PAPUA DARURAT KESEHATANI, Ibu Hamil dan Bayinya Meninggal Setelah Ditolak Tiga Rumah Sakit

banner 468x60

JAYAPURA – Papua kembali diguncang kabar kelam. Seorang ibu hamil, Irene Sokoy, warga Kampung Hobong, menghembuskan napas terakhir bersama bayi dalam kandungannya setelah ditolak oleh tiga rumah sakit di Kota Jayapura. Alasan yang mengemuka, administrasi dan biaya. Nyawa melayang, aturan dipertanyakan.

Jenazah Irene telah dimakamkan pada Rabu, 19 November 2025. Namun, gelombang kemarahan publik masih menggelegak. Di tengah kondisi darurat kesehatan yang terus berulang, pertanyaan terbesar muncul sampai kapan rakyat Papua dibiarkan berjuang sendiri ketika nyawa mereka sudah di ujung tanduk?

PERINGATAN GUBERNUR FAKHIRI DIABAIKAN

Instruksi Gubernur Papua Matius D Fakhiri sudah berkali-kali dipertegas“Tidak boleh menolak pasien dalam kondisi gawat darurat. Administrasi urusan belakangan. Selamatkan nyawa dulu.”

Namun kenyataan di lapangan berkebalikan. Dan tragisnya, RS Yowari yang menjadi rujukan pertama bukan berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi. Koordinasi lemah, pengawasan longgar, dan kesadaran kemanusiaan ikut dipertaruhkan.

Perintah kepala daerah diabaikan, prosedur rumah sakit lebih keras dari rasa kemanusiaan.

KRONOLOGIS YANG MEMBUAT PUBLIK GERAM

Peristiwa pilu ini bermula pada pukul 03.00 WIT, ketika keluarga membawa Irene Sokoy menggunakan speedboat dari Kampung Kensio menuju RS Yowari. Kondisinya darurat harus melahirkan segera.

Tetapi alih-alih mendapat penanganan cepat, mereka dialihkan
RS Yowari merujuk ke RS Abepura.

Sesampainya di RS Abepura, harapan kembali pupus. Tidak dilayani. Keluarga kembali bergerak.

Mereka menuju RS Dian Harapan. Namun jawaban yang diterima sama tidak dilayani.

Waktu menjadi musuh, kontraksi semakin berat, nyawa ibu dan bayi semakin tipis. Keluarga melanjutkan perjalanan ke RS Bhayangkara. Di sana mereka akhirnya diterima, tetapi muncul syarat berat biaya operasi harus disiapkan sebesar Rp 8 juta.

Keluarga yang tidak memiliki uang sebesar itu mencoba mencari opsi terakhir dibawa ke RS Dok II Jayapura.

Tidak pernah sampai.

Dalam perjalanan menuju harapan terakhir itu, Irene dan bayinya meninggal dunia.

NYAWA MELAYANG DI TENGAH KOTA

Tragedi Irene Sokoy bukan sekadar “kejadian medis biasa”. Ini alarm keras yang memekakkan telinga seluruh pejabat dan pengelola fasilitas kesehatan di Papua.

Bagaimana mungkin di tengah kota, di pusat layanan kesehatan terbesar di Papua, seorang ibu hamil tidak bisa mendapatkan pertolongan darurat di tiga rumah sakit sekaligus?

Bagaimana mungkin administrasi dan uang menjadi tembok yang lebih tinggi daripada rasa kemanusiaan?

Dan bagaimana mungkin instruksi Gubernur untuk tidak menolak pasien justru tidak dijalankan di lapangan?

ADA YANG TIDAK BERES

Kematian Irene Sokoy mengungkap satu fakta pahit ada yang tidak berjalan semestinya dalam sistem kesehatan Papua. Mulai dari koordinasi, tanggung jawab, hingga etika profesi.

Setiap rumah sakit memiliki SOP, tetapi dalam kasus darurat nyawa lebih penting dari dokumen. Ini bukan teori. Ini prinsip dasar kemanusiaan.

Seseorang bisa saja meninggal di daerah terpencil karena akses sulit. Tetapi ini terjadi di pusat kota, dalam radius fasilitas kesehatan lengkap, pada jam dimana petugas masih berjaga.

Ini bukan kelalaian kecil. Ini kegagalan sistem.

PAPUA DALAM KONDISI DARURAT KESEHATAN

Kasus ini bukan yang pertama. Namun jika tidak segera ada tindakan tegas, ini bukan yang terakhir.

Papua sedang berada dalam situasi darurat kesehatan yang nyata. Jika kepala daerah sudah memberi instruksi, tetapi rumah sakit tetap menjalankan “aturan sendiri”, maka persoalan ini bukan sekadar teknis tetapi tata kelola, pengawasan, dan disiplin institusi.

SUARA PUBLIK CUKUP SUDAH

Masyarakat menuntut jawaban. Keluarga korban menuntut keadilan. Dan Papua menuntut perubahan.

Irene Sokoy dan bayinya tidak akan kembali. Namun tragedi ini tidak boleh menjadi berita yang berlalu begitu saja.

Tidak ada lagi alasan administrasi. Tidak ada lagi penolakan pasien gawat darurat.
Hukum harus berjalan. Evaluasi harus dilakukan. Dan yang paling penting nyawa warga Papua harus menjadi prioritas.

Cukup sudah. Papua tidak boleh kehilangan nyawa lagi hanya karena pintu rumah sakit tertutup.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *