“Wajah Baru dari Biak”. Ramah Tamah Aryoko dan Gelombang Dukungan yang Diam-diam Berbalik Arah

banner 468x60

Jayapura, — Sore itu, suasana Pantai Hamadi disesaki keramaian. Musik berdentum, para simpatisan berdendang dan berjoget dalam suasana ramah tamah usai deklarasi “Relawan Maluku Utara for Mariyo” di Kota Jayapura, Sabtu 12 Juli 2025.

Di tengah euforia dan deru ombak dari kejauhan, seorang anak muda berniat mendekati salah satu tokoh utama sore itu Calon Wakil Gubernur Papua nomor urut 2, Aryoko Rumaropen.
Tapi bukan perkara mudah. Kerumunan terlalu padat. Tidak ada celah untuk menerobos, dan seperti yang diceritakan saya waktu itu, “Mau tabrak pun rasanya malu. Pa Aryoko belum kenal saya.”
Hingga kemudian, momen itu datang tak terduga. Seorang teman, Otis Deda, Ketua DPC Hanura Kota Jayapura sekaligus Wakil Ketua Koalisi MDF-AR tingkat kota, berdiri cukup dekat dengan Aryoko. Tak ingin melewatkan kesempatan, saya titip pesan ke Otis untuk memperkenalkan saya kepada beliau.
Dan di sinilah kesan pertama tercipta. Pa Aryoko menyambut dengan tangan terbuka, secara harfiah. Ia menjabat tangan saya erat, menatap dengan senyum khas orang Biak yang hangat, dan berkata pelan:
“Saly, saya sering baca tulisanmu. Tapi saya belum tahu orangnya. Baru hari ini kita ketemu.”
Tak ada sekat, tak ada protokol yang kaku. Hanya percakapan dua orang dalam suasana yang cair, meski waktu mendesak dan Aryoko tampak lelah. Ia tetap menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan yang kini tengah ramai di ruang-ruang politik Papua mengapa semakin banyak relawan dan tokoh dari kubu BTM-CK yang berpindah dukungan ke koalisi MDF-AR?
“Beri Kesempatan Wajah Baru dari Biak”
Dalam nada tenang, Aryoko menjawab tanpa dramatisasi.
“Fenomena ini unik,” ujarnya. “Terutama di Biak. Banyak anak-anak muda yang dulu relawan kubu sebelah, sekarang membongkar sendiri spanduk dan baliho dari posko mereka. Mereka datang ke saya, bilang: sekarang saatnya regenerasi. Jangan itu-itu saja.”
Menurut Aryoko, di Pilgub Putaran Pertama 2024, Biak sempat “stag” karena dua kandidat utama sama-sama berasal dari Biak. Tapi pada PSU kali ini, suasana berubah. Ada pergeseran diam-diam, tapi signifikan, yang mulai mengalir ke arah MDF-AR.
“Karena saya anak Biak juga, saya turun telusuri sendiri. Ternyata mereka cari figur baru. Mereka tidak anti siapa-siapa. Mereka hanya ingin sesuatu yang lebih segar, lebih muda,” ujar Aryoko, yang selama ini dikenal kalem namun konsisten di jalur pelayanan publik.
Tentang Kecewa dan Harapan Baru
Untuk wilayah lain, seperti Keerom, Kota Jayapura, hingga Sarmi dan Yapen Waropen, Aryoko tak banyak berspekulasi. Ia mengaku tak tahu pasti dinamika kontrak politik sebelumnya dengan paslon lain. Tapi yang pasti, dia melihat gelombang dukungan datang secara sukarela.
“Mungkin ada kekecewaan di putaran pertama. Tapi kami di MDF-AR tidak tanya-tanya motif terlalu dalam. Kalau niat mereka baik, kami terima. Papua ini kita bangun dengan cinta kasih, bukan saling tuding,” tegas Aryoko.
Ucapan itu tidak terdengar seperti slogan kampanye. Dari nada suaranya, ia seperti mengajak, bukan menggurui.
Figur Humanis di Tengah Badai Politik

Kesederhanaan Aryoko bukan dibuat-buat. Ia tak punya suara lantang seperti sebagian politisi, namun tutur katanya menyisakan kesan mendalam. Ia menyapa orang baru dengan mata terbuka dan genggaman hangat. Ia menyebut nama dengan ramah, bahkan ketika belum mengenal wajahnya.

Tak heran, banyak yang menyebut Aryoko sebagai wajah “baru tapi membumi” dari Biak bukan karena ia muda atau modis, tapi karena ia menghadirkan keakraban di tengah politik yang makin keras dan memecah.
Dalam politik Papua yang kerap tersandera identitas, kepercayaan, bahkan garis genealogis yang rumit, Aryoko muncul sebagai jembatan dari generasi ke generasi. Ia tidak menolak masa lalu, namun juga tidak ingin terjebak dalam pola lama.
“Kami tidak membedakan siapa datang dari mana. Kalau hatinya mau Papua cerah dan harmonis, mari kita jalan sama-sama,” ujarnya, sebelum akhirnya berlalu masuk ke mobil, meninggalkan pantai dan keramaian yang masih meriah di Hamadi.
Bagi sebagian orang, kampanye adalah panggung. Tapi bagi Aryoko, barangkali ini lebih seperti perjalanan bertemu orang-orang biasa. Dari tangan yang dijabatnya, dari senyum yang dibagikannya, dari telinga yang mendengarkan tanpa tergesa  kita bisa tahu, ia tak datang untuk sekadar menang. Ia datang untuk menyambung silaturahmi yang selama ini mungkin terputus.
Dan hari itu, seorang anak muda seperti saya tahu betul kadang, figur besar justru hadir dalam cara paling sederhana.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *