Esai : Abdul Munib
Apa yang musti kita renungkan kembali di hari pendidikan ini. Terutama dihubungkan dengan hasilnya, yaitu sumber daya manusia Indonesia. Masih maraknya praktik korupsi oleh manusia Indonesia dari pejabat atas sampai bawah, ini menandakan perlunya menemukan kembali hakikat pendidikan. Mendefinisikan ulang pendidikan kita.
Yang berikutnya adalah daya tahan Bangsa Indonesia ditengah dunia yang sedang berubah, sejauh mana manusia Indonesia dapat adaptasi dan bertahan. Ini juga terkait pendidikan sebagai ruang waktu penggemblengan manusia Indonesia dalam persaingan antar bangsa.
Yang ketiga adalah pemahaman Bangsa Indonesia terhadap pandangan dunia Pancasila yang merupakan DNA kebangsaannya. Agar terpahami secara seksama dan membentuk karakter bangsa bermoral.
Berangkat dari tiga tolok ukur diatas, pendidikan kita perlu dievaluasi kembali. Dicari penyakit-penyakit di dalamnya. Didiagnosa untuk kemudian dicarikan resepnya yang ampuh. Agar ke depan hasilnya berupa sumber daya manusia secara jiwa dia memiliki kualifikasi moralitas yang integral. Dan secara sains dan teknologi juga tidak kalah oleh bangsa lain
Didik dan Ajar
Kita sering tertukar dalam memaknai dua kata di atas. Sebenarnya didik sasarannya untuk penggemblengan jiwa, yang verifikasi akhirnya pada sumber daya manusia Indonesia yang bermoralitas luhur. Sedangkan ajar sasarannya adalah transfer knowledge (pengetahuan).
Tapi kita terbolak balik. Praktik yang ada dalam pendidikan nasional kita kini seratus persen isinya pengajaran. Bukan pendidikan. Praktik menyimpang ini berdampak pada tikad tersedianya sumber daya manusia Indonesia yang jiwanya bermoral integral. Efeknya ketika diberi kekuasaan akan korup. Bahkan menteri agama saja bisa korup. Ini realitas yang miris.
Belajar Tentang dan Belajar Menjadi
Pendidikan nasional kita terlalu banyak Belajar Tentang. Isinya teori saja. Prakteknya tidak dihiraukan. Sedikit sekali Belajar Menjadi. Contohnya misalkan skill bengkel otomotif. Hampir 80 persen pelaku bengkel berasal dari hasil Belajar Menjadi, yaitu praktik langsung di bengkel yang ada. Hanya 20 persen saja dari hasil jurusan otomotif di SMK atau sarjana teknik mesin.
Pendidikan nasional kita dari TK sampai doktoral isinya hampir seratus persen belajar tentang. Infrastruktur Belajar Menjadi hanya sekedarnya di BLK atau perusahaan-perusahaan swasta yang sempit untuk menampung banyak siswa di sarana Belajar Menjadi.
Keadaan ini menimbulkan hasil sarjana banyak pengangguran. Pendidikan tidak menghasilkan sumber daya manusia yang siap survive mandiri di lapangan. Walhasil bangsa ini perlu memiliki infrastruktur yang luas untuk siswa Belajar Menjadi. Kekosongan ini diisi oleh pelbagai organisasi mahasiswa yang sesungguhnya itu rekrutmen indoktrinasi dan dogmatisasi yang mendangkalkan.
Taksonomi Bloom dan Pedagogi Pengajaran Barat
Kita mengenal empat tahapan anak tangga dalam pedagogi pengajaran Barat yang biasa dikenal Taksonomi Bloom. Dimulai dari tahapan Transfer Knowledge, Understanding, penerapan, analisa, evaluasi dan mencipta.
Taksonomi Bloom adalah kerangka kerja untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan ke dalam tiga domain utama: Kognitif (intelektual), Afektif (sikap), dan Psikomotorik (keterampilan fisik).
Direvisi oleh Anderson & Krathwohl, ranah kognitif kini terdiri dari 6 tingkat dari rendah ke tinggi: Mengingat, memahami, menerapkan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.Ada tiga Domain Utama Taksonomi Bloom.
Ranah Kognitif (Cognitive Domain): Berkaitan dengan kemampuan intelektual, mulai dari mengingat fakta hingga menciptakan gagasan baru.Ranah Afektif (Affective Domain): mencakup emosi, motivasi, sikap, minat, dan semangat. Ranah Psikomotorik (Psychomotoric Domain): Meliputi koordinasi jasmani, keterampilan motorik, dan kemampuan fisik.
