Kaleb Woisiri: Jangan Pakai Adat untuk Singkirkan MDF dari Pilgub Papua

banner 468x60

Jayapura –PSU Pemilihan Gubernur Papua 2025 belum berlangsung, tapi suhu politik sudah mulai memanas. Bukan karena adu program atau gagasan, melainkan karena isu politik identitas yang dimainkan kubu BTM- CK

Salah satu suara tegas namun tenang menentang hal ini datang dari Kaleb Woisiri, anggota DPRK Waropen sekaligus politisi muda dari Partai Perindo.
Kaleb menyebut upaya segelintir kelompok yang menjadikan adat Tabi dan Saireri sebagai alasan untuk menolak Matius D. Fakhiri (MDF) sebagai calon Gubernur adalah tindakan yang membahayakan persatuan orang asli Papua (OAP).
“Kalau politik identitas Tabi–Saireri dipakai untuk menyerang MDF, itu sama saja kita juga tidak boleh setuju kalau Kaka Yunus Wonda jadi Bupati Jayapura, atau Kaka FX Mote jadi Bupati Waropen. Padahal dua tokoh itu sudah terbukti bisa bekerja dan diterima masyarakat,” kata Kaleb dalam pernyataan resminya, Selasa (24/6/2025).
Matius D. Fakhiri sendiri bukan berasal dari wilayah Tabi-Saireri seperti yang sering disebut, tapi dari wilayah adat Animha. Meski begitu, tetap saja muncul suara-suara culas yang menyebut bahwa calon Gubernur Papua harus berasal dari wilayah adat Tabi atau Saireri.

Kaleb menilai cara berpikir seperti ini hanya akan membuat orang Papua terpecah belah.

Kaleb menyayangkan narasi politik yang sekarang dimainkan oleh pihak tertentu, yang menekankan bahwa hanya orang Tabi dan Saireri yang pantas memimpin Papua. Menurutnya, cara seperti ini sudah tak relevan lagi dan justru akan merusak hubungan antarsuku yang selama ini damai.
“Kalau kita terus pisahkan Papua dengan istilah ‘Papua gunung’ dan ‘Papua pantai’, maka jangan kaget kalau suatu hari nanti ada pihak yang menolak kehadiran OAP dari wilayah adat lain dalam pemerintahan atau pembangunan. Ini indikasi sangat berbahaya,” ujarnya.
Sebagai Ketua Tim Pemenangan MDF–AR di Kabupaten Waropen, Kaleb menekankan pentingnya memberi ruang kepada siapa saja dari tujuh wilayah adat Papua untuk ikut berkompetisi dalam politik. 
“Rakyat berhak memilih siapa pun yang mereka yakini mampu bekerja. Bukan berdasarkan asal suku,” tambahnya.
Ia menyebut masyarakat Waropen dan Sentani sebagai contoh yang baik. Keduanya dipimpin oleh tokoh-tokoh dari luar wilayah adatnya. Dan mereka terbukti mampu membawa perubahan dan membangun daerah.
Tanpa menyebut nama secara langsung, Kaleb menyindir pihak-pihak yang gencar memainkan isu adat dan asal-usul dalam Pilgub Papua. Pernyataan ini diyakini ditujukan kepada pasangan Benhur Tommy Mano (BTM) dan Constan Karma (CK), yang dalam beberapa kesempatan menunjukkan sikap seolah hanya tokoh dari Tabi–Saireri yang layak memimpin Papua.
“Jangan kita sesat pikir. Jangan karena beda wilayah adat, lalu kita tolak seseorang. Papua ini rumah besar untuk semua anak asli Papua, bukan cuma milik satu atau dua kelompok,” kata dia.
Kaleb menegaskan bahwa yang harus dipertanyakan adalah kemampuan calon, bukan asal daerahnya. “Kalau memang bisa bekerja, jujur, dan punya komitmen, kenapa harus ditolak hanya karena bukan dari Tabi?” ujarnya.
Kaleb juga menyinggung soal bahayanya politik identitas yang terus dibiarkan berkembang. Ia menyebut, saat program dan gagasan tidak kuat, biasanya yang diangkat adalah soal adat, suku, dan asal daerah. Padahal cara ini tidak pernah benar-benar membawa kemajuan bagi Papua.
“Kalau kita terus hidup dengan logika ‘yang pantas memimpin hanya orang dari kelompok saya’, maka kita tidak akan pernah maju. Politik seperti ini tidak menyatukan, malah memecah belah,” ujarnya.
Ia pun mengajak semua pihak, terutama anak-anak muda Papua, tokoh adat, gereja, dan para pemimpin masyarakat untuk melawan narasi-narasi sempit yang membawa-bawa adat ke dalam kepentingan politik.
“Adat bukan alat kampanye. Adat itu untuk menyatukan, bukan memecah belah,” katanya.
Kaleb berharap agar PSU Pilgub Papua 2025 bisa menjadi momen untuk menyatukan masyarakat Papua, bukan memecah mereka berdasarkan wilayah adat. Ia mengajak semua orang untuk menjaga suasana damai dan mendukung pemilihan yang adil.
Menurut Kaleb, masyarakat harus diberikan kebebasan untuk memilih pemimpin yang mereka anggap layak, tanpa tekanan dari kelompok tertentu.
Ia menegaskan, “Pemilihan ini bukan soal siapa dari mana, tapi soal siapa yang mampu memimpin Papua dengan hati.”
Sebagai Suara Tegas dari Waropen, Kaleb Woisiri menyampaikan pesannya dengan bahasa yang lugas dan menyentuh hati
“Mari kita jaga Papua dengan penuh kebijaksanaan dan toleransi agar kepastian Papua Tanah Damai akan terus dijaga. Jangan kita sesat pikir sebagai keluarga besar OAP. Lawan politik identitas Tabi–Saireri, karena itu penyesatan yang mengadu domba kekerabatan orang Papua di tujuh wilayah adat.” ungkapnya.
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *