JAYAPURA – Lapbiru.com
Safari Ramadan yang dilakukan Gubernur Papua Matius D. Fakhiri di sejumlah wilayah Papua tidak sekadar agenda seremonial. Dalam beberapa hari terakhir, kegiatan yang digelar di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom itu berubah menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat.
Selama safari tersebut, Gubernur bersama jajaran pemerintah daerah mengunjungi sejumlah masjid, berbuka puasa bersama, lalu berdialog dengan jamaah.
Warga diberi kesempatan menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka rasakan, mulai dari kondisi jalan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga bantuan ekonomi.
Juru Bicara Gubernur Papua Muhammad Rifai Darus, yang ikut mendampingi kegiatan itu, mengatakan dialog seperti ini sengaja dibuka agar masyarakat bisa berbicara langsung dengan pemerintah.
“Banyak orang melihat safari Ramadan ini hanya kegiatan berbuka bersama dan salat berjamaah. Padahal dari dekat terlihat, ini menjadi ruang mendengar rakyat,” ujar Rifai dalam keterangannya.
Menurut dia, setiap kunjungan tidak hanya dihadiri gubernur. Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) teknis juga ikut hadir agar keluhan warga bisa langsung dicatat dan ditindaklanjuti.
Ketika warga menyinggung kondisi jalan, dinas terkait langsung mencatat. Begitu pula saat muncul persoalan pendidikan atau layanan kesehatan.
“Jadi bukan sekadar mendengar. Pejabat yang bertanggung jawab juga ada di tempat untuk menindaklanjuti,” katanya.
Pendekatan ini membuat masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam setiap pertemuan, Gubernur juga menjelaskan berbagai program pembangunan yang sedang berjalan di Papua. Termasuk kerja sama antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan di wilayah tersebut.
Menurut Rifai, keterbukaan seperti ini penting agar masyarakat mengetahui arah pembangunan daerahnya.
“Pembangunan tidak boleh hanya berhenti di meja birokrasi. Masyarakat juga harus tahu ke mana arah kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Menariknya, pendekatan dialog ini tidak hanya ditujukan kepada umat Muslim. Gubernur juga meminta agar pola komunikasi serupa dilakukan kepada umat beragama lain di Papua.
“Saya juga meminta kepada Pak Wakil Gubernur untuk melakukan safari dari gereja ke gereja, untuk mendengar suara umat,” kata Gubernur Matius D. Fakhiri dalam salah satu pertemuan safari Ramadan.
Langkah ini dinilai penting mengingat Papua dihuni masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam. Pemerintah ingin memastikan semua kelompok mendapat ruang yang sama untuk menyampaikan aspirasi.
Safari Ramadan yang berlangsung beberapa hari terakhir itu pun memberi pesan sederhana pembangunan tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Kadang justru dimulai dari pertemuan sederhana di rumah ibadah, ketika pemerintah duduk bersama rakyat dan mendengar langsung suara mereka.











