JAYAPURA — Gelombang dukungan terhadap pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Matius D Fakhiri- Aryoko Rumaropen (MDF–AR), kian menguat menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua yang dijadwalkan berlangsung 6 Agustus 2025. Dukungan tidak hanya datang dari elite politik nasional, tetapi juga dari tokoh adat dan kepala daerah strategis di Papua.
Pusat Sudah Kasih Kode, Papua Harus Selaras Bahlil dan Masyarakat Adat Dorong Kemenangan MDF–AR
Salah satu suara tegas datang dari Ketua Dewan Presidium Masyarakat Adat Tabi sekaligus Ondofolo Hebeybhulu Kampung Yoka, Ismail Isack Mebri. Ia menyoroti pentingnya sinergi antara pusat dan daerah dalam mendorong pembangunan di tanah Papua. Ismail mendesak Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, untuk segera mengambil sikap tegas.
“Abisai harus buat pernyataan resmi dukung dan menangkan MDF–AR. Jangan lagi ada pernyataan yang merugikan,” kata Ismail dalam keterangannya, jumat( 20/6).
“Kita ini mau bangun Papua, bukan urus rasa-rasa pribadi. Ini soal jalur politik, bukan jalur adat.”
Ismail menekankan, kerja-kerja politik harus berjalan profesional. Mengingat posisi Abisai sebagai Wali Kota sekaligus Ketua DPD II Golkar kota Jayapura, ia dinilai memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kota Jayapura tetap dalam orbit strategis nasional, terutama dalam urusan anggaran dan pembangunan pusat.
Bahlil Turun Gunung, Sinyal Jelas dari Pusat
Ismail tidak sendirian. Pesan paling lantang sebelumnya datang dari Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar. Dalam kunjungan politiknya ke Papua beberapa waktu lalu (31/05/25).
Bahlil terang-terangan menyatakan bahwa dirinya hanya punya satu misi: memenangkan pasangan MDF–AR.
“Jelas ya, saya datang ke Papua untuk menangkan MDF–AR. Ini bukan kunjungan biasa, ini sinyal dari pusat. Kalau mau program pemerintah turun, kita harus punya pemimpin yang selaras,” ujar Bahlil.
Bahlil mengingatkan, ketika Papua sudah dimekarkan menjadi beberapa provinsi, kapasitas fiskal makin terbatas. Oleh karena itu, kemampuan melobi pusat sangat tergantung pada koneksi partai politik. Dan jalur itu kini berada di tangan MDF–AR yang diusung oleh koalisi partai pemerintah.
“Jangankan masuk rumah, masuk pekarangan pun belum tentu bisa kalau kita bukan dari partai yang sama. Kita bicara realistis. Kalau ingin program pusat jalan, harus lewat kader partai pendukung MDF–AR,” tegasnya.
Fakta politik yang tak bisa diabaikan, menurut Bahlil, adalah bahwa tujuh dari sembilan kepala daerah di Provinsi Papua merupakan kader partai koalisi pendukung MDF–AR.
Dari Partai Golkar: Kota Jayapura, Keerom, Biak, Mamberamo Raya, Supiori
Dari Partai Demokrat: Kabupaten Jayapura dan Kepulauan Yapen. Dengan basis kekuatan itu, Bahlil optimistis kemenangan MDF–AR tak bisa dibendung.
“Kalau tujuh kepala daerah sudah ada di barisan, apalagi yang mau diragukan? MDF–AR pasti menang,” ucapnya yakin.
Abisai Rollo, Kunci Kemenangan di Jayapura
Nama Abisai Rollo disebut berkali-kali sebagai figur penentu. Sebagai Ketua Golkar Kota Jayapura, Wali Kota Jayapura, dan pemegang jabatan adat Ondoafi, posisinya strategis.
“Abisai pegang semua kunci. Jabatan adat dia punya, jabatan pemerintahan dia pegang, jabatan politik dia urus. Masa MDF–AR tidak bisa menang di Kota Jayapura?” sindir Bahlil.
Papua Harus Selaras dengan Arah Nasional, Bahlil menutup seruannya dengan satu pesan Papua harus punya pemimpin yang menyatu dengan arus pusat. Jika tidak, akan sulit mendatangkan investasi, program strategis nasional, hingga pelayanan publik yang berkualitas.
“Jangan takut. Kemenangan itu bukan hadiah, tapi harus direbut. Semua sudah diatur. MDF–AR pasti siap dilantik.”
PSU 6 Agustus 2025 tidak lagi sekadar ajang pemilihan kepala daerah. Ia menjelma sebagai penentu arah relasi Papua dengan pusat. Dukungan tokoh adat, elite nasional, dan kepala daerah menjadi tanda bahwa kemenangan MDF–AR bukan hanya mungkin, tapi dirancang agar pasti.
“Pusat sudah kasih kode. Sekarang giliran Papua yang tentukan” tegas Mebri










