Oleh : NUKU ARDIANSAH M.S
(Pemerhati Kemanusiaan)
Ada satu kenyataan yang sering luput ketika kabar penembakan dan baku tembak di Papua memenuhi ruang berita. Perhatian publik biasanya tertuju pada siapa pelakunya, siapa korbannya, atau bagaimana operasi keamanan akan dijalankan setelahnya. Padahal, ada kelompok lain yang justru menanggung beban paling berat. Mereka adalah masyarakat Papua di pedalaman yang tidak pernah memegang senjata, tetapi harus menanggung akibat dari setiap konflik yang terjadi.
Penembakan pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, serta pembakaran pesawat PT Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Balinggama, Yahukimo, bukan sekadar peristiwa kriminal atau aksi bersenjata biasa. Peristiwa ini menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat pegunungan yang selama puluhan tahun bergantung pada transportasi udara.
Bagi orang yang tinggal di kota, kehilangan satu pesawat mungkin hanya dianggap kerugian perusahaan penerbangan. Pesawat bisa diganti, armada bisa ditambah, dan jadwal penerbangan dapat disusun ulang. Namun, logika itu tidak berlaku di banyak wilayah pegunungan Papua.
Di daerah seperti Sobaham dan kampung-kampung sekitarnya, pesawat bukan hanya alat transportasi. Pesawat adalah jalan raya. Pesawat adalah truk pengangkut sembako. Pesawat adalah ambulans. Bahkan dalam banyak keadaan, pesawat menjadi satu-satunya penghubung masyarakat dengan dunia luar.
Bayangkan jika sebuah desa hanya memiliki satu akses keluar-masuk melalui udara. Ketika penerbangan berhenti karena alasan keamanan, bukan hanya penumpang yang gagal berangkat. Obat-obatan ikut tertahan. Guru tidak bisa datang. Tenaga kesehatan kesulitan menjangkau masyarakat. Persediaan beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya mulai menipis. Dampaknya langsung terasa di meja makan warga.
Ironisnya, masyarakat yang paling merasakan penderitaan justru bukan pihak yang sedang berkonflik.
Aksi pembakaran pesawat kemanusiaan sesungguhnya tidak hanya menghancurkan sebuah aset bernilai miliaran rupiah. Yang ikut terbakar adalah harapan masyarakat agar kehidupan mereka tetap berjalan normal. Mereka kehilangan akses terhadap pelayanan dasar yang selama ini sudah sangat terbatas.
Inilah yang membuat insiden Yahukimo memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar angka korban atau kerugian materiil.
Di sisi lain, negara tentu tidak memiliki banyak pilihan selain memperketat pengamanan. Setelah insiden seperti ini, sangat sulit membayangkan lapangan terbang perintis tetap beroperasi tanpa perlindungan yang lebih kuat. Aparat keamanan akan menambah personel, memperluas patroli, hingga meningkatkan pengamanan di berbagai lapangan terbang kecil yang sebelumnya relatif terbuka.
Langkah tersebut dapat dipahami. Tidak ada pemerintah di dunia yang akan membiarkan serangan terhadap fasilitas sipil terjadi tanpa respons.
Namun, pengamanan yang semakin ketat juga membawa konsekuensi tersendiri. Wilayah pedalaman akan semakin dipenuhi operasi keamanan. Sumber daya negara yang seharusnya bisa difokuskan untuk pembangunan akhirnya ikut tersedot untuk menjaga jalur distribusi logistik agar tetap berjalan.
Konflik pun memasuki lingkaran yang sulit diputus.
Yang juga patut dicermati adalah berubahnya pola sasaran dalam konflik Papua. Jika beberapa tahun lalu perhatian dunia tertuju pada penyanderaan pilot Selandia Baru, kini seorang warga negara Amerika Serikat menjadi korban meninggal dunia. Perubahan sasaran seperti ini tentu bukan tanpa makna.
Ketika korban berasal dari luar negeri, perhatian internasional otomatis meningkat. Pemerintah negara asal korban akan meminta penjelasan. Kedutaan besar akan memperbarui peringatan perjalanan bagi warganya. Media internasional kembali menyoroti Papua. Isu keamanan, hak asasi manusia, dan stabilitas kawasan kembali menjadi pembahasan di berbagai forum.
Apakah kondisi ini menguntungkan masyarakat Papua?
Jawabannya layak dipertanyakan.
Sorotan internasional memang bisa meningkat, tetapi yang lebih dulu merasakan dampaknya tetap warga di kampung-kampung. Mereka kembali menghadapi ketidakpastian. Aktivitas ekonomi melambat. Pelayanan publik terganggu. Harga barang kebutuhan pokok bisa melonjak karena distribusi menjadi semakin sulit.
Ada satu sektor yang mungkin tidak banyak dibicarakan, tetapi memiliki arti sangat besar bagi Papua, yaitu penerbangan perintis.
Selama ini banyak pilot, baik warga Indonesia maupun asing, bersedia terbang ke daerah-daerah dengan medan yang bahkan dianggap ekstrem oleh standar dunia. Mereka mendarat di landasan pendek, cuaca yang berubah cepat, dan wilayah yang hanya memiliki sedikit fasilitas.
Kini risiko mereka bertambah. Ancamannya bukan lagi sekadar cuaca buruk atau medan pegunungan, tetapi juga keselamatan akibat aksi kekerasan.
Bukan tidak mungkin perusahaan penerbangan akan mengevaluasi operasinya. Biaya asuransi meningkat. Pilot berpikir ulang sebelum bertugas. Jumlah penerbangan bisa berkurang. Jika itu terjadi, masyarakat Papua sekali lagi menjadi pihak yang paling dirugikan.
Padahal, selama bertahun-tahun pemerintah berupaya membuka keterisolasian Papua melalui pembangunan bandara perintis, subsidi angkutan udara, hingga program distribusi logistik. Semua itu membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang. Sangat disayangkan jika upaya tersebut terhambat oleh aksi kekerasan yang justru mempersempit ruang hidup masyarakat sendiri.
Konflik memang memiliki banyak dimensi. Ada dimensi politik, keamanan, sejarah, bahkan diplomasi. Namun di balik semua itu ada kenyataan sederhana yang sering terlupakan. Setiap kali pesawat perintis berhenti terbang, setiap kali tenaga kesehatan batal datang, setiap kali pasokan pangan tertunda, masyarakat sipil adalah pihak yang pertama merasakan akibatnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan siapa pun dalam konflik Papua seharusnya bukan dihitung dari banyaknya senjata yang dikuasai atau kerasnya pernyataan politik yang disampaikan. Ukurannya jauh lebih sederhana: apakah masyarakat bisa hidup lebih aman, anak-anak tetap bersekolah, pasien memperoleh obat, dan kebutuhan pokok tetap tersedia.
Sebab ketika sebuah pesawat kemanusiaan dibakar, yang sebenarnya kehilangan bukan hanya perusahaan penerbangan atau negara. Yang paling kehilangan adalah warga Papua sendiri. Mereka kehilangan akses terhadap kehidupan yang lebih layak. Dan kehilangan seperti itu sering kali jauh lebih sulit dipulihkan dibanding mengganti sebuah pesawat yang hangus terbakar.











