Oleh: Tabroni M. Cahya
Ketua Paguyuban Pasundan Papua Tengah
Korupsi bukan lagi sekadar persoalan hukum. Ia telah menjadi penyakit yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki jalan, meningkatkan layanan kesehatan, dan membantu masyarakat kecil, justru mengalir ke kantong segelintir orang yang rakus akan kekuasaan dan kekayaan.
Yang membuat rakyat kecewa bukan hanya besarnya angka korupsi, tetapi karena praktik itu seolah tidak pernah berhenti. Satu kasus terbongkar, muncul kasus lain. Satu pelaku ditangkap, muncul pelaku berikutnya. Rakyat pun bertanya, sampai kapan negara ini harus terus dirugikan oleh para pengkhianat amanah publik?
Di tengah kondisi tersebut, saya masih menyimpan harapan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Saya masih mengingat pernyataan beliau yang akan mengejar koruptor sampai ke Antartika sekalipun. Kalimat itu mengandung pesan tegas bahwa korupsi tidak boleh diberi ruang dan toleransi.
Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Tahun 2026 dapat menjadi momentum besar untuk memulai perang total melawan korupsi. Sebab korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Pancasila.
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang keadilan sosial jika uang rakyat terus dicuri? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab jika masih ada pejabat yang memperkaya diri di tengah kesulitan rakyat?
Rakyat tidak pernah lelah mendukung pemberantasan korupsi. Yang membuat mereka lelah adalah ketika hukum terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Kepercayaan publik hanya akan tumbuh jika hukum ditegakkan secara tegas, konsisten, dan tanpa pandang bulu.
Saya meyakini koruptor harus dihukum seberat-beratnya. Bukan hanya dipenjara, tetapi juga dimiskinkan. Harta hasil korupsi harus disita dan dikembalikan kepada negara untuk kepentingan rakyat.
Bayangkan jika aset hasil korupsi benar-benar berhasil dirampas. Berapa banyak sekolah yang bisa dibangun, rumah sakit yang diperbaiki, dan anak-anak yang mendapatkan pendidikan layak? Karena itu, penyitaan aset bukan sekadar hukuman, melainkan bentuk keadilan bagi masyarakat.
Banyak negara menunjukkan bahwa perang melawan korupsi bukan hal yang mustahil. Yang dapat dipelajari adalah keseriusan negara dalam menegakkan hukum akan menentukan masa depan bangsanya. Indonesia memiliki sistem hukumnya sendiri, namun semangat untuk bertindak tegas tidak boleh kalah dari negara mana pun.
Saat ini bangsa kita sedang menghadapi badai korupsi. Pertanyaannya bukan apakah korupsi itu ada, tetapi apakah kita memiliki keberanian untuk melawannya sampai tuntas. Korupsi memang tidak menular seperti virus, tetapi dampaknya menghancurkan kehidupan jutaan orang. Ketika anggaran pembangunan dicuri, masyarakat kehilangan kesempatan hidup lebih baik. Ketika dana pendidikan diselewengkan, masa depan generasi muda ikut dirampas.
Karena itu, perang melawan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Ini adalah perjuangan seluruh bangsa. Pemerintah harus tegas, aparat harus berani, lembaga pengawas harus bekerja maksimal, dan masyarakat harus terus mengawal agenda pemberantasan korupsi.
Saya masih meyakini apa yang pernah disampaikan Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa Pak Prabowo Subianto adalah sosok yang tulus kepada bangsa dan negara ini. Semoga Gus Dur senantiasa dirahmati Allah SWT.
Sebagai rakyat biasa, saya berharap harapan yang pernah disampaikan tokoh bangsa seperti Gus Dur dapat diwujudkan melalui keberanian membersihkan negeri ini dari praktik korupsi yang selama bertahun-tahun menghambat kemajuan bangsa.
Indonesia adalah negara besar, kaya sumber daya alam, budaya, dan potensi manusia. Tidak ada alasan bangsa sebesar ini terus tertinggal hanya karena korupsi. Yang dibutuhkan bukan sekadar pidato atau slogan, melainkan tindakan nyata yang dirasakan rakyat.
Waktunya koruptor digulung habis. Waktunya harta hasil korupsi dikembalikan kepada negara. Waktunya hukum berdiri tegak tanpa memandang jabatan, kedudukan, atau kekuasaan.
Jika perang melawan korupsi dilakukan dengan sungguh-sungguh, saya yakin rakyat akan berdiri di belakang pemerintah. Sebab perjuangan melawan korupsi bukan hanya untuk menghukum pelaku, tetapi untuk menyelamatkan masa depan Indonesia.
Semoga Presiden Prabowo Subianto senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam memimpin bangsa ini. Dan semoga Indonesia mampu membuktikan bahwa negara yang berpegang teguh pada nilai-nilai luhur tidak akan pernah kalah oleh korupsi.
Amin.









