Aletinus–Fredi Membangun Lanny Jaya dari Kampung ke Kota

banner 468x60

Menjaga Yang Tak Terjangkau, Mengangkat Yang Tak Terangkat”

Tiom, Lanny Jaya – “Kami tidak ingin membangun dari atas, kami mulai dari kampung.” Kalimat itu diucapkan Bupati Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kompas kerja. 
Dalam wilayah yang terdiri dari 354 kampung yang tersebar di 39 distrik ini, pembangunan bukan lagi soal proyek di pusat kota. 
Tapi bagaimana menyentuh hidup dari ujung kampung yang nyaris tak terjangkau itulah yang menjadi inti dari pemerintahan Aletinus-Fredi.
Tak banyak kata, tapi kaya kerja. Aletinus dikenal sebagai birokrat tulen yang tak doyan publikasi. Menjelaskan bahwa. 
“Pembangunan ini bukan dari atas, tapi dari dalam,” kata Aletinus, dalam satu rapat distrik, tanpa podium dan tanpa kamera.
Satu hal yang menjadi perhatian serius dalam kepemimpinannya adalah penggunaan Dana Kampung. Ia tidak menganggapnya sebagai bantuan rutin semata, tapi sebagai instrumen utama pembangunan yang bisa mengubah wajah kampung. Dana kampung yang selama ini kerap disalahgunakan, dikawal ketat. Dari distribusi, pelaporan, hingga implementasi.
“Dana kampung itu bukan sekadar uang. Itu alat kita untuk merobohkan tembok ketertinggalan,” tegasnya. 
Setiap pembangunan harus dimulai dari bawah, dan pengawalnya bukan sekadar kepala distrik tapi pegawai distrik yang tinggal dan bekerja langsung di wilayah.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang menumpuk semua kendali di ibukota kabupaten, Aletinus justru membalik piramida. Distrik dijadikan pusat kendali. Semua kegiatan birokrasi, pelayanan publik, pengawasan dana kampung, hingga sektor kesehatan dan pendidikan, dimulai dari distrik.
“Distrik bukan sekadar perpanjangan tangan, mereka adalah tangan itu sendiri,” kata Fredi, wakil bupati yang selama ini setia mendampingi. Dengan memaksimalkan kapasitas pegawai distrik, Aletinus–Fredi berharap lahir kepercayaan dan kemandirian di tingkat lokal.
Bagi Aletinus, pembangunan bukan soal data statistik. Tapi soal kehadiran. “Kita harus menjangkau yang tak terjangkau, melihat yang tak terlihat, dan mengangkat yang belum diangkat.” Itulah mengapa ia kerap berjalan kaki ke kampung-kampung yang tidak bisa dijangkau kendaraan. 
Ia menyapa bukan hanya dengan suara, tapi dengan telinga yang mendengar apa yang disampaikan warga.
Dari sektor pendidikan hingga kesehatan, semuanya dimulai dari bawah. Puskesmas bukan dibangun di kota, tapi di kampung. Guru tidak dikirim ke kota, tapi ke distrik. Anak-anak tidak perlu berjalan belasan kilometer, karena sekolah kini mendekat ke mereka.
Visi “Dari Kampung ke Kota” 
Dalam banyak kesempatan, Aletinus menolak menjadikan kata-kata sebagai panggung. “Biarkan pekerjaan kami yang bicara,” ujarnya. 
Visi “Membangun dari Kampung ke Kota” bukan janji kampanye, tapi kenyataan sehari-hari. Rakyat Lanny Jaya diajak terlibat dalam proses pembangunan yang menyentuh tanah tempat mereka berdiri.
Dalam perjalanan yang penuh retorika, Aletinus–Fredi hadir sebagai pengecualian. Keduanya memimpin dengan kerja yang senyap tapi berdampak.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *