Pemilihan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua yang dijadwalkan pada 6 Agustus 2025 mendatang, kini memasuki fase paling sensitif. Aroma politik identitas menguar pekat, terutama di wilayah adat Tabi-Saireri. Kubu Benhur Tommy Mano dan Constan Karma (BTM–CK) yang awalnya hendak membangun narasi kesatuan lintas etnis dan wilayah, kini justru menghadapi keretakan identitas yang kian sulit diperbaiki.
Patahnya jembatan identitas Tabi–Saireri paling nyata terlihat sejak Mahkamah Konstitusi memutuskan mendiskualifikasi Yeremias Bisai (YB) dari pencalonan sebagai wakil gubernur yang mendampingi BTM. Putusan MK ini tidak hanya menggugurkan satu pasangan, tetapi sekaligus mencabut simpul penting dari narasi persatuan dua wilayah adat Tabi dan Saireri.
Yeremias bukan sekadar calon wakil gubernur. Ia adalah tokoh kunci dari Saireri wilayah yang mencakup Biak, Yapen, dan Waropen yang memberi legitimasi etnis bagi BTM dalam membangun klaim sebagai calon pemimpin Papua yang menyatukan dua blok besar Tabi dan Saireri. Kehilangan YB berarti kehilangan akar representasi di Saireri. Dan dalam politik Papua hari ini, identitas bukan sekadar simbol ia adalah legitimasi politik.
BTM, yang berasal dari Port Numbay (Kota Jayapura), kini mencoba tetap mempertahankan narasi Tabi–Saireri, meskipun pasangan barunya, Constan Karma, juga berasal dari Saireri. Namun, penerimaan terhadap CK tak sekuat YB. Karma dianggap bagian dari jaringan lama birokrasi Papua, lambat bergerak, dan tidak lagi menggairahkan kalangan pemilih muda.
Narasi ini makin bermasalah karena posisi Port Numbay sendiri dalam lanskap etnografis Papua kian terdesak. Beberapa kajian antropolog dari Universitas Cenderawasih bahkan menyebut masyarakat adat Port Numbay sebagai komunitas yang kian terpinggirkan di tengah urbanisasi dan masuknya pendatang dari luar Papua. Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang secara administratif berada di wilayah adat Tabi—kini didominasi oleh kelompok non-Papua, seperti Bugis, Makassar, Jawa, Sumatra, Maluku, dan Maluku Utara.
Dalam realitas ini, klaim BTM sebagai representasi Tabi pun tak sepenuhnya kuat. Ia memang anak Tabi, namun di tengah populasi yang kian heterogen, representasi etnik menjadi lebih kompleks.
Sementara itu, wilayah Saireri menunjukkan tanda-tanda patah arus. Kampanye di Biak, misalnya, berlangsung datar. Dua figur dari Biak bertarung di gelanggang yang sama Aryoko Rumaropen bersama MDF–AR, dan Constan Karma bersama BTM–CK. Tapi alih-alih menjadi medan magnet suara, keduanya justru saling menetralkan.
“Dua anak Biak maju, tapi Biak tetap sunyi,” kata seorang aktivis muda dari Yapen dalam percakapan dengan Laporan Langit Biru.
Kehilangan YB berarti hilangnya figur pengikat yang bisa menjembatani kepentingan antara elite politik dan masyarakat lokal di Saireri. Tanpa tokoh kepercayaan yang berakar, narasi politik identitas mudah goyah. Bahkan, di Yapen dan Waropen, basis lama YB menunjukkan sinyal membelot ke kubu MDF–AR.
Ini pula yang menjelaskan kepanikan kubu BTM–CK belakangan. Dalam sejumlah kampanye, nada yang ditunjukkan cenderung emosional, bahkan diskriminatif. Paling mencolok adalah ketika BTM berkampanye di Genyem, Kabupaten Jayapura.
“Saya anak Tabi! Kalau ada babi hutan masuk, tombak dia! Bunuh dia!” serunya di hadapan massa.
Pernyataan ini dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu polemik. Sebab, istilah “babi hutan” yang digunakan secara metaforis oleh BTM merujuk pada kelompok di luar wilayah adat Tabi baik sesama orang Papua dari wilayah lain, maupun pendatang non-Papua. Tuduhan bahwa narasi itu mengandung ujaran kebencian tidak terhindarkan.
Seorang Politisi Muda Demokrat asal Tabi , Frangklin Wahey menyebut pidato itu sebagai tanda kegagalan narasi identitas inklusif yang sebelumnya coba dibangun kubu BTM.
“Ketika seorang calon gubernur menyebut kelompok lain sebagai ‘babi hutan’, itu bukan hanya kampanye negatif. Itu penghinaan atas keberagaman Papua hari ini,” ujarnya Wahey
Situasi kian pelik karena Saireri tidak tampil solid. Biak, alih-alih menjadi mesin suara, justru terpecah. Kampanye MDF–AR di wilayah ini cenderung diam-diam namun efektif, memanfaatkan jejaring sosial dan basis keagamaan. Aryoko Rumaropen sendiri adalah tokoh yang mewakili generasi muda yang cukup diterima di Waropen dan Serui. Ia dianggap sebagai representasi orang netral yang bersih dan lugas.
Sementara Constan Karma, meski memiliki pengalaman birokrasi panjang, tidak menawarkan harapan baru. Narasi perubahan yang dibawa BTM pun seperti kehilangan nyawa ketika tak didukung figur yang membumi di Saireri. Beberapa jaringan relawan YB di Serui bahkan terang-terangan mengalihkan dukungan ke MDF–AR.
“Kalau dulu kami bertahan karena ada Pak YB, sekarang tidak ada alasan lagi,” ujar seorang mantan tim YB di Waropen.
Tabi sebagai wilayah adat yang mencakup Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Mamberamo Raya, juga menunjukkan gejala fragmentasi. Kabupaten Jayapura misalnya, mulai menunjukkan perlawanan simbolik terhadap narasi eksklusif BTM, sebuah pesan bahwa MDF pun memiliki legitimasi di wilayah tersebut.
Di Keerom dan Sarmi, dukungan terhadap BTM juga tidak semasif sebelumnya. MDF–AR mulai diterima sebagai alternatif, terutama di kalangan pemilih muda dan kelompok gereja.
Kebijakan MDF–AR yang menekankan pembangunan berbasis wilayah adat, distribusi sumber daya yang merata, dan jaminan keberlanjutan hak ulayat dianggap lebih membumi dibanding retorika kosong soal “Tabi–Saireri bersatu”.
Narasi besar BTM–CK tentang menyatukan Tabi–Saireri kini tampak sebagai mimpi yang gagal diwujudkan. Bukan hanya karena kehilangan figur kunci seperti YB, tetapi karena pendekatan identitas yang mereka gunakan terlalu sempit bahkan ofensif.
Politik identitas memang selalu rumit di Papua. Ia bisa menjadi jembatan, tetapi bisa juga menjadi jurang pemisah yang dalam. BTM mungkin mengira bahwa dengan mengangkat simbol kultural Tabi, ia bisa memperluas legitimasi ke Saireri. Tapi realitas sosial Papua tak sesederhana itu.
Papua adalah mosaik yang bergerak, bukan entitas yang bisa dijinakkan dengan satu slogan etnik. Dalam kontestasi ini, siapa yang bisa bicara lintas wilayah, lintas agama, dan lintas generasi itulah yang akan memenangkan suara rakyat.
Dan hingga hari ini, tampaknya narasi itu lebih dekat berada di tangan MDF–AR ketimbang BTM–CK.










