Jayapura — Lapbiru.com
Turnamen Domino Cendrawasih Cup Papua 2026 yang digelar Persatuan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Papua diwarnai sedikit insiden protes.
Sejumlah gardu memilih mundur di tengah kompetisi. Peserta membludak, panitia kewalahan, jadwal molor, dan data peserta dinilai bermasalah.
Kejuaraan yang berlangsung di Papua itu diikuti 1.216 peserta. Jumlah besar tersebut tak sebanding dengan kesiapan panitia.
Sejak hari pertama, pertandingan berjalan tersendat. Waktu molor, antrean panjang, dan perubahan data peserta memicu kekecewaan.
Gardu Cendrawasih Kartini, salah satu gardu, menyatakan mundur karena merasa tidak nyaman.
“Kami dari Gardu Cendrawasih Kartini memutuskan mundur. Tidak ada maksud lain, hanya karena rasa ketidaknyamanan. Banyak teman merasa dirugikan, termasuk kami. Ade saya sudah lolos 125 besar, tapi tetap kami merasa dirugikan,” ujarnya.
Keluhan juga datang dari Gardu BB. Mereka menyoroti kinerja panitia, wasit, dan pengelolaan waktu.
“Setelah kami amati dan bermain selama turnamen, masih banyak kelemahan mendasar. Masalah waktu, kinerja IP dan wasit. Itu yang paling terasa,” kata perwakilan Gardu BB.
Ia juga menyinggung kondisi arena pertandingan yang dinilai tidak tertib.
“Masih ada yang merokok di dalam arena, makan pinang, bahkan ada yang bawa botol minuman. Intinya kami sangat kecewa, kecewa berat dengan kinerja panitia turnamen Cendrawasih Cup,” tegasnya.
Masalah lain muncul dari sisi administrasi. BIP Domino Club menilai data peserta simpang siur.
“Panitia bilang pakai admin dari pusat. Tapi di lapangan, data bisa rancu. Ada pemain yang sudah WO, tiba-tiba namanya muncul lagi. Kesalahan input sangat mungkin terjadi,” ujar perwakilan klub tersebut.
Hingga turnamen berjalan, panitia belum memberikan penjelasan resmi terkait mundurnya sejumlah gardu dan kekacauan data.











