Esai : Abdul Munib
Ditengah kecamuk perang Republik Islam Iran melawan Israel-Amerika, nama pahlawan kecil Husein Fahmideh menjadi kegandungan anak-anak Iran. Semua anak-anak Bangsa Iran ingin seperti Fahmideh. Mati tak ditakuti. Hidup hina yang mereka takuti. Fenomena langka ini akan dianggap aneh oleh bangsa lain yang tak mengenal bangsa Iran.
Bagi yang mengikuti lama perjalanan bangsa ini, tentu tahu ini bersumber dari recolusi abadi Karbala dibawah bendera Imam Husein. Dan harapan yang amat kuat pada zuhurnya Imam Mahdi sang penebar keadilan dimuka bumi. Walhasil ketika negara Republik Islam Iran mrmbuka pendaftaran petang jihad melawan musuh Israel-Amerika semua mendaftar bahkan anak-anak yang mengidolakan sosok Fahmideh.
Dulu di episode tahun 1980-1988 di tengah kecamuk Perang Iran-Irak yang pecah pada September 1980, sejarah mencatat sebuah nama yang melampaui logika militer konvensional. Ia bukan seorang komandan veteran, melainkan seorang remaja berusia 13 tahun asal Qom bernama Mohammad Hossein Fahmideh. Kisahnya adalah perpaduan antara keberanian murni, keputusasaan di garis depan, dan pengorbanan yang kemudian mengubahnya menjadi ikon nasional Iran.
Kalau kita di Indonesia era perang kemerdekaan 1945-1949, ada entitas Tentara Pelajar. Tentang ini pernah dibuatlan film Temtara Pelajar yang dibintangi Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Iran memiliki kisah serupa pada sosok Fahmideh.
Alkisah ketika divisi lapis baja Irak mulai merangsek masuk ke Provinsi Khuzestan yang kaya minyak, seruan untuk mempertahankan tanah air bergema hingga ke gang-gang kota suci Qom. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Fahmideh meninggalkan rumah. Didorong oleh semangat patriotisme yang membara, ia menempuh perjalanan ke selatan menuju Khorramshahr, sebuah kota strategis yang saat itu menjadi titik paling berdarah dalam invasi tersebut.
Di sana, di tengah kepungan pasukan Irak, Fahmideh bergabung dengan Basij (pasukan sukarelawan). Ia bertempur bahu-membahu dengan tentara yang usianya jauh di atasnya, terlibat dalam pertempuran dari rumah ke rumah yang brutal, di mana ribuan nyawa melayang di kedua belah pihak.
Detik-Detik di Kanal Khorramshahr, puncak drama kepahlawanan Fahmideh terjadi saat pasukan Irak berhasil mendesak pertahanan Iran hingga ke sebuah kanal sempit. Situasi saat itu sangat kritis.
Banyak rekan seperjuangan Fahmideh yang telah gugur atau terluka parah. Mayat bergelimpangan di sisi kiri kanan. Persediaan senjata anti-tank, seperti roket RPG-7, telah habis. Sedangkan kolom tank Irak terus menderu maju merangsek siap melindas sisa-sisa pertahanan yang ada.
Melihat tank utama musuh semakin mendekat dan tidak ada senjata yang tersisa untuk menghentikannya, Fahmideh mengambil keputusan yang mengejutkan dunia. Ia mengambil sabuk granat dari jasad seorang prajurit yang gugur, melilitkannya ke tubuhnya, dan mencabut semua pin pengamannya. Dengan keberanian yang menentang maut, ia berteriak, “Labbayka Ya Imam Husein AS.” Sambil berlari dan melompat tepat ke bawah tank Irak yang sedang melaju.
Ledakan dahsyat pun mengguncang kanal tersebut. Fahmideh gugur seketika, namun hancurnya tank pemimpin itu menciptakan efek psikologis yang luar biasa. Pasukan Irak, yang mengira area tersebut telah dipasangi ranjau secara masif, segera menghentikan gerak maju mereka. Aksi satu anak ini berhasil menahan laju seluruh kolom tank musuh.
Warisan dan simbolisme pengorbanan Fahmideh segera disiarkan oleh radio nasional Iran dan menyentuh hati jutaan orang. Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Khomeini, memberikan penghormatan tertinggi dengan menyebut Fahmideh sebagai “Pemimpin Kami”. Beliau menyatakan bahwa hati kecil anak berusia 13 tahun itu jauh lebih berharga daripada ratusan lisan dan pena para cendekiawan.
Hingga hari ini, jejak Fahmideh tetap hidup dalam struktur sosial Iran: Tubuhnya telah tercabik belasan granat yang dipicunya, serpihannya bercampur debu gurun yang sulit diidentifikasi.Tapi Fahmideh hidup di hati bangsa Iran, terutama anak-anak dan generasi muda.
Namanya diabadikan pada jalan-jalan utama, rumah sakit, sekolah, hingga stadion olahraga. Tanggal kematiannya, 30 Oktober, diperingati setiap tahun sebagai “Hari Basij Pelajar”. Wajahnya muncul di perangko nasional, mural-mural kota, hingga desain tas sekolah anak-anak.
`Husein Fahmideh bukan sekadar martir dalam perang; ia adalah simbol abadi bagi rakyat Iran bahwa perlawanan terhadap penindasan tidak mengenal batas usia. Di bawah roda baja tank yang ia hancurkan, ia justru membangun pondasi semangat bagi generasinya yang akan datang.`
Kita akan menyakiskan kembali munculnya Fahmideh-Fahmideh baru dalam perang melawan AS dan Zionis. Iran sekarang sedang membuka pendaftaran Basij dan IRGC, Jutaan Fahmodeh kembali mendaftar. Jiwa-jiwa semsngat muda yang akan membakar dunia, mensucikannya kembali setelah selama ini dibelenggu oleh kejahatan. Semoga anak-anak kita bisa mendapat tetesan semangat Fahmideh.