Enam tingkat berpikir itu mulai dari. engingat (Remembering). Mengambil pengetahuan dari memori misal menyebutkan atau mendefinisikan. Kedua memahami (Understanding). Yaitu membangun makna dari informasi, misal menjelaskan atau merangkum). Ketiga menerapkan (Applying). Menggunakan prosedur dalam situasi baru, misal melaksanakan atau mengimplementasikan. Tiga tingkat ini dilaksanakan dalam pendidikan dasar dan menengah.
Yang ke empat menganalisis (Analyzing): Yaitu memecah materi menjadi bagian-bagian dan mencari hubungan, misal membandingkan, mengorganisasi. Kelima mengevaluasi (Evaluating): Yaitu membuat pertimbangan berdasarkan kriteria, misal mengkritik dan menilai. Terakhir mencipta (Creating). Yaitu menyatukan elemen untuk membentuk fungsi baru, misal merancang dan membangun.
Rasionalitas
Bagaimana rasionalitas berhadapan dengan Wahyu, Realitas, Materi, Pandangn Dunia, Gerakan dan Dirinya Sendiri yaitu benak ?
Simulasi pendek ini akan membantu Anda dalam menyederhanakan persoalan rumit yang kita hadapi seputar keagamaan, filosufi, sains, ideologi (pandangan dunia) gerakan dan pikiraan manusia.
Satu-satunya pembeda manusia dari binatang adalah adanya rasionalitas pada manusia. Untuk itu peran rasionaltas pada kehidupan manusia sangat lah sentral.
Kondisi umum manusia kebanyakan mereka mendiami planet Orang Awam. Hal ini membuat kemerdekaan berpikir sebagai kemewahan. Otak manusia lumpuh oleh doktren, dogma dan algoritma di tangan Si jahat yang akan membabat habis akal sehat.
Manusia mengalami kemiskinan bahasa dan saling berkomunikasi dibawah standar kekayaan bahasa unggas. Bahasa manusia modern di bawah teknologi digital menjadikan kortek dan kognisi sebagai medan perang persepsi, menjadi arus kuat mendirikan peradaban kebencian yang dibungkus oleh kemasan sakral : seperti agama, mazhab, HAM atau demokrasi. Tapi dibalik itu isinya kejahatan standar ganda. Lihat ulah Trump dan Nethanyahu pada genosida Gaza misalnya.
Selentur lidah tak bertulang dengan mudah sekali orang mengatakan Ini Kebenaran atau saya lah yang bersama kebenaran. Tapi untuk memahami kebenaran sangat licin sekaali jalannya. Ada seseorang keukeuh berpendirian pada tafsirnya atas kitab suci,. Ia berdiri tak bergeming pada pondasi teks (hermeneutik), – bahwa dirinya lah yang bersama kebenaran.
Rasionalitas berhadapan dengan teks kitab suci melahirkan sebuah daratan luas pemikiran yang kemudian disebut Teologia atau Ilmu Kalam. Bagaimana Tuhan sebagai kebenaran mutlak yang disepakati digambarkan dengan bantuan frasa-frasa ayat suci dan logika sehingga sedemikian rupa menumbuhkan perasaan yakin yang selanjutnya dinamakannya sebagai kepercayaan atau mungkin juga iman.
Perjumpaan rasionalitas berhadapan dengan teks kitab suci juga melahirkan senyawa atau tesis-tesis yang dihasilkan dari penangkapan beberapa pola yang dihasilkan, perspektif atau konsepsi yang disebut akidah. Planet pemikiran sepeti ini dihuni oleh para mutakalimin dan ahli hadist (teks). Para ustadz di layar televisi dan Medsos kebanyakan bercorak ini. Mereka mendudukan dirinya sebagai distributor kebenaran, untuk ia sampaikan kepada masyarakat awam yang menurutnya belum tersinari cahaya Teologia itu.
Kedua ketika rasionalisasi berhadapan dengan realitas. Inilah dunianya para filsus. Di daratan ini para filsuf membuat suatu pondasi kokoh dunianya, bahwa yang benar adalah yang nyata, – meski yang nyata atau real itu bisa dalam keadaan atau eksistensi fisik maupun eksistensi metafisiknya. Dan ditahap ini bahasa mengalami kegagapan dalam mengikat kilatan-kilatan makna.
Sehingga antara satu kata bisa berkelindan dengan kata yang lain. Ketika realitas itu juga dalam makna yang lainnya adalah eksistensi. Dan esensi (Dzat) Tuhan adalah realitasnya. Maka yang ada hanya cahaya yang memenuhi luar pintu gua. Seperti digambarkan pada Alegori Gua oleh Plato.
