Dalam lanskap politik Papua pasca pemekaran wilayah (DOB), identitas Lapago- Meepago atau masyarakat Pegunungan Papua tetap menjadi kekuatan sosial-politik yang kokoh. Meski batas administratif berubah, solidaritas wilayah adat Pegunungan Papua masih memegang peran strategis dalam menentukan arah kekuasaan di Tanah Papua. Kubu MARIYO—Mathius D. Fakhiri dan Aryoko Rumaropen menjadi ruang representasi baru bagi kekuatan ini.
Orang Lapago- Meepago bukan sekadar pemilih, mereka adalah penjaga arah politik, suara dari dataran tinggi yang ingin memastikan sejarah, nilai, dan perjuangan mereka tidak tercerabut. Tak heran, sejumlah figur kunci dari Pegunungan Papua kini menyatakan dukungan kuat terhadap pasangan MARIYO.
Nama-nama seperti Kenius Kogoya, Yunus Wonda, Apedius Mote, Aloysius Giay, Timi Gurik, Socrates Sofyan Yoman menjadi wajah dari gelombang dukungan Pegunungan Papua terhadap MDF. Mereka bukan sekadar tokoh elite, tetapi simbol dari kehendak politik orang gunung yang ingin kembali memiliki ruang dalam arsitektur kekuasaan Papua.
Mathius D. Fakhiri, meski berasal dari wilayah adat Animha (Papua Selatan), dikenal sebagai figur yang membangun komunikasi lintas wilayah. Ia diterima karena pendekatannya yang tidak elitis dan mampu menghargai struktur sosial budaya lokal, termasuk dari Pegunungan Papua.
Bagi banyak Lapago- Meepago, MDF adalah simbol rekonsiliasi antara keamanan dan keadilan. Sebagai mantan aparat, Fakhiri dikenal tidak represif, melainkan dialogis. Ia memberi ruang bagi narasi-narasi lokal, termasuk dari Pegunungan, untuk tetap hidup dalam kebijakan.
Setelah pemekaran daerah yang menggeser banyak tokoh Pegunungan Papua keluar dari lingkaran kekuasaan di Jayapura, kubu MARIYO dipandang sebagai peluang untuk mengembalikan harga diri politik Orang Gunung di Papua induk.
Dukungan ini bukan sekadar soal figur, tetapi tentang harapan, keseimbangan kekuasaan, dan pengakuan terhadap sejarah panjang Pegunungan Papua sebagai penentu arah politik Papua.
(Laporan Khusus Langitbiru)











