Mathius D Fakhiri dan Darah Kesultanan Tidore dari Tanah Papua Dan Dukungan Solid Maluku-Maluku Utara

banner 468x60

Jayapura — Angin sore dari Pantai Hamadi membawa aroma laut dan semangat persatuan. Di sebuah kafe sederhana yang berdiri menghadap Samudera Pasifik, ratusan orang dari berbagai latar belakang etnis dan organisasi berkumpul dalam satu suara mendukung Paslon no urut 2 Mathius D. Fakhiri (MDF) dan Aryoko Rumaropen (AR) MARI-YO sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua.

Namun yang paling mencuri perhatian bukan hanya teriakan dukungan atau yel-yel relawan. Dalam orasi politiknya, MDF membuka sisi personal yang jarang ia ungkap dalam panggung kampanye tentang darah kerajaan yang mengalir dalam tubuhnya.
“Saya ini punya kakek dari Kerajaan Fatagar, yang punya hubungan langsung dengan Kesultanan Tidore di Maluku Utara,” kata MDF, Sabtu 26 Juli 2025.
“Ini bukan sekadar cerita leluhur. Ini sejarah panjang yang menyatukan Papua, Fakfak, dan Maluku dalam satu ikatan sejarah, budaya, dan perjuangan,” lanjutnya. Ia bahkan mengulangi pernyataan itu dua kali dalam rentang orasinya, seolah ingin memastikan setiap orang memahami betapa dalam koneksi itu.

Kerajaan Fatagar Simpul Sejarah Papua-Maluku
Kerajaan Fatagar memang bukan nama yang lazim dalam buku sejarah populer. Namun di kalangan masyarakat Fakfak dan Semenanjung Onin, nama itu tak asing. Didirikan oleh klan Uswanas dan beribu kota di Merapi, Fatagar adalah kerajaan Islam yang berdiri dengan restu dari Kesultanan Tidore. Sultan Tidore sendiri yang mengangkat Maraitat sebagai raja pertama Fatagar, memperkuat hubungan lintas pulau antara Maluku Utara dan Papua Barat.
Pengakuan MDF atas akar sejarah ini bukan semata nostalgia. Ia menjadi jembatan penting untuk masyarakat Maluku dan Maluku Utara yang telah lama hidup berdampingan di tanah Papua.

Deklarasi Dukungan dari 16 Negeri Jazirah Leihitu

Acara ini bukan hanya seremonial. Keluarga besar 16 negeri dari Jazirah Leihitu hadir lengkap. Mereka datang bukan sekadar membawa nama, tetapi semangat solidaritas. Turut hadir pula masyarakat Maluku Utara di Kota Jayapura, Himpunan Pemuda Pelajar Maluku Utara (HIPPMU), Gerakan Muda Milenial Maluku-Malut Provinsi Papua, IKEMAL Provinsi Papua, serta sejumlah paguyuban lainnya.
 “Kami masyarakat Maluku dan Maluku Utara se-Tanah Papua menyatakan dukungan penuh dan solid kepada Bapak Mathius D. Fakhiri dan Aryoko Rumaropen,” tegas Muflih M. Yusuf, Ketua Relawan Maluku Utara.
Muflih yang juga dikenal sebagai pengurus PSI Provinsi Papua menekankan pentingnya memilih pemimpin berdasarkan visi dan rekam jejak, bukan sekadar ikatan primordial.
 “Pilihlah pemimpin yang benar-benar peduli pada masyarakat Papua. Jangan tergoda oleh politik uang, jangan terjebak fanatisme suku atau agama. Kami kerja tidak main-main. Dan yang tepat itu adalah Mathius D. Fakhiri dan Aryoko Rumaropen,” serunya.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting dari tim pemenangan Koalisi Papua Cerah Elia Loupatty, Toha Alhamid, Ketua Tim Koalisi MARI-YO Provinsi Papua,  Yoppy Ingratubun, serta tokoh-tokoh komunitas Maluku dan Maluku Utara di Kota Jayapura.
Dari pantai Hamadi, sebuah simpul dukungan telah terikat. Bukan hanya karena MDF seorang jenderal purnawirawan, atau karena ia punya rekam jejak panjang di tanah Papua. 
Tapi karena ia membawa narasi sejarah yang menyatukan, bukan memecah. Ia bicara dari akar. Dan akar itu, sebagian berasal dari tanah Tidore yang lama berlabuh di Papua Barat.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *