Oleh : Karmin Lasuliha
(Pendiri Yayasan Bina Generasi Papua)
Saya sering membayangkan memimpin Papua itu seperti mencoba merangkai pecahan kaca yang berserakan. Rumit, tajam, dan kalau tidak hati-hati, tangan kita sendiri yang berdarah. Namun, belakangan ini, saya memperhatikan langkah Matius Derek Fakhiri atau Kaka MDF yang berbeda. Ia tidak sibuk memoles fasad bangunan di ibu kota, melainkan sibuk memastikan bahwa ekonomi, pelan tapi pasti, mulai berdenyut sampai ke pelosok kampung.
Kaka MDF paham betul bahwa “Papua Cerah” bukan kalimat manis yang dicetak di spanduk saja. Itu adalah pekerjaan rumah yang tentunya melelahkan. Lihatlah apa yang ia lakukan di Keerom. Saat meletakkan batu pertama pabrik pakan, ia sedang membangun mimpi tentang ribuan ton pakan yang di hasilkan dari tanah sendiri untuk mendukung peternak dan nelayan kita. Di sana, saat panen raya jagung, ia menegaskan bahwa pertanian adalah tulang punggung. Papua, bagi MDF, tidak boleh cuma jadi konsumen; kita harus mandiri, bahkan bisa berkontribusi bagi pangan nasional.
Tapi MDF tidak berhenti di Keerom. Ia terjun langsung ke Sarmi, membicarakan kopra dan minyak kelapa, memaksa roda ekonomi masyarakat kembali berputar. Di Mamberamo Raya, ia tidak memberi janji kosong. Saat melihat akses jalan yang terputus di Trimuris, ia tegas berkata, “Mulai perubahan anggaran ini, kita taruh uang untuk dikerjakan.” Ia tahu, tanpa jalan, ekonomi cuma cerita pengantar tidur.
Kita sama tahu, saat kunjungannya ke waropen dengan dusuk bersama pemangku adat Demisa, Burate, dan Didat. Di sana, ia kembali mengingatkan hal yang paling mendasar, masyarakat lokal harus jadi tuan di tanahnya sendiri. Ia ingin anak-anak muda kita punya masa depan yang tidak harus digadaikan ke perusahaan besar yang sering abai.
Di Yapen, pendekatannya sama. Ia tidak mau datang untuk menerima laporan manis. “Kami mau bekerja,” katanya. Ia membawa cetak sawah baru dan pengembangan sektor perikanan rakyat. Ia ingin pertumbuhan ekonomi itu tidak terjebak di gedung kantor pemerintah, tapi merembes sampai ke dapur di kampung.
Bahkan di Supiori, saat meninjau program Makan Bergizi Gratis, ia tidak melihatnya sebagai proyek bagi-bagi makanan, melainkan kesempatan bagi petani dan nelayan lokal untuk menjadi penyedia bahan pangan. Ini adalah rantai bisnis yang cerdas. Sama halnya di Biak, ketika ia meletakkan batu pertama Koperasi Merah Putih di Kampung Warsansan. Ia memberi pesan tajam pada masyarakat, “Tanamlah kelapa, pisang, mangga, jambu. Koperasi ini yang akan menampung.”
Ada sesuatu yang jujur dari cara MDF bekerja. Ia seperti orang yang sedang memastikan bahwa kalau masyarakat menanam dan memanen hasil, hasilnya tidak hilang dicuri tengkulak atau habis dimakan perantara. Ia sedang membangun mata rantai. Ia sedang membangun peradaban dari hal-hal yang nyata, pakan ternak, jalan desa, koperasi kampung, dan bibit tanaman.
Saya percaya, memimpin Papua adalah tentang kesabaran. Kaka MDF sedang memastikan bahwa di setiap kampung, ada kegiatan ekonomi yang berjalan. Bahwa di setiap meja makan keluarga, ada harapan yang bisa dimakan.
Tentu saja, semua rencana ini akan diuji oleh waktu dan realitas birokrasi kita yang sering malas. Namun, melihat Kaka MDF yang terus berkeliling, memastikan akses jalan tersambung, dan mendorong masyarakat untuk tidak menggantungkan nasib, saya rasa kita memang butuh seseorang yang mengerti bahwa membangun Papua bukan soal seberapa tinggi gedung yang dibangun, tapi seberapa jauh ekonomi itu bisa bergulir dan bermanfaat untuk masyarakat kecil.