Bahwa dunia fisik itu hanya bayangan di layar dinding gua bagi kita manusia di dalam gua. Namun bagi yang mau keluar dari pintu gua, dia akan menyaksikan luasnya hamparan kesatuan metafisika yang merupakan hakikat, asal, awal dan tujuan kembali para makhluk pulang.
Di Indonesia pelanet pemikiran seperti ini diperankan dengan sangat luar biasa oleh Rocky Gerung. Seandainya saja dia mau lebih dalam menyelam ke dasar Wujud Alkhariji dalam pemikiran Hikmat Mutaaliyat filsuf Mulla Sadra, tentu kemerdekaan akal sehat bagi bangsa Indonesia akan dapat terwujud dengan baik. Jangan hanya terdampar di jalan buntu kritisisme.
Yang ketiga adalah ketika rasionalitas berhadapan dengan materi atau fisika. Inilah Planet Sains. Perjalanan peradaban manusia yang tadinya sekedar makhluk bipedal yang jalan diatas dua kaki dengan tumit, dapat terbang lebih kuat dari bangsa unggas saat Wright Bersaudara menemukan teknologi pesawat terbang dalam bentuknya yang masih sederhana di tahun 1903.
Perjalanan sains dalam peradaban manusia adalah hasil dari pertemuan rasionalitas dengan materi atau fisik. Para ilmuan sains terus membedah rahasia alam setiap jamannya, terus melahirkan teknologi di segala bidamg. Sains dan teknologi dibutuhkan manusia sebagai alat survive mereka dalam menjalani kebutuhan kehidupan dunianya.
Pola keteraturan alam yang dapat disimpulkan oleh ilmuan sains, terus menguak rahasia terpendam dari alam yang tampak acak. Para ilmuwan lalu melahirkan rumus-rumus atau hukum fisika. Planet Sains ini sering dilebih-lebihkan bahkan diberhalakan oleh masyarakat Barat.
Yang ke empat adalah moment disaat rasionalitas berhadapan dengan nilai yang hidup dan disepakati di tengah sebuah masyarakat. Ini yang disebut pandangan dunia atau ideologi. Ini adalah sebuah pelanet yang diisi oleh para ideolog. Misalnya bangsa Indonesia punya pandangan dunia yang disepakati adalah Pancasila.
Karl Mark menawarkan suatu ideologi sosialis dari kemewahan panggung akademisi melalui buku Das Kapital. Dia membuat suatu cabangan dari suatu dahan materialisme umum kepada Materialisme Dialektika. Ranah daratan planet ideologi ini terkait erat dengan kebangsaan, kenegaraan, pemerintahan dan cara pandang hidup bangsa-bangsa di dunia.
Yang kelima adalah ketika rasionalitas berhadapan dengan apa yang harus dilakukan di lapangan. Bisa juga dikatakan bagaimana gagasan yang sudah terkonstruksi dalam ideologi diatas dapat diimplementasikan. Rasionalitas pada momentum seperti ini ditekan oleh dua pertanyaan teknis, yakni How do you do? dan What do you du? Bagaimana sesuatu itu bisa dikerjakan dan apa yang harus dikerjakan. Planet ini dinamakan planet gerakan. Disinilah tumbuh partai politik dan Ormas. Ilmu-ilmu terapan juga tumbuh di planet ini.
Terakhir rasionalitas berdiri di depan cermin berhadapan dengan bayangan dirinya yang disebut benak. Momen berhadapan ini melahirkan disiplin ilmu logika atau disebut juga mantiq. Bagaimana pola kerja rasionalitas dipahami pondasinya agar tata kelola isi kepala dapat dijalankan sebagaimana selayaknya dan semestinya.
Jebolnya publik dunia oleh narasi Barat selama ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan kekosongan ilmu ini pada masyarakat dunia. Manusia diperbudak dan dijadikan buruh terekploitasi karena terjebak oleh frame mainstream yang dikendali oleh mesin algoritma Barat. Bagaimana bisa dibenarkan Trump yang sama bisa jadi pendamai Gaza sekaligus pencetus perang pertama menyerang Iran. Pola operasi Standard Ganda Barat masih mendapat ruangnya untuk menghegemoni opini publik dunia, karena sepinya ilmu logika dipelajari, difahami dan diamalkan di masyarakat dunia.
Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Semoga hasil perenungan catatan diatas menjadi bahan bagi menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang berkarakter, bermoral dan menguasai sains teknologi seperti bangsa lain.









