Waktu memang alat uji. Tapi waktu juga bisa menipu, kalau hanya diisi dengan panggung dan pencitraan.
MDF bukan tokoh baru. Ia hadir ketika banyak pemimpin sibuk tampil, sementara rakyat Papua menangis diam-diam. Ia memimpin saat banyak orang memilih bersembunyi.
Soal jejak dan kerja nyata, MDF tidak hanya pernah menjadi Kapolda Papua, tapi juga satu dari sedikit orang yang berhasil menjaga stabilitas keamanan tanah ini tanpa banyak gaduh. Ia bukan orator ulung tapi siapa yang kita butuhkan hari ini pembicara atau pekerja?
BTM punya banyak waktu di panggung kekuasaan, ya. Tapi rakyat Kota Jayapura juga punya ingatan. Selama 10, 15, 20 tahun itu, siapa yang merasa benar-benar disentuh nasibnya?
Aryoko Rumaropen bukan bintang politik tua. Tapi ia adalah representasi pemimpin baru yang lahir bukan dari lorong kekuasaan lama yang penuh kompromi. Dia bukan jago debat, tapi dia bisa duduk bersama rakyat kecil dan mendengar dengan hati.
Kalau debat soal siapa lebih unggul dari siapa, itu mudah. Tapi politik bukan arena adu sombong. Ini soal harapan, soal siapa yang membuat rakyat Papua percaya bahwa perubahan itu mungkin.
BTM mungkin lebih lama. Tapi siapa yang bisa jamin dia lebih baik?
MDF dan AR tidak menjelekkan. Tidak menghina. Tidak menyerang. Mereka hadir dengan cara berbeda karena mereka tahu, Papua tidak butuh penguasa lama yang lapar akan kuasa baru, tapi pemimpin baru yang betul-betul mengerti rakyat.
Bukan soal siapa lebih pintar bicara, tapi siapa lebih siap bekerja. Dan rakyat Papua makin hari makin cerdas untuk menilai.
Opini ditulis Oleh Simon P Bame











