Esai : Abdul Munib
Perang Iran vs Zionis+Amerika sangat menarik untuk disimak dan dipelajari. Setiap orang bebas mau mulai perang ini dari titik mana. Dari dibunuhnya pimpinan Iran lalu Bangsa Iran membalas. Atau mau mulai dari Hammas meruntuhkan mitos kekuatan Mossad tanggal 7 Oktober 2023 dengan menyerang Zionis.
Atau dimulai dari berdirinya Republik Islam Iran 1979 yang anti-hegemoni dan berpihak pada yang tertindas. Atau mau mulai dari Zionis menjajah Palestina sejak 1948. Atau mau ke belakang lagi sejak bangsa Barat menjajah dunia merebut tanah-tanah bangsa lain.
Bahkan Iran menghubungkannya kepada perang Khaibar, yang disulut penghianatan Yahudi saat berkomplot dengan musyrikin Qurais dan sekutu se zairah Hijaj memerangi Nabi di perang Parit.
Ini bukan perang baru. Melainkan sudah tercatat dalam sejarah peperangan awal Islam ketika Nabi Muhammad saw masih hidup. Perang yang sekarang ini bagi Iran adalah perang yang sama, hanya beda waktu dan tempat saja.
Tercatat dalam gambaran surah Almaidah ayat 82 permusuhan Yahudi kepada orang beriman. Begini bunyinya : Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri.
Putin yang kristen Ortodok membantu Republik Islam Iran dalam perang ini. Trump menghina pimpinan Gereja Katolik Paus, karena mengkritiknya.
Setelah diselamatkan Tuhan dan perbudakan Firaun di Mesir, Bani Israil tidak mensyukuri karunia itu. Mulut mereka busuk kepada Allah dan nabinya.
Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.”
Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun, kecuali atas diriku sendiri dan saudaraku. Oleh sebab itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.”) Allah berfirman, “(Jika demikian,) sesungguhnya (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi.
Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih atas (nasib) kaum yang fasik itu. Itulah karakter musuh Iran. Tukang melawan nabinya.
Apa saja yang bisa kita petik sebagai pelajaran dari perang ini ? Saat jaman Khosrow II raja Persia itu merobek surat Nabi Muhammad yang dibawa utusan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi. Meneriman perlakuan tak terhormat seperti itu Nabi Muhammad menengadah tangan berdoa : Semoga Allah mengoyak-oyak kerajaannya”.
Raja culas itu terbunuh di kamar tidurnya oleh belati di tangan putranya sendiri. Dan kerajaan itu dikalahkan oleh pasukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab. Persi bukan berarti tak pernah kalah dan salah di masa lalu.
Bani Israil juga pernah terzalimi di masa perbudakan Mesir. Dan itulah periode demi periode sejarah klan yang sama bisa memilih berada di pihak mana. Berlalunya perjalanan waktu menguji pipihan-pilihan disetiap masanya.
Demikian pun bangsa Arab. Mereka pernah berperang bersama mereka : Nabi Muhamad. Mengalami kemenangan-kemenangan gemilang di Badar, Khandak dan Khaibar. Pernah terpukul di Uhud, karena pasukan panah tak menghiraukan perintah nabinya.
Kini raja-raja Arab bersama Zionis memerangi Republik Islam Iran. Wilayahnya dipakai untuk pangkalan militer yang menyerang negeri Muslim bahkan membunuh pemimpin negeri itu. Baguskah perangai raja-raja Arab itu ? Yang menjadikan rumahnya untuk berteduh para pembunuh tetangganya.
Dan kita tunggu akan berakhir seperti apa raja-raja yang tega khianat pada saudara seiman dan tetangganya sendiri itu. Perang masih terus berjalan dan akan kemana arah kesudahannya, sudah bisa ditebak hari akhir seorang penghianat.
Raja Persia Darius pernah menyelamatkan umat Yahudi yang diperbudak oleh rezim Babilonia saat itu. Terkenal dalam kisah Easter permaisuri raja yang asal Yahudi, menyelamatkan bangsanya. Hari ini Persia dan Yahudi Askenasi justru sedang berperang dengan bangsa Persia.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap sebuah bangsa dalam perjalanannya bisa mendekat atau menjauh dari Tuhannya. Seperti kisah bangsa-bangsa diatas tadi. Juga bangsa Indonesia. Dulu ditolong Tuhan dari penjajahan Balanda. Kini bangsa ini banyak koruptornya. Kalau dibiarkan bisa jadi bangsa ini akan jatuh pada bencana dan malapetaka.









