Jakarta – Pelantikan Gubernur Papua Mathius Fakhiri dan Wakil Gubernur Aryoko Rumaropen (MDF- AR) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa (8/10), tidak hanya menjadi seremoni politik semata. Momen ini dinilai sarat dengan makna filosofis kebangsaan dan menjadi simbol rekonsiliasi antara pusat dan daerah.
Pelantikan Gubernur Papua di Istana Negara Sarat Makna Filosofis Politik
Juru Bicara, Gubernur Papua Terpilih, MDF- AR,
Dr. Muhammad Rifai Darus menilai, pelantikan di jantung kekuasaan negara itu merepresentasikan komunikasi politik deliberatif antara negara dan rakyat. Dalam kerangka pemikiran Habermas, kata Rifai, kekuasaan memperoleh legitimasinya melalui pengakuan timbal balik di mana negara hadir bukan sebagai pengendali, melainkan sebagai mitra rakyat.
“Pelantikan di Istana Negara menandai kesetaraan simbolik antara Jakarta dan Papua. Antara kekuasaan dan harapan. Ini adalah pesan kuat bahwa Papua tidak lagi dipandang sebagai pinggiran, melainkan bagian penting dari rumah besar Indonesia,” ujar Rifai di Jakarta.
Ia juga mengaitkan peristiwa ini dengan teori keadilan John Rawls, yang menekankan prinsip fairness. Negara, kata Rifai, menunjukkan komitmennya memperlakukan semua wilayah secara setara, memberi ruang bagi kehormatan politik dan kesejahteraan sosial bagi seluruh warga tanpa membedakan asal-usul dan latar budaya.
Lebih jauh, Rifai menyebut filosofi terdalam dari pelantikan ini justru berakar pada nilai khas politik Indonesia: kasih yang menembus perbedaan. “Kasih itulah yang menyatukan semua kelompok dan kepentingan. Ia menghubungkan keberagaman etnis dan iman di Tanah Papua serta menjadi jembatan dalam dinamika pembangunan,” ucapnya.
Kepemimpinan Mathius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen, lanjutnya, mencerminkan kolaborasi antara pengalaman, kearifan lokal, dan harapan baru rakyat Papua. Dari Istana Negara, semangat membangun Papua dengan hati yang tulus dan politik yang mempersatukan kembali ditegaskan.
“Ini fajar baru yang terbit dari ufuk Timur Indonesia. Harapan untuk Papua yang lebih cerah masih ada. Mari bergandeng tangan membangun masa depan anak cucu kita,” tutup Rifai.










