Esai : Abdul Munib
Perang yang melibatkan tiga pihak, Zionis Israel-Amerika vs Iran, sikap rakyatnya berbeda. Trump dan Netanyahu rakyatnya demo untuk menghentikan perang. Karena perang ini membawa mereka pada kesengsaraan. Berbeda dengan rakyat Iran tiap malam memadati jalan-jalan Teheran, Mashad, Qum, Isfahan untuk memberi dukungan dan berdoa. Dua jenis rakyat yang berbeda.
Kenapa bisa menjadi beda seperti itu ? Jawabannya ada lima hal mendasar. Satu nilai spirit ke-syiah-an yang merentang dari belakang berupa revolusi Al Husein dan merentang kedepan yakni kemunculan Imam Mahdi. Kedua, rekaman kebanggaan sejarah bangsanya (Persia) yang dengan secara kesatria tak pernah membiarkan tanah airnya jatuh dalam cengkeraman penjajahan bangsa lain. Yang ketiga sistem kepemimpinan Wilayatul Faqih menjadi firamida yang kokoh, sebagai kepemimpinan disposesif meliputi perkara sakral dan profan. Keempat pemimpin tertinggi dan keluarga hidup sederhan dan menjadi teladan buat rakyat. Kelima harga kebutuhan pokok sangat murah. Uang sepuluh ribu rupiah bisa dapat 20 liter bensin. Listrik, air, gas dan internet sebulan tak sampai seratus ribu rupiah.
Beda dengan rakyat Amerika dan Israel. Mereka hidup dalam pandangan dunia materialisme. Masyarakat yang ada terlevelisasi dalam kelas-kelas sosial. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. PIkiranya terikat pada kartu kredit di tangan, apakah masih bisa cicil utang atau tidak. Sehinga lonjakan harga bahan bakar membuat rencana anggaran rumah tangga mereka jungkir balik gara-gara otak sengkleh Benyamin Netanyahu dan Trump yang membunuh pemimpin Iran dan memulai perang.
Bangsa Iran laksana 92 juta tubuh dalam satu jiwa. Prinsip hidupnya pantang hina. Bagi mereka, terjajah berarti hina. Jalan didepan medan perang menyediakan dua kebaikan : hidup menang atau mati syahid. Bagi mereka perang adalah perang suci. Makanya tak pernah Republik Islam perang mengagresi negara lain. Mereka perang selalu karena diserang orang terlebih dahulu.
Hidup Secara Qur’ani dan secara Muhammad
Dengan menyetujui sistem pemerintahan Republik Islam Iran dan Wilayatul Faqih secara referendum dengan mendapat dukungan 98 persen suara, berarti rakyat Iran berkomitmen untun menerima ketentuan dasar Bangsa Iran diatur oleh nilai Qur’ani dan nilai Muhammadi.
Kedua nilai-nilai Qur’ani dan nilai-nilai Muhammadi pasti nilai yang sama, yang tingkat presisinya seratus persen. Bagi mazhab pemikiran Syi’ah mereka juga mempercayai nilai-nilai Imamiyah juga sama memiliki level presisi seratus persen dengan dua nilai diatas.
Hanya saja dalam masa penantian kemunculan Imam Mahdi, Ruhullah Khomaini sebagai ulama, filsuf sekaligus ideolog menggagas penantian aktif melalui Republik Islam Iran yang berada dalam otoritasi para Fuqaha (ahli agama terkualifikasi) sebagai otoritas sementara menunggu Pemerintahan Al Mahdi.
Dalam nilai Qurani dan Muhammadi yang terumuskan dalam Republik Islam Iran dalam sistem Wilayatul Faqih dan disepakati 98 persen suara rakyat Iran, ada kemiripan dengan penantian Mesias bagi agama Yudaisme Yahudi. Hanya saja dalam keyakinan mereka haram hukumnya mendirikan negara Yahudi sebelum mesias mereka datang. Tapi Theodor Herzl menggagas Zionisme, menabrak keyakinan Yudaisme.
Antitesa Zionisme
Zionisme adalah gerakan nasionalis Yahudi internasional yang muncul akhir abad ke-19 untuk mendirikan negara Yahudi berdaulat di Palestina, tanah yang diklaim sebagai milik leluhur mereka, sebagai solusi atas antisemitisme di Eropa. Dipelopori oleh Theodor Herzl, gerakan ini meresmikan Kongres Zionis pertamanya pada 1897, yang kemudian memicu migrasi besar-besaran (Aliyah) dan berujung pada berdirinya negara Israel pada 1948. Herzl sendiri adalah seorang Yahudi sekuler.
Theodor Herzl hanya menggagas. Dia sendiri meninggal tahun 1904. Proklamasi negara Israel dilakukan oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948 di Museum Tel Aviv, menandai berdirinya negara Yahudi sehari sebelum berakhirnya Mandat Inggris di Palestina. Deklarasi ini didasarkan pada resolusi PBB 1947 mengenai pembagian wilayah Palestina. Pada saat itu luas wilayah Israel hanya 56 persen. Lalu bertambah dari hasil menang perang.
Sementara Republik Islam Iran yang berlandas Wilayatul Faqih, telah mendapat legitimasi referendum dan berada dalam pengaturan Fuqaha Terkwalifikasi. Walau kedua entitas negara (Iran dan Israel) itu sama-sama menunggu munculnya mesias mereka masing-masing namun dalam perjalanannya mereka berbeda terutama soal agresi. Iran tak pernah mengagresi negara lain. Namun Zionis Israel sangat agresif berulang kali melakukannya.
Penutup
Rakyat Iran masih terus menggelar aksi jalanan, dan kali ini memekikkan salah satu slogan legendaris yang dulu kerap menggema di masa kemenangan revolusi Islam 1979.
Kami bersenjatakan Allahu Akbar
Kami menggempur pasukan musuh
Kami menggempur barisan musyrikin
Tiada Tuhan selain Allah
Sang maha esa, maha esa
Kami menepati janji
Semoga Sayid Mujtaba Panjang Umur
Salam atas Rahbar yang syahid
Salam atas Rahbar pendiri republik Islam
Sementara rakyat Israel dan Amerika sudah tidak kuat menahan kenaikan harga. Mereka terus berdemo menolak perang. Memohon heker Handala untuk merusak server lembaga kartu kredit agar data mereka bisa dihapus dari daptar utang.









