Jayapura – Potongan video pendek berdurasi kurang dari satu menit kembali jadi senjata politik. Kali ini berlokasi di Mamberamo Raya, dan targetnya masih sama Mathius D. Fakhiri
( MDF).
Dalam video itu, terlihat kerumunan masyarakat dan terdengar teriakan “MDF rusak di Mamberamo haha”, seolah kampanye pasangan MDF-AR gagal total.
Namun narasi dalam video itu langsung terbantahkan oleh kesaksian warga dan tim pemenangan yang hadir langsung di lokasi.
Video itu belakangan teridentifikasi sebagai hasil rekaman penyusup, lalu dipotong dan disebarkan oleh simpatisan BTM-CK untuk membentuk persepsi publik.
Gaya penyebarannya pun serupa diedit secara sepihak, diberi caption provokatif, dan disebar luas oleh akun-akun pendukung kubu BTM-CK.
“Faktanya, malam itu tim kami baru selesai kegiatan dan hendak kembali ke kapal untuk istirahat. Masyarakat menunggu di dermaga ingin jumpa langsung dengan bapa (MDF), tapi karena kehujanan, beliau mandi dulu sebelum keluar. Tidak ada rusuh, tidak ada bentrok,” ujar seorang relawan MDF yang enggan disebutkan namanya.
“Bro, Itu Hoaks Semua.”. ungkapnya dengan tegas.
Di lain pihak, pernyataan paling tegas datang dari Otis Deda, Ketua DPC Hanura Kota Jayapura, yang secara kebetulan hadir langsung di lokasi kejadian. Ia menepis keras narasi kegagalan kampanye yang dibangun melalui video tersebut.
“Bro, itu hoaks semua. Saya di TKP ini. Kita disambut luar biasa kok. Hujan lebat pun masyarakat tidak ada yang bergeser. Salam Lantik ,” ujar Otis melalui pesan singkat membalas simpatisan BTM- CK yang menyebar Video tersebut di grup Whatsapp , minggu (29/6).
Otis bukan hanya kader partai pendukung MDF-AR, ia juga saksi langsung yang menyaksikan antusiasme masyarakat yang tetap bertahan meski diguyur hujan deras. Pernyataan ini semakin memperkuat dugaan bahwa video viral itu hanyalah rekayasa politik untuk mendiskreditkan lawan.
Sementara itu, ditempat terpisah Apedius Mote, Sekretaris Tim Koalisi MDF-AR mengungkapkan bahwa video pendek ini bisa menjadi alat pembunuh karakter yang efektif. Apalagi ketika dipotong dari konteks, diangkat oleh akun akun lawan politik, dan dibumbui komentar bernada sarkasme. Pola ini terus berulang seperti kampanye waktu di Nimbokran minggu lalu.
“Ini bukan video pertama. Setiap kali MDF menguat di daerah tertentu, pasti ada konten serupa muncul. Kami tidak bisa terus diam. Ini bukan lagi persaingan sehat,” ujarnya minggu (29/6).
Lebih lanjut, tim MDF juga mengklaim telah mengidentifikasi jejak digital para penyebar awal video. Beberapa di antaranya terhubung dengan akun propaganda milik pendukung BTM-CK, yang selama ini dikenal aktif menggiring opini dan menyerang lawan politik.
Rumah Produksi Hoaks bukan hanya istilah kosong. Dalam laporan sebelumnya, redaksi mencatat adanya struktur produksi konten fitnah yang dijalankan secara terpusat, dari ruang edit hingga distribusi. Video di Mamberamo Raya hanya salah satu dari rumah produksi dan disusun bukan untuk mencerdaskan pemilih.
Hingga berita ini dirilis, tak ada klarifikasi langsung dari kubu BTM-CK. Tim juru bicara mereka memilih bungkam, meski narasi rekayasa dalam video ini telah menjadi bola liar yang mengguncang opini masyarakat di Provinsi Papua.










