JAYAPURA – Lapbiru.com
Juru Bicara Gubernur Papua, Dr. Muhammad Rifai Darus, SH, MH menilai kritik Benhur Tommy Mano (BTM) keliru karena membaca tahap awal sebagai keputusan proyek.
Rifai menegaskan, pertemuan antara Pemprov Papua dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) baru sebatas penjajakan. Belum masuk tahap teknis seperti studi kelayakan atau skema pembiayaan.
“Ini masih tahap awal. Bukan keputusan pembangunan. Jadi wajar kalau feasibility study atau hitungan biaya belum ada,” ujar Rifai dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, setiap proyek infrastruktur memiliki tahapan. Dimulai dari penjajakan konsep, lalu kajian teknis, analisis pembiayaan, konsultasi publik, hingga keputusan akhir.
Menurutnya, kritik yang mempertanyakan hasil di tahap awal justru tidak tepat sasaran.
“Mengkritik sekarang seolah-olah semua dokumen harus sudah lengkap, itu seperti minta panen padahal benih belum ditanam,” katanya.
Rifai juga menepis anggapan bahwa ide kereta api muncul tiba-tiba. Ia menyebut, gagasan itu sudah lama bergulir dalam berbagai forum pembangunan Papua, bahkan sejak era Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B).
“Ini bukan mimpi baru. Ini melanjutkan gagasan lama yang diuji kembali dengan kondisi hari ini,” jelasnya.
Ia turut menyinggung pengalaman BTM sebagai mantan Wali Kota Jayapura. Menurut Rifai yang jugan sebagai Mantan Ketua DPP KNPI pusat bahwa BTM seharusnya memahami alur pembangunan yang selalu dimulai dari konsep.
“Beliau tentu paham proses ini. Karena itu agak aneh kalau tahap awal diperlakukan seolah-olah keputusan final,” tambahnya.
Lebih jauh, Rifai menekankan bahwa isu utama Papua adalah konektivitas. Wilayah yang luas dan medan berat membuat biaya logistik tinggi dan mobilitas masyarakat terbatas.
Karena itu, kata Rifai, pembangunan transportasi tidak bisa dilihat sekadar proyek fisik, melainkan strategi integrasi ekonomi.
“Ini bukan soal prestise. Ini soal membuka akses dan menekan biaya hidup masyarakat,” tegasnya.
Rifai juga mengaitkan rencana ini dengan arahan pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto disebut telah membuka peluang kajian kereta api di Papua dan menugaskan KAI untuk melakukan penjajakan awal.
Pemprov Papua, lanjutnya, hanya merespons peluang tersebut.
Di akhir pernyataannya, Rifai menyoroti apa yang ia sebut sebagai “psikologi keraguan” dalam pembangunan Papua. Di satu sisi ingin maju, di sisi lain ragu memulai gagasan besar.
“Kita sering mengeluh soal mahalnya transportasi. Tapi saat ada ide besar, kita justru ragu. Di situ letak persoalannya,” ujarnya.
Ia menutup dengan optimisme. Jika suatu saat kereta api benar-benar terbangun, itu bukan sekadar infrastruktur.
“Rel itu akan jadi simbol bahwa Papua berani menghubungkan mimpi lama dengan masa depan,” pungkasnya.











