Jayapura, – Tim Koalisi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 2, Mathius D. Fakhiri – Aryoko Rumaropen (MDF-AR), memberikan klarifikasi tegas atas beredarnya narasi provokatif yang menyebut terjadi pergantian calon jelang debat publik yang diselenggarakan oleh KPU Provinsi Papua.
Narasi tersebut muncul dalam bentuk pesan WhatsApp dan media sosial yang mencatut nama “Hein Josua Mambrasar – Tim BTM”, disertai foto gladi resik KPU Papua yang memperlihatkan dua pria berdiri di podium bertanda nomor urut 2. Pesan itu menyebut bahwa calon gubernur telah diganti oleh mantan calon wakil, dan posisi wakil digantikan oleh “Sekretaris Partai Demokrat”.
Isi pesan itu berbunyi:
“Hari ini Calon Gubernur Nomor Urut 2 Diganti dengan Calon Wakil Gubernur lalu Calon Wakil Gubernur diganti dengan Sekretaris Partai Demokrat. Bagaimana menurut peserta? Aneh atau tidak?”
Menanggapi pesan tersebut, Sekretaris Koalisi MDF-AR , Apedius Mote menyatakan bahwa informasi itu menyesatkan dan tidak sesuai fakta. Ia menegaskan bahwa tidak ada pergantian calon, dan ketidakhadiran Mathius D. Fakhiri dalam gladi resik Debat Publik disebabkan oleh jadwal kampanye yang sudah tersusun jauh hari.
“Pak MDF saat itu sedang melaksanakan kampanye di Nimbokrang. Ketika kembali ke Jayapura, waktunya sudah terlambat, jadi kami menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Kami sudah berkoordinasi dan mendapat izin resmi dari KPU agar saya mewakili beliau dalam gladi resik bersama calon wakil gubernur, Pak Aryoko Rumaropen,” jelasnya. Selasa 29 Juli 2025.
Ia menambahkan bahwa seluruh kegiatan kampanye MDF-AR berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, dan kehadiran dirinya bukan sebagai pengganti calon, melainkan sebagai perwakilan resmi koalisi yang sah.
Lebih lanjut Apedius melanjutkan bahwa Tim MDF-AR menilai narasi yang dibangun kubu BTM-CK tidak mencerminkan etika demokrasi yang sehat. Mereka menuduh lawan politik sengaja menciptakan kebingungan publik dengan menyebarkan disinformasi menjelang PSU Pilgub Papua.
“Ini bukan sekadar salah informasi. Ini provokasi politik yang bisa membentuk opini publik yang keliru. Tujuannya jelas mendeligitimasi pasangan MDF-AR dengan menciptakan persepsi ganjil dan ketidakpastian,” ujarnya.
Tim Koalisi MDF-AR menyerukan kepada publik dan media untuk tidak langsung mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami minta semua pihak, terutama pendukung dan simpatisan, untuk tetap waspada dan cerdas. Jangan terpancing narasi yang tidak berdasar. Semua hal terkait pasangan calon harus dikonfirmasi langsung ke KPU atau tim resmi,” katanya.










