Esai : Abdul Munib
Sering dikatakan bahwa Islam itu agama terbelakang dan Anti-Teknologi. Tuduhan seperti ini sering dialamatkan pada Islam, terlebih sejak Barat dapat mengembangkan sains dan teknologi. Tuduhan itu tidak seratus persen salah.
Kenyataannya dunia Islam memang menjauh dari sains,, hanya sibuk mengulik Ilmu agama. Sampai Republik Islam Iran berdiri 1979. Republik baru ini sudah 47 tahun mengejar ketertinggalan dunia Islam dalam bidang sains teknologi.
Untuk kasus Indonesia saja, misalnya. Departemen agama menjalankan pendidikan nasional sendiri. Dan departemen pendidikan menjalankan pendidikannya sendiri. Masyarakat diproxy seolah ada pendidikan umum dan pendidikan agama.
Sebuah istilah yang membuat dualisme pada pemikiran orang tua murid. Katanya kalau masuk sekolah umum nanti anaknya bisa kerja tapi nakal. Kalau sekolah agama anaknya jadi soleh tapi tak bisa kerja. Entah pekerjaan siapa yang mengkonsep pendidikan simalakama seperti ini.
Bukan kah agama dan akal memiliki tugas masing-masing yang sama-sama penting. Agama bertugas mempersiapkan jiwa yang layak untuk memegang alat yang berupa kekuasaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Akal membangun peradaban ilmu pengetahuan.
Perumpamaan pemegang alat dan alat, adalah dua hal sepasang. Oleh kita di Indonesia malah didikotomikan. Ini kan lucu unyu-unyu. Ingat efek alat pisau yang sama jika berada di tangan pembunuh dan tukang masak. Hasil akhirnya akan berbeda.
Ilmu pengetahuan tidak bisa diklaim oleh satu bangsa, etnis atau agama. Alur ilmu pengetahuan berjalan pada lorong tersendiri dalam ketekunan para ilmuwan sepanjang peradaban tanpa melihat asal ilmuan itu suku apa, agamanya apa dan bangsanya apa.
Hape dan AI ditangan anda yang dikembangkan oleh sains modern sekarang, tak akan ada jika filsuf Al Khawarizmi (algoritma) tidak menemukan angka nol sebagai basis awal komputer.
Begitu pula Kitab al-Qanun fi at-Tibb (Canon of Medicine) Ibnu Sina dan Kitab Al-Kulliyat fi ath-Thibb (Colliget) karya Ibn Rusyd, adalah cikal bakal kedokteran modern Barat. Sama halnya dengan orang Islam mempelajari Kitab logika Mantiqo Aristo (Organon) karya Aristoteles yang adalah orang Yunani.
Demikian pula soal agama. Bahwa wahyu disampaikan Tuhan melalui para utusan untuk dialamatkan pada entitas berakal. Para utusan itu bertugas sekedar penyampai pesan.
Oleh Tuhan yang mengutusnya Ia tidak diberi wewenang untuk memaksa orang. Karena pada penciptaan An-nafs Al Insaniah telah diberi amanat akal untuk bertindak merdeka dan mempertanggung-jawabkan kemerdekaannya kemudian dihadapan Sang Pemberi Amanat (Tuhan).
Disini pola sejarah selalu berulang. Berupa sikap manusia yang melawan, mengolok bahkan sampai membunuh para utusan. Juga pola pembelokan terhadap ajaran utusan itu setelah yang bersangkutan wafat.
Pola sejarah itu berulang menimpa seluruh utusan tanpa kecuali. Agama Tuhan disalin menjadi agama manusia. Ditafsirkan dengan pelbagai tafsir bahkan jadi ajang pertikaian. Orang lupa bahwa Agama Tuhan sejak utusan pertama sampai terakhir adalah substansi yang sama : yakni mengenal Tuhan dan anti-hegemoni antar sesama manusia.
Sering orang tak bisa membedakan agama dan manusia penganut agama. Manusia penganut agama atau umat beragama sering mengalami pasang surut.
Kondisi ini dipengaruhi oleh tafsiran yang dangkal atas agama sehingga yang menjadi trend di kalangan umat tafsiran keliru atau cacat. Agama distel jadi sangat keras jadi ekstrem. Agama dilumerkan jadi sangat cair jadi sekuler.
Ketika dunia Ke-kristenan Barat mengklaim sebagai pihak yang lebih baik melalui keunggulan sains dan teknologi yang dimilikinya, setidaknya Teknologi Iran dapat menjawab stigma agama terbelakang yang disematkan kepada Islam selama ini.
Fenomena lain yang mengecilkan peran agama adalah Mazhab pemikiran sekularisme. Kalangan filantropis Indonesia seperti Karlina Supeli dan Gunawan Mohamad membanggakan sekularisme dalam skup ilmu pengetahuan empiris. Bahwa sains tak membutuhkan dalil-dalil dari teks agama. Emang begitu.
Untuk ilmu pengetahuan alam telah diberikan ranahnya pada akal manusia. Tapi bukan berarti peran agama musti dibatasi, disekat dalam ruang sempit kehidupan privat yang personal. Di Ke-kristenan Barat hama sekularisme menjalar masif, sehingga di Inggris, Francis dan Jerman orang pergi ke gereja hari minggu tersisa hanya dua persen saja.
Bagi yang menganggap agama sebagai hal yang tidak relevan lagi bagi jaman yang serba sains dan teknologi, mereka terjerumus pada jurang ateisme tinggal selangkah lagi.
Padahal dari sumber Islam maupun Kristen ada keidentikan pada skala prioritas manusia, yakni bekal jiwa kelak di kehidupan pasca dunia.
Dan, carilah terlebih dahulu apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash 77)
Matius 6:33-34 menjelaskan :
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Mengakhiri esai ini, penulis mengajak kita bersama dapat memahami substansi sederhana hubungan akal dan wahyu. Mereka dua pasang kekasih yang saling memanggil, bertemu untuk mengenal Tuhan dan memerangi hegemoni antarmanusia. Sesederhana itu pesanya.









