Pasca Longsor Pronggoli, Tim Medis Puskesmas Layani Ratusan Pasien di Posko Darurat

banner 468x60

YAHUKIMO –Lapbiru.com
Tenaga medis dari Puskesmas Pronggoli terus bergerak cepat memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak musibah tanah longsor di Distrik Pronggoli, Kabupaten Yahukimo. Pelayanan dipusatkan di posko kesehatan darurat yang didirikan tepat di depan Gereja GKI Sion Pronggoli.

Kepala Puskesmas Pronggoli, Suster Ina Asso, memimpin langsung jalannya pelayanan kesehatan dengan didampingi oleh dua orang staf PNS dan lima orang kader kesehatan. Selama tiga hari beroperasi, tim medis telah menangani sedikitnya 181 pasien yang mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan pasca bencana.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, mayoritas warga yang datang ke posko mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hal ini dipicu oleh kondisi lingkungan pasca longsor serta kurangnya waktu istirahat dan pola makan yang tidak teratur di pengungsian.

“Kami melayani masyarakat dari dua desa terdampak, yaitu Desa Pronggoli dan Desa Siwikma, termasuk jemaat di Gereja GKI Sion. Keluhan utama yang kami temukan adalah ISPA karena warga kurang makan dan kurang istirahat. Selain itu, ada juga penyakit bawaan seperti amuba,” ujar Kepala Puskesmas Pronggoli, Ina Asso, saat memberikan keterangan di posko, Rabu (04/03/2026).

Selain gangguan fisik, Ina Asso mengungkapkan adanya temuan pasien yang mengalami gangguan psikologis akibat trauma bencana.

“Ada banyak pasien yang kami tangani mengalami gejala depresi atau kehilangan kesadaran sesaat karena syok berat saat longsor tiba-tiba terjadi. Selain itu, penyakit yang banyak muncul adalah sakit perut, mencret, batuk, serta nyeri badan, baik pada orang dewasa maupun anak-anak,” jelasnya.

Meski pelayanan tetap berjalan, pihak Puskesmas mengakui adanya kendala besar dalam hal fasilitas dan tenaga ahli. Saat ini, pelayanan hanya dilakukan oleh perawat dan kader karena belum adanya dokter yang bertugas di lokasi bencana.

“Kami melayani dengan obat seadanya untuk warga di 8 desa di Distrik Pronggoli. Stok obat yang tersedia berupa tablet dan sirup untuk anak-anak. Namun, untuk tindakan medis seperti suntik dan infus tidak bisa kami lakukan karena tidak ada ruang rawat inap dan peralatan yang memadai,” ungkap Ina Asso.

Ia juga menambahkan bahwa diagnosa penyakit seperti malaria dan gangguan paru belum bisa dipastikan karena ketersediaan alat tes yang nihil di posko. “Harapan kami, pemerintah dapat mengirimkan tenaga dokter selama masa tanggap darurat ini serta melengkapi peralatan medis kami,” harapnya.

Senada dengan hal tersebut, petugas medis lainnya, Lambert Pahabol, merincikan bahwa pasien yang datang juga banyak mengeluhkan penyakit rematik, cacingan, dan sakit kepala hebat. Ia menyebutkan bahwa ketersediaan obat-obatan tertentu mulai terbatas.

“Obat yang saat ini tersedia adalah antibiotik, Amoxicillin, Tetra, dan Ibuprofen. Kami sangat membutuhkan tambahan obat malaria, obat injeksi (suntik), spuit, dan Penisilin injeksi. Namun saat ini kami belum bisa melayani tindakan medis berat karena alatnya memang tidak ada,” kata Lambert Pahabol.

Hingga hari ketiga pelayanan, tercatat 138 pasien dilayani pada hari sebelumnya, ditambah 43 pasien pada hari ini. Tim medis Puskesmas Pronggoli dipastikan akan terus bersiaga dan melanjutkan pelayanan kesehatan di posko hingga situasi dinyatakan kondusif.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *