Jayapura, – Mamberamo Raya bukan tanah yang asing bagi politik. Tapi untuk menang di tanah ini, menurut Piter Awantano, Anggota DPRK Mamberamo Raya, tidak cukup hanya datang, bicara, lalu pergi. Dibutuhkan kerja politik yang membumi, kehadiran yang nyata, dan konsistensi mengawal rakyat di medan yang keras.
Mamberamo Raya Tak Butuh Janji, Butuh Bukti. Suara Piter Awantano untuk MDF-AR
Dalam percakapannya, Piter menyoroti bagaimana dia sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) belajar dari kekalahan di Pemilihan Gubernur 2024. Saat itu di Mamberamo Raya, menurutnya, kerja-kerja partai tidak jalan. Distribusi logistik tidak menyentuh basis-basis strategis. Banyak yang bergerak tanpa koordinasi dan gagal membaca arah aspirasi masyarakat.
Menurut Awantano, Paslon harus membawa konsep rill bukan sekadar janji program. Dalam dialog, ia menjelaskan duduk perkaranya. “Kami buka pintu karena kami tahu siapa yang datang bukan hanya datang bicara, tapi juga tinggal bersama kami.”
Dua Pilar Politik di Mamra
Menurut Piter, politik di Mamberamo Raya hanya berdiri pada dua pilar kehadiran nyata dan keberpihakan pada perut rakyat. Figur politik yang tidak mampu memenuhi dua hal ini akan ditelan oleh arus. Apalagi ketika masyarakat sudah tahu siapa yang sekadar datang saat kampanye dan siapa yang tinggal saat rakyat susah.
“Bagi kami, memberi makan rakyat bukan sekadar sembako, tapi tentang memastikan pemerintahan berjalan dengan adil. Figur yang datang harus tahu, rakyat menilai bukan dari baliho, tapi dari jejak,” jelasnya.
Mengawal MDF-AR, Menata Ulang Komitmen Menjadi titik beratnya saat ini.
Piter melihat kerja PPP kali ini berbeda. Di bawah komando solid, penataan administrasi mulai rapih. PSU Papua 2025 mulai dibaca bukan hanya sebagai arena kompetisi, tapi sebagai ruang konsolidasi. “Kami tahu kekuatan partai di mana. Bukan asal tabrak. Kami kerja menata kekuatan, bukan membesarkan suara semu,” ujarnya.
Ia juga tak menutup mata bahwa dalam medan yang panas seperti PSU Papua 2025, akan muncul aktor-aktor yang bermain di air keruh. “Biasanya, ketika arus dukungan menguat, mereka yang biasa bikin gesekan mulai diam. Mereka hilang karena tak ada celah. Figur yang kuat akan merangkul, bukan memukul. Itu yang rakyat tunggu,” ujarnya.
Bagi Piter, ukuran kemenangan bukan hanya suara di TPS. Tapi juga berapa banyak pintu yang dibuka karena kepercayaan. Karena itulah ia percaya, MDF-AR punya peluang kuat di Mamberamo Raya, jika kerja riil terus dijaga sampai penghujung.
“Rakyat masih percaya pada dewan yang kerja. Bukan pada dewan yang hanya turun saat kampanye. Politik kita bukan soal warna. Tapi soal manfaat. Dan saat ini, yang bisa beri manfaat harus kita menangkan’. Tegasnya










