JAYAPURA, Lapbiru.com – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Papua, Ny. Ra’fatul Mulkiyah Matius Fakhiri, mengajak seluruh elemen masyarakat bergerak bersama melindungi generasi muda Papua dari ancaman HIV/AIDS, kekerasan, dan penyalahgunaan narkoba.
Seruan itu disampaikan saat membuka sosialisasi “Bersama Cegah, Bersama Lindungi: Generasi Bebas HIV/AIDS, Anti Kekerasan, dan Anti Narkoba” di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Kamis (25/6/2026).
Ra’fatul menegaskan, persoalan HIV/AIDS di Papua masih membutuhkan perhatian serius. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 25.678 kasus HIV/AIDS di Papua. Sementara di Kota Jayapura, jumlah kasus kumulatif pada triwulan pertama 2026 mencapai 11.235 kasus.
Menurutnya, tingginya angka tersebut bukan sekadar persoalan kesehatan. Dampaknya menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kualitas sumber daya manusia hingga ketahanan keluarga.
“Yang sedang kita hadapi bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi ancaman terhadap produktivitas, kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, dan keberlanjutan pembangunan daerah,” kata Ra’fatul.
Ia mengingatkan, ancaman terhadap generasi muda tidak hanya datang dari HIV/AIDS. Kekerasan terhadap anak dan penyalahgunaan narkoba juga menjadi persoalan yang harus ditangani secara bersamaan.
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) Papua mencatat sepanjang 2025 terdapat 15 kasus tindak pidana narkotika dengan 96 orang menjalani rehabilitasi. Sementara berbagai laporan resmi juga menunjukkan tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanah Papua.
Ra’fatul menilai keluarga harus menjadi benteng pertama dalam melindungi anak-anak Papua. Karena itu, gerakan PKK terus diperkuat sebagai penggerak pembangunan berbasis keluarga.
“Tidak boleh ada anak Papua yang kehilangan masa depannya karena kekerasan. Tidak boleh ada generasi muda Papua yang kehilangan harapannya karena narkoba, dan tidak boleh ada keluarga Papua yang berjuang sendirian menghadapi HIV/AIDS,” tegasnya.
Ia juga mengajak perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, media, dunia usaha, hingga keluarga untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi generasi muda.
Menurutnya, Papua sedang berada pada fase penting pembangunan sumber daya manusia. Bonus demografi hanya akan menjadi peluang apabila generasi mudanya tumbuh sehat, berpendidikan, produktif, bebas dari narkoba, serta terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.
“Papua sedang memasuki fase penting pembangunan sumber daya manusia. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi mudanya sehat, berpendidikan, produktif, bebas narkoba, serta terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan,” ujarnya.
Melalui momentum Dies Natalis ke-21 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih, ia berharap lahir gerakan yang lebih luas dari kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS, memberantas narkoba, serta menekan angka kekerasan demi mewujudkan Papua yang cerdas, sejahtera, dan harmonis.











