Apedius Mote : Anak Tuhan Tak Mencaci Seperti Babi Hutan

banner 468x60

Laporan Khas Langit Biru 

Pekan ini, suhu politik Papua kembali memanas. Bukan karena adu gagasan atau visi misi, melainkan lewat saling sindir yang semakin kental dengan nuansa agama dan moralitas. Sekretaris DPD Partai Demokrat Provinsi Papua, Apedius Mote, kembali melontarkan pernyataan pedas yang menyita perhatian, terutama di jagat maya Papua.
Dalam pesan yang disampaikan pada Jumat pagi, Apedius mengawali dengan sapaan sejuk.
“Selamat pagi dan Selamat Berakhir Pekan.” Namun, setelahnya, narasinya berubah tajam. Ia menggarisbawahi bahwa orang baik dan anak Tuhan sejati tidak mengeluarkan kata-kata kotor, tidak mencaci maki “seperti babi hutan”, tidak sombong, dan tidak pendendam.
Sontak, kutipan ini menyulut spekulasi. Apakah ini sindiran langsung pada kubu lawan politik pasangan MDF-AR dalam Pemilihan Suara Ulang (PSU) Gubernur Papua 2025? Banyak yang meyakini demikian.
Apedius, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Koalisi MDF-AR Provinsi Papua, tampaknya merespons serangkaian pernyataan kasar dari seorang pendukung BTM-CK. 
Pendukung tersebut, yang juga dikenal sebagai salah satu ketua asosiasi pengusaha konstruksi di Kabupaten Jayapura, melontarkan kalimat emosional bernada tinggi di media sosial.
“Emang enak di curangi, borong partai banyak, menyanyi kotak kosong, lapor sana-sini, gelembungkan suara, bolak-balik fakta, difitnah sana sini.”
Ia bahkan mempertanyakan ketahanan mental lawan politiknya, “Apa mental Tuan siap menerima tekanan sebesar itu? Anak Tuhan terlalu sabar tapi sebagai manusia, dalam tekanan pada titik tertentu pasti meluap ”.
Dalam konteks ini, Apedius memilih menjawab bukan dengan cacian serupa, tetapi lewat sentilan teologis. Ia menyebut bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu melahirkan kader pemimpin lain bukan sekadar mempertahankan kekuasaan. 
Ia menyebut nama-nama besar dalam kitab suci seperti Musa, Yusuf, dan Ester yang dipilih Tuhan bukan karena retorika mereka, melainkan karena ketulusan hati.
“Tuhan melihat hati,” tulis Apedius, seakan menyiratkan bahwa rakyat Papua pun sudah mulai jenuh dengan pertikaian kosong dan sedang mencari pemimpin yang rendah hati serta mampu membawa perubahan nyata.
Pernyataan Apedius ini tidak datang dalam ruang hampa. Dalam beberapa pekan terakhir, tensi PSU Papua meningkat tajam, terutama setelah munculnya isu pemecatan 3 Anggota KPU Kota Jayapura oleh DKPP, Relawan BTM- CK yang berbalik arah, dan fitnah berbalut agama dari berbagai arah terhadap paslon no urut 2 MDF. Pasangan MDF-AR, yang didukung Partai Demokrat, PPP, Gerindra, Golkar dan beberapa partai lain, tampaknya sedang berada dalam posisi diserang bertubi-tubi.
Meski begitu, narasi dari Apedius bisa jadi menjadi alat kontra-narasi yang membalikkan serangan balik pada lawan. Alih-alih meladeni cacian dengan cacian, ia melempar refleksi moral dan mengembalikan perdebatan ke titik asal integritas pribadi seorang pemimpin.
Di tengah atmosfer kampanye yang penuh kebisingan, pesan ini bisa jadi terdengar membawa aroma kesejukan. Atau justru sebaliknya amunisi baru untuk memicu perdebatan yang lebih panas.
Apapun itu, satu hal jelas di Papua hari ini, narasi politik tak lagi cuma soal suara, tetapi juga soal iman, akhlak, dan cara seseorang menjaga lidahnya.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *