Yahukimo – Lapbiru.com
Wabah penyakit menyerang Distrik Ubahak, Kabupaten Yahukimo. Hingga Februari 2026, sedikitnya 10 warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang diduga Penemunia dan campak.
Kasus ini terjadi di Kampung Keleng dan Tolomping. Anggota DPRK Yahukimo sekaligus Wakil Ketua Komisi D, Ones Hubusa, mendesak pemerintah daerah segera mengirim tambahan obat-obatan karena stok di lapangan sudah habis.
Menurut Ones, tim medis dari Dinas Kesehatan Yahukimo memang sudah turun ke lokasi. Namun bantuan tahap pertama dinilai belum cukup.
“Pertama kami bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkab Yahukimo, terutama Dinas Kesehatan dan tim medis yang sudah bekerja di lapangan bersama Kepala Puskesmas Ubahak,” kata Ones di Jayapura, Selasa (10/3).
Meski begitu, ia mengaku prihatin dengan jumlah korban yang meninggal dalam waktu singkat. Beberapa kematian bahkan terjadi pada hari yang sama.
“Ini musibah luar biasa. Di Kampung Keleng dan Tolomping pernah dalam satu hari empat orang meninggal di jam yang sama, sekitar pukul 14.00. Total di Februari saja sudah 10 orang meninggal,” ujarnya.
Ones menjelaskan mayoritas korban adalah warga usia produktif sekitar 30–40 tahun dan lansia yang masih aktif bekerja. Ada juga satu balita berusia sekitar 1,5 tahun yang ikut menjadi korban.
Tim medis yang memeriksa pasien menemukan dua penyakit utama yang menyerang warga, yakni Penemunia dan campak.
“Penyakit ini berbahaya karena menyerang semua usia, dari anak-anak sampai orang tua. Saya minta Dinas Kesehatan segera kirim stok obat lebih banyak ke distrik. Jangan sampai kepala puskesmas harus bolak-balik ke kota untuk ambil obat,” tegasnya.
Selain masalah obat, Ones juga menyoroti sulitnya akses transportasi ke wilayah Ubahak. Ia meminta pemerintah membuka subsidi penerbangan agar layanan kesehatan tidak terhambat.
“Kami sangat butuh pesawat subsidi. Tanpa itu, pelayanan kesehatan sulit berjalan cepat. Ini soal nyawa masyarakat,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan perwakilan mahasiswa Distrik Ubahak di Jayapura yang tergabung dalam IKBU, Yanes Kabak. Ia menyebut wabah tahun ini sebagai yang paling berat yang pernah dialami masyarakat setempat.
“Sekarang masyarakat tidak bisa beraktivitas. Mereka biasanya berkebun dan cari makan sendiri, tapi sekarang banyak yang hanya terbaring karena sakit,” kata Yanes.
Ia berharap pemerintah bergerak lebih cepat mengirim obat, tenaga medis, dan bantuan pangan bagi warga yang terdampak.
“Jangan sampai korban terus bertambah. Banyak yang meninggal masih usia produktif, orang yang sebenarnya masih kuat bekerja,” ujarnya.
Sampai Selasa (10/3), warga Distrik Ubahak masih menunggu pengiriman obat tahap kedua serta tambahan tim kesehatan untuk menekan penyebaran DBD dan campak di wilayah tersebut.











