WAMENA, Lapbiru.com – Kepala perang atau ndugure suku Lani, Rugi Tabuni, membantah anggapan yang menyebut suku Lani sebagai pemicu konflik besar di Woma, Kabupaten Jayawijaya. Dalam rilis pers yang diterima redaksi ,selasa, (19 Mei 2026).
Dia menegaskan suku Lani justru menjadi korban dalam rangkaian perang antara kelompok Kurima dan Asso Lokobal yang berlangsung sejak 2024.
Menurut Rugi Tabuni, konflik bermula dari kasus kecelakaan lalu lintas antara warga Kurima dan Asso Lokobal pada 2024. Perselisihan itu kemudian berkembang menjadi perang antarkelompok di Kampung Logonoba, Woma.
Ia menyebut masyarakat Lani ikut terlibat membantu kelompok Kurima karena hubungan kekeluargaan yang telah terjalin lama di wilayah Woma.
“Kami orang Lani bantu teman-teman Kurima karena tinggal bertetangga dan sudah dianggap keluarga,” katanya.
Dalam perang pertama tersebut, empat warga suku Lani dilaporkan tewas. Mereka masing-masing Mardin Tabuni, Yoten Kiwo, Weneluk Wakerkwa, dan Nias Tabuni.
Setelah kejadian itu, kata Rugi, pihak keluarga korban dari suku Lani menunggu penyelesaian denda adat dari kelompok Kurima sejak 2024 hingga 2026. Komunikasi baru berjalan setelah hampir dua tahun menunggu.
Pada 1 Mei 2026, proses pembayaran denda adat digelar di Lapangan Woma. Kelompok Kurima disebut hanya menyiapkan 30 ekor babi untuk diserahkan kepada keluarga korban.
Keluarga korban dari pihak Mardin Tabuni menolak pembayaran tersebut. Penolakan terjadi karena keluarga korban mengaku dibebani untuk ikut menyelesaikan denda korban lain dari suku Lani, yakni Nias Tabuni.
Selain itu, keluarga korban meminta tambahan denda berupa uang karena ukuran babi dinilai kecil dan biaya untuk memulangkan keluarga dari berbagai daerah cukup besar.
Persoalan itu kemudian dibawa ke Polres Jayawijaya setelah kedua pihak menerima surat panggilan untuk mediasi. Namun pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan karena kelompok Kurima tetap bertahan pada pembayaran 30 ekor babi, sedangkan keluarga korban Lani meminta tambahan denda uang.
Rugi Tabuni mengklaim konflik kembali pecah setelah pertemuan di kantor polisi selesai. Menurut dia, kelompok keluarga korban dari Lani mendatangi honai kelompok Kurima di Kampung Logonoba, Woma Atas, untuk mengingatkan soal penyelesaian denda adat.
Namun setibanya di lokasi, kelompok Lani disebut langsung mendapat serangan. “Kelompok kami dipukul mundur sampai ke jembatan gantung Kali Uwe,” ujarnya.
Ia menyebut sekitar 34 orang dari kelompok Lani saat itu berada di sekitar jembatan. Sebagian disebut dipanah dan jatuh ke sungai, sementara lainnya terjatuh setelah jembatan roboh akibat beban massa dan derasnya arus sungai.
“Semua dinyatakan hanyut saat itu,” katanya.
Selain korban hanyut, sebanyak 26 orang dari pihak Lani disebut mengalami luka-luka. Proses pencarian korban dilakukan sejak 7 hingga 14 Mei 2026 dengan melibatkan keluarga korban, Basarnas, serta TNI-Polri.
Rugi Tabuni juga menuding kelompok Kurima menghambat proses pencarian korban dengan membatasi area pencarian dan melakukan intimidasi terhadap keluarga korban yang berada di lokasi Kali Uwe.
Menurut dia, ketegangan kembali memuncak setelah terjadi penyerangan terhadap kelompok Lani di wilayah Tolikara Misi pada 14 Mei 2026 sore. Sehari kemudian, kelompok Lani melakukan penyerangan balasan di Kampung Logonoba, Woma Atas.
Sejak penyerangan tersebut, keluarga korban dari suku Lani tidak lagi melanjutkan pencarian korban hanyut. Pencarian kemudian dilanjutkan oleh Basarnas bersama aparat TNI dan Polri.
Rugi Tabuni kembali menegaskan bahwa suku Lani bukan pihak yang memulai konflik.
“Kami suku Lani bukan pelaku, tapi korban dari perang antara Kurima dan Asso Lokobal,” ujarnya.











