Tolikara – Lapbiru.com
Jalan raya penghubung Tolikara–Puncak Jaya rusak total. Aspal mengelupas. Lubang menganga di banyak titik.
Akses vital antarwilayah di Papua Pegunungan itu kini lebih mirip jalur darurat daripada jalan provinsi.
Kondisi tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah sebuah video beredar luas di sejumlah grup WhatsApp Provinsi Papua Pegunungan.
Dalam rekaman itu terlihat badan jalan hancur, dan sulit dilalui kendaraan.
Yotis Gire, yang mengaku sebagai kepala suku Gire Puncak Jaya dan kerap bolak-balik Tolikara–Puncak Jaya, tak menyembunyikan kekesalannya.
Ia menilai kerusakan jalan sudah berlangsung lama, namun nyaris tanpa sentuhan perbaikan.
“Ini bukan baru satu atau dua tahun. Sudah lama sekali. Tapi seperti dibiarkan begitu saja,” kata Yotis dalam video yang beredar, dengan nada geram.
Menurut dia, jalan tersebut menjadi urat nadi mobilitas warga. Bukan hanya untuk aktivitas ekonomi, tetapi juga akses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Namun realitas di lapangan justru berbanding terbalik.
“Kalau hujan, kendaraan bisa terjebak berjam-jam. Jalan berlubang di mana-mana. Ini menyulitkan masyarakat,” ujarnya.
Yotis menilai kondisi ini mencerminkan minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar di wilayah pegunungan. Ia menyebut ada kesan pembiaran dari tahun ke tahun.
“Kalau jalan rusak terus begini, bagaimana orang mau bawa hasil kebun? Bagaimana kalau ada orang sakit darurat?” ucapnya.
Hingga kini belum terlihat adanya langkah konkret perbaikan. Jalan tetap rusak. Lubang tetap menganga. Sementara warga terus bertaruh dengan waktu dan risiko setiap kali melintas.
Masyarakat berharap pemerintah Tolikara tidak lagi menunggu video viral untuk bertindak. Jalan Tolikara–Puncak Jaya bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan hidup sehari-hari. Jika terus diabaikan, dampaknya akan semakin panjang.











