,. Ia berdiri tak bergeming pada pondasi teks (hermeneutik), – bahwa dirinya lah yang bersama kebenaran.
Rasionalitas berhadapan dengan teks kitab suci melahirkan sebuah daratan luas pemikiran yang kemudian disebut Teologia atau Ilmu Kalam. Bagaimana Tuhan sebagai kebenaran mutlak yang disepakati digambarkan dengan bantuan frasa-frasa ayat suci dan logika sehingga sedemikian rupa menumbuhkan perasaan yakin yang selanjutnya dinamakannya sebagai kepercayaan atau mungkin juga iman. Perjumpaan rasionalitas berhadapan dengan teks kitab suci juga melahirkan senyawa atau tesis-tesis yang dihasilkan dari penangkapan beberapa pola yang dihasilkan, perspektif atau konsepsi yang disebut akidah. Planet pemikiran sepeti ini dihuni oleh para mutakalimin dan ahli hadist (teks). Para ustadz di layar televisi dan Medsos kebanyakan bercorak ini. Mereka mendudukan dirinya sebagai distributor kebenaran, untuk ia sampaikan kepada masyarakat awam yang menurutnya belum tersinari cahaya Teologia itu.
Kedua ketika rasionalisasi berhadapan dengan realitas. Inilah dunianya para filsus. Di daratan ini para filsuf membuat suatu pondasi kokoh dunianya, bahwa yang benar adalah yang nyata, – meski yang nyata atau real itu bisa dalam keadaan atau eksistensi fisik maupun eksistensi metafisiknya. Dan ditahap ini bahasa mengalami kegagapan dalam mengikat kilatan-kilatan makna.
Sehingga antara satu kata bisa berkelindan dengan kata yang lain. Ketika realitas itu juga dalam makna yang lainnya adalah eksistensi. Dan esensi (Dzat) Tuhan adalah realitasnya. Maka yang ada hanya cahaya yang memenuhi luar pintu gua. Seperti digambarkan pada Alegori Gua oleh Plato. Bahwa dunia fisik itu hanya bayangan di layar dinding gua bagi kita manusia di dalam gua. Namun bagi yang mau keluar dari pintu gua, dia akan menyaksikan luasnya hamparan kesatuan metafisika yang merupakan hakikat, asal, awal dan tujuan kembali para makhluk pulang. Di Indonesia pelanet pemikiran seperti ini diperankan dengan sangat luar biasa oleh Rocky Gerung. Seandainya saja dia mau lebih dalam menyelam ke dasar Wujud Alkhariji dalam pemikiran Hikmat Mutaaliyat filsuf Mulla Sadra, tentu kemerdekaan akal sehat bagi bangsa Indonesia akan dapat terwujud dengan baik. Jangan hanya terdampar di jalan buntu kritisisme.
Yang ketiga adalah ketika rasionalitas berhadapan dengan materi atau fisika. Inilah Planet Sains. Perjalanan peradaban manusia yang tadinya sekedar makhluk bipedal yang jalan diatas dua kaki dengan tumit, dapat terbang lebih kuat dari bangsa unggas saat Wright Bersaudara menemukan teknologi pesawat terbang dalam bentuknya yang masih sederhana di tahun 1903. Perjalanan sains dalam peradaban manusia adalah hasil dari pertemuan rasionalitas dengan materi atau fisik. Para ilmuan sains terus membedah rahasia alam setiap jamannya, terus melahirkan teknologi di segala bidamg. Sains dan teknologi dibutuhkan manusia sebagai alat survive mereka dalam menjalani kebutuhan kehidupan dunianya. Pola keteraturan alam yang dapat disimpulkan oleh ilmuan sains, terus menguak rahasia terpendam dari alam yang tampak acak. Para ilmuwan lalu melahirkan rumus-rumus atau hukum fisika. Planet Sains ini sering dilebih-lebihkan bahkan diberhalakan oleh masyarakat Barat.
Yang ke empat adalah moment disaat rasionalitas berhadapan dengan nilai yang hidup dan disepakati di tengah sebuah masyarakat. Ini yang disebut pandangan dunia atau ideologi. Ini adalah sebuah pelanet yang diisi oleh para ideolog. Misalnya bangsa Indonesia punya pandangan dunia yang disepakati adalah Pancasila. Karl Mark menawarkan suatu ideologi sosialis dari kemewahan panggung akademisi melalui buku Das Kapital. Dia membuat suatu cabangan dari suatu dahan materialisme umum kepada Materialisme Dialektika. Ranah daratan planet ideologi ini terkait erat dengan kebangsaan, kenegaraan, pemerintahan dan cara pandang hidup bangsa-bangsa di dunia.
Yang kelima adalah ketika rasionalitas berhadapan dengan apa yang harus dilakukan di lapangan. Bisa juga dikatakan bagaimana gagasan yang sudah terkonstruksi dalam ideologi diatas dapat diimplementasikan. Rasionalitas pada momentum seperti ini ditekan oleh dua pertanyaan teknis, yakni How do you do? dan What do you du? Bagaimana sesuatu itu bisa dikerjakan dan apa yang harus dikerjakan. Planet ini dinamakan planet gerakan. Disinilah tumbuh partai politik dan Ormas. Ilmu-ilmu terapan juga tumbuh di planet ini.
Terakhir rasionalitas berdiri di depan cermin berhadapan dengan bayangan dirinya yang disebut benak. Momen berhadapan ini melahirkan disiplin ilmu logika atau disebut juga mantiq. Bagaimana pola kerja rasionalitas dipahami pondasinya agar tata kelola isi kepala dapat dijalankan sebagaimana selayaknya dan semestinya. Jebolnya publik dunia oleh narasi Barat selama ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan kekosongan ilmu ini pada masyarakat dunia.
Manusia diperbudak dan dijadikan buruh terekploitasi karena terjebak oleh frame mainstream yang dikendali oleh mesin algoritma Barat. Bagaimana bisa dibenarkan Trump yang sama bisa jadi pendamai Gaza sekaligus pencetus perang pertama menyerang Iran. Pola operasi Standard Ganda Barat masih mendapat ruangnya untuk menghegemoni opini publik dunia, karena sepinya ilmu logika dipelajari, difahami dan diamalkan di masyarakat dunia.
Enam momentum perjumpaan rasionalitas berhadapan dengan enam entitas diatas, semuanya bukan untuk dibandingkan mana yang lebih penting. Semuanya penting. Dan inilah sesungguhnya enam pusaka sakti yang dimiliki bangsa Iran. Sehingga dia satu-satunya kekuatan yang berani menantang Amerika, disaat publik dunia terhipnotis oleh tipuannya. Bahwa Amerika super power padahal tidak. Amerika hari ini Amerika yang naif karena kesombongannya menjerumuskan dia jadi terhina.










