Jakarta — Lapbiru.com
Rencana menghadirkan pesawat ambulans udara untuk Yahukimo mulai dibahas serius. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan RI bertemu langsung dengan Bupati dan Wakil Bupati Yahukimo, Rabu (4/2/2026), di Jakarta.
Fokusnya satu memecah persoalan layanan kesehatan di wilayah dengan medan paling sulit di Papua Pegunungan.
Pertemuan itu menyoroti lambannya evakuasi pasien akibat keterbatasan akses darat. Dirjen Kemenkes menilai ambulans udara bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Kalau pakai jalur darat, waktu habis di perjalanan. Pesawat ambulans bisa memangkas itu. Dalam kondisi darurat, waktu sangat menentukan,” kata Dirjen Kemenkes.
Menurut dia, Kemenkes tengah mendorong penguatan sistem rujukan nasional, terutama untuk daerah terpencil. Ambulans udara akan menjadi bagian dari skema tersebut, asalkan kesiapan daerah ikut berjalan.
Bupati Yahukimo Didimus Yahuli tak menampik persoalan klasik yang dihadapi warganya. Distrik-distrik di Yahukimo, kata dia, banyak yang hanya bisa diakses lewat udara. Ketika pasien harus dirujuk, pilihan sering kali terbatas.
“Ini bukan soal kemewahan. Ini soal nyawa. Banyak wilayah kami memang tidak punya akses darat yang layak,” ujarnya.
Wakil Bupati Yahukimo Esau Miram menambahkan, pemerintah daerah siap mengawal rencana itu agar tidak berhenti di meja rapat. Ia menyebut kesiapan regulasi dan koordinasi lintas sektor akan disiapkan dari daerah.
“Kami siap menyesuaikan aturan dan berkoordinasi, supaya operasionalnya nanti tidak tersendat,” kata Esau.
Selain komitmen politik, pertemuan juga masuk ke ranah teknis. Mulai dari skema dukungan pemerintah pusat, kesiapan tenaga medis dan kru penerbangan, hingga pembiayaan operasional layanan rujukan udara.
Pembahasan masih awal, namun arah sudah jelas. Pemerintah pusat dan daerah sepakat, tanpa terobosan transportasi medis, layanan kesehatan di Yahukimo akan terus tertinggal oleh medan. Pesawat ambulans udara diharapkan menjadi jawabannya asal tidak berhenti sebagai wacana.











