Mathius D. Fakhiri: Polisi Papua yang Merawat Tanah Kelahiran dengan Ketegasan dan Kasih

banner 468x60

Jayapura – Di sebuah kampung kecil di Ransiki, Manokwari Selatan, tahun 1968, lahirlah seorang bayi laki-laki dari keluarga sederhana ayah seorang polisi, ibu seorang perawat. Tak ada yang menyangka, anak ketiga dari keluarga Aywu-Kabarue ini kelak menjadi figur penting yang dipercaya menjaga keamanan dan harapan Papua: Irjen Pol. Mathius Derek Fakhiri.

Sejak 18 Februari 2021, Fakhiri diangkat sebagai Kapolda Papua. Ia menjadi simbol penting, bukan hanya karena posisi strategisnya, tetapi juga karena ia mewakili sesuatu yang jarang: kepercayaan negara kepada putra daerah, dan kepercayaan rakyat kepada aparat penegak hukum.
Meniti Jalan dari Kampung ke Komando
Masa kecil Mathius diwarnai kehidupan berpindah-pindah mengikuti penugasan sang ayah. Dari Boven Digoel, Kepi, Merauke, Jayapura, hingga Wamena semua ia lewati. Namun dari perjalanan itu pula, ia menyerap keragaman, memahami luka sosial, dan menanamkan empati yang kelak membentuk cara pandangnya sebagai aparat.
Pendidikan dasarnya diselesaikan di SD YPK Merauke, lalu melanjutkan ke SMP YPPK Teruna Mulia Arso dan SMP YPPK St. Thomas Wamena. Pendidikan menengah ia rampungkan di SMA Negeri 2 Jayapura, sebelum akhirnya lolos menjadi taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1990.
Karier awalnya dijalani di Kalimantan bersama satuan Brimob, pasukan elit Polri. Ia memimpin sejumlah kesatuan di Palangka Raya, Banjarmasin, hingga kembali ke Papua. Tradisi komando yang keras membentuk ketegasannya, tetapi tidak menghilangkan sisi manusiawinya. Fakhiri dikenal sebagai pemimpin yang mengayomi, bukan sekadar memerintah.
Menjaga Papua dengan Empati
Situasi Papua saat ia menjabat Kapolda sangat kompleks: aksi kelompok bersenjata meningkat, ketegangan politik dan sentimen anti-NKRI kian menyebar. Tapi Fakhiri hadir tidak dengan pendekatan militeristik semata. Ia justru memperkenalkan narasi “keamanan berbasis kepercayaan.”.
Dalam berbagai operasi, ia lebih memilih pendekatan lunak menguatkan komunikasi komunitas, berdialog dengan pemuka adat, menghadiri kegiatan keagamaan, dan menyapa warga dalam bahasa ibu mereka. Bagi Fakhiri, stabilitas Papua tidak bisa dicapai dengan peluru, tetapi dengan dialog dan rasa saling percaya.
Pendekatan ini berbeda dari wajah keamanan yang biasanya tampil keras. Fakhiri mengerti: Papua tidak bisa didekati seperti wilayah lain ia harus dirangkul, bukan ditekan.
Tidak Melupakan Asal-Usul
Meski kini berpangkat tinggi dan punya pengaruh luas, Mathius Fakhiri tidak pernah melupakan asal-usulnya. Istrinya, Rafatul Mukliyyah, dan ketiga anak mereka tetap menjadi jangkar nilai dan kehidupan. Ia tetap hadir dalam kegiatan-kegiatan sosial, dari kunjungan ke sekolah hingga pertemuan adat.
Ia menerima banyak penghargaan, seperti Bintang Bhayangkara Nararya dan Satyalancana Pengabdian 24 Tahun. Namun baginya, yang lebih penting adalah kepercayaan rakyat dan cinta terhadap tanah Papua.
Suara Adat: MDF adalah Buah dari Pohon Baik
Tak sedikit tokoh adat dan masyarakat yang menilai Fakhiri sebagai figur pemimpin masa depan. Salah satunya, Ramses Wally SH Yo, Ondofolo Babrongko, menyebut bahwa “Setiap pohon dikenal dari buahnya.” Dan Fakhiri, menurutnya, adalah buah yang baik dari silsilah keluarga yang juga melayani rakyat.
 “Figur MDF tidak diragukan. Dari sisi adat, leluhurnya adalah keturunan panglima perang di daerah Badde-Animha,” ujar Ramses.
Ia juga mengungkap kisah bagaimana hubungan keluarga Fakhiri telah menyatu dalam adat Sentani sejak lama. Ketika ayah Fakhiri menikah dengan ibunya, Abner Mokay atasan sang ayah dan tokoh penting di Sentani turun tangan langsung sebagai wakil keluarga besar. Dari relasi itu, masyarakat Sentani menganggap Fakhiri sebagai bagian dari mereka.
 “MDF adalah bagian dari orang Sentani,” lanjut Ramses, “dan jika ia menjadi Gubernur Papua periode 2025–2030, masyarakat Tabi dan Saireri tidak perlu ragu.”
Menurutnya, latar belakang orangtua Fakhiri seorang polisi dan perawat adalah wujud nyata keluarga yang melayani sesama. “Karena manusia adalah pelaku, penikmat, dan juga perusak pembangunan. Maka tujuan pembangunan harus untuk manusia,” tegasnya.
Menuju Papua Cerah, Mandiri, Sejahtera, dan Harmoni
Kini, menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub  6 Agustus Papua 2025, nama Mathius D. Fakhiri (MDF) tak lagi hanya menjadi diskusi tokoh, tetapi juga pilihan politik. Ia resmi mengikuti kontestasi pemilihan Gubernur Papua, membawa visi besar Papua Cerah, Mandiri, Sejahtera, dan Harmoni.
Visi ini bukan sekadar jargon, tetapi cermin dari seluruh rekam jejak pengabdiannya. “Cerah” adalah soal transparansi dan keterbukaan pemerintahan; “Mandiri” berarti membangun Papua dari potensi lokal; “Sejahtera” menyasar pada keadilan ekonomi dan “Harmoni” menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
Bagi Fakhiri, jabatan adalah alat, bukan tujuan. Ia percaya bahwa masa depan Papua harus dibangun bukan hanya dengan kekuasaan, tapi dengan keberanian untuk berubah.
Lebih dari Polisi
Dalam lanskap Papua yang kerap diwarnai ketegangan, ketidakpercayaan, dan luka lama, sosok Mathius D. Fakhiri hadir membawa semangat baru. Ia membuktikan bahwa keamanan bisa hadir tanpa kekerasan, dan bahwa anak Papua bisa mencintai Indonesia tanpa kehilangan jati diri.
Jika benar ia dipercaya memimpin Papua pada 2025, maka masyarakat tidak hanya memilih mantan Kapolda tetapi memilih putra daerah yang dibentuk oleh disiplin, diasah oleh empati, dan dituntun oleh akar budaya yang kuat.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *