Oleh : Muhammad Rifai Darus
Mantan Ketua DPP KNPI Periode 2015-2018
Ada banyak cara mengucapkan selamat ulang tahun kepada seorang tokoh. Ada yang cukup dengan doa singkat. Ada pula yang cukup dengan kata-kata penghormatan.
Namun bagi saya, kepada Bapak Barnabas Suebu, yang kami panggil dengan penuh hormat “Kaka Bas”, ucapan itu terasa lebih tepat jika dituliskan sebagai sebuah catatan dari seorang adik ideologis kepada kakaknya.
Hari ini Kaka Bas genap berusia 80 tahun.
Usia ini bukan sekadar angka dalam kalender kehidupan. Ia adalah arsip panjang tentang gagasan, pengalaman organisasi, dan perjalanan kepemimpinan yang ikut membentuk sejarah Papua.
Ada jejak pemikiran di dalamnya, ada keberanian dalam mengambil sikap, dan ada juga ketekunan seorang anak muda yang dahulu percaya bahwa masa depan tanahnya harus dipikirkan secara serius.
Bagi generasi saya yang tumbuh dalam dunia kepemudaan, Kaka Bas tidak pertama-tama dikenal sebagai gubernur. Yang lebih dulu sampai kepada kami adalah cerita tentang seorang pemuda Papua yang percaya bahwa organisasi adalah sekolah kepemimpinan.
Cerita tentang diskusi panjang yang kadang melewati malam. Tentang gagasan yang terasa terlalu besar untuk zamannya.Tentang keyakinan sederhana namun kuat bahwa pemuda Papua tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah di tanahnya sendiri.
Di masa itulah Kaka Bas menjadi bagian dari generasi yang ikut menumbuhkan tradisi organisasi pemuda di Papua, termasuk dalam perjalanan awal Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di tanah ini.
Bagi kami yang datang kemudian, dunia kepemudaan Papua tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia dibangun oleh perdebatan gagasan, keberanian berpikir, dan idealisme generasi yang percaya bahwa masa depan harus dipersiapkan melalui organisasi.
Sebagai seseorang yang kemudian berjalan di jalur yang sama, saya merasakan secara langsung bagaimana tradisi itu diwariskan. Saya pernah dipercaya menjadi Ketua KNPI Papua, dan kemudian mendapat amanah yang lebih luas sebagai Ketua Umum DPP KNPI.
Bagi saya pribadi, perjalanan itu bukan sekadar posisi organisasi. Ia adalah kelanjutan dari tradisi gagasan dan kepemimpinan pemuda yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya, termasuk oleh sosok Kaka Bas.
Karena itu saya selalu memandang Kaka Bas bukan hanya sebagai tokoh senior Papua, tetapi sebagai kaka ideologis dalam perjalanan dunia kepemudaan.
Dari jejak dan pemikiran beliau, saya belajar satu hal pentingkepemimpinan yang kuat selalu lahir dari kedalaman gagasan.
Seorang kader tidak boleh hanya mengejar posisi. Ia harus menghargai ide, konsep, dan pemikiran sebagai fondasi perjuangan.
Namun ada satu hal lain yang juga tidak kalah penting dan ini yang kadang mulai terasa langka di zaman yang bergerak terlalu cepat hari ini yaitu adab dalam menghargai kepemimpinan lintas generasi.
Dalam dunia organisasi, perbedaan pandangan adalah hal biasa. Perdebatan bahkan bisa sangat keras.Tetapi menghormati mereka yang lebih dulu membuka jalan adalah bagian dari etika kepemimpinan Tanpa adab itu, organisasi hanya akan melahirkan kebisingan. Dengan adab, organisasi bisa melahirkan peradaban gagasan.
Karena itu, bagi saya, menghargai tokoh seperti Kaka Bas bukan sekadar nostalgia sejarah. Ini adalah bagian dari disiplin intelektual seorang kader bahwa gagasan besar yang kita pikirkan hari ini sering kali berdiri di atas fondasi yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Perjalanan Kaka Bas sendiri adalah contoh yang tidak banyak dimiliki oleh tokoh lain.
Beliau dipercaya rakyat untuk memimpin Papua dua kali sebagai gubernur, bahkan di dua zaman yang berbeda. Dalam psikologi politik, itu bukan hanya soal kemenangan dalam kontestasi, tetapi tanda bahwa seorang pemimpin mampu membuat gagasannya tetap relevan melintasi waktu.
Namun seperti banyak pemimpin visioner lainnya, warisan terbesar seorang tokoh tidak berhenti pada jabatan yang pernah ia pegang.
Warisan terbesar adalah mimpi yang ia tanamkan di kepala generasi setelahnya.
Hari ini Papua telah berubah. Pemekaran wilayah telah melahirkan berbagai provinsi baru. Baik di Papua induk maupun provinsi-provinsi hasil pemekaran, ruang kepemimpinan kini jauh lebih luas dibandingkan masa ketika generasi Kaka Bas mulai merumuskan masa depan tanah ini.
Tetapi justru di situlah pertanyaan yang lebih serius munculapakah generasi hari ini cukup berani untuk mengeksekusi mimpi-mimpi besar itu?
Sejarah sering bekerja dengan cara yang sedikit ironis. Ada generasi yang berani bermimpi besar ketika keadaan masih sangat terbatas.
Namun ada pula generasi yang hidup dalam ruang yang jauh lebih luas, tetapi justru menjadi terlalu hati-hati untuk bermimpi.
Bagi saya pribadi, semangat dan pemikiran Kaka Bas adalah salah satu sumber keberanian untuk melangkah lebih jauh untuk tidak ragu berkancah dalam dunia kepemudaan di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional, selama yang dibawa adalah gagasan yang jernih dan kecintaan yang tulus kepada Papua.
Sebagai seorang kader yang pernah berjalan di jalan organisasi pemuda dari Papua hingga tingkat nasional , saya selalu percaya bahwa keberanian kami hari ini sebenarnya adalah kelanjutan dari percakapan panjang yang pernah dimulai oleh generasi seperti Kaka Bas.
Karena pada akhirnya sejarah pemuda selalu bergerak dengan cara yang sederhana namun sangat manusiawi satu generasi menyalakan api, generasi berikutnya belajar bagaimana menjaga api itu tetap menyala tanpa membakar rumahnya sendiri.
*Selamat ulang tahun ke-80, Kaka Bas.*
Sebagai seorang adik ideologis yang juga pernah ditempa dalam tradisi organisasi pemuda Papua hingga dipercaya memimpin KNPI di tingkat daerah dan nasional , izinkan saya hanya menyampaikan satu hal sederhana.
“terima kasih telah menjadi bagian dari mata rantai panjang kepemimpinan pemuda Papua.”
Dan jika suatu hari nanti generasi muda Papua benar-benar berani mengeksekusi mimpi besar tentang tanah ini, mungkin sejarah akan mencatatnya dengan kalimat yang sangat sederhana. bahwa api kecil yang pernah dinyalakan oleh seorang pemuda bernama Kaka Bas ternyata tidak pernah benar-benar padam di dada generasi setelahnya.








