Esai : Abdul Munib
Dalam Al Quran ada surah Al-kafirun. Surah itu nomor 99. Yang melatarbelakangi turunnya surah itu adalah adanya penawaran pihak penentang kepada Nabi Muhamad Saw bahwa, mereka akan menerima Islam tapi pihak Nabi juga harus menerima agama mereka. Gambaran situasi diatas tadi yang kemudian dijawab oleh pernyataan Ilahi dalam surah itu.
Begini bunyinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Beririsan dengan isi surat Al-kafirun adalah ayat 108 surah Al An”am. Bunyinya : Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah, yang karenanya mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Seirisan lagi dengan ayat diatas adalah ayat 256 surah Al-Baqarah. Bunyinya : Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Fenomena yang ada selama ini dalam Islam, adalah memuncaknya kebencian antar Mazhab dalam Islam, katakan saja antara Sunny dan Syiah, misalnya. Dalam perang Iran melawan Amis (Amerika Israil) yang sekarang sedang berlangsung, fenomena tadi lebih nampak. Dalam Mazhab Sunny ada dua sikap, ada yang berdoa untuk kemenangan Iran, tapi ada juga yang berdoa untuk kekalahan Iran. Sikap gang terakhir dilakukan oleh Sunny aliran Wahabi Salafi Takfiri. Naga-naganya yang terakhir tadi memang aliran proxy yang dibuat Barat vis Rezim Saudi Arabia.
Sehingga jika Iran memenangkan perang ini Mazhab Sunny terbagi dua juga. Satu pihak ikut merasakan kegembiraan dan menganggap ini sebagai kemenangan kaum muslimin dunia. Satu pihak, yang Wahabi Salafi Takfiri, merasakan kesedihan amat sangat karena dalam puncak indoktrinasi dan dogmatisasi dalam aliranya adalah membenci Syi’ah. Dalam keyakinannya Syi’ah bukan Islam.
Jadi sikap Al Quran menanggapi kekafiran adalah dengan jalan masing-masih tak usah baku ganggu. Elo elo gua gua. Soal keyakinan dan sesembahan, kita masing-masing saja. Tidak usah saling olok, tidak usah beradu benar, dan juga tidak usah saling mengkomoromikan. Kira-kira begitu lah muatan surah itu. Di ayat lainnya diperkuat larangan memaki atau mengolok-olok sesembahan pihak lain, karena pihak lain itu juga akan balas mengolok Tuhan kita. Bahkan mereka asal mengolok saja tanpa pengetahuan yang benar. Islam tak menghendaki situasi saling perolok-olokan sesembahan. Karena pada setiap manusia ada terselip rasa indah atas amalnya sendiri. Sedangkan Tuhan lah pihak paling layak yang akan menilai dan menghakimi setiap perbedaan pandangan manusia.
Tapi jika orang kafir memerangimu ceritanya lain. Perintah Al Aturannya perangi dia. Begini bunyi ayat 191 surah Al-Baqarah itu : Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Yang begini disebut Kafir Harbi.
Semua gambaran di atas sangat jelas keterangannya. Bahas bersikap terhadap kafir yang tidak memerangi kita dengan bergaul seperti biasa dalam pergaulan sosial. Namun jika, mereka memerangi maka perangiah. Ketentuan-keyentuannya sudah sangat jelas. Bahwa siapapun mereka kalau ‘jual’ maka kita ‘beli’. Israel dan Amerika ‘jual’ maka Iran tanpa takut mereka ‘beli’. Itulah perang yang hari ini terjadi.
Orang yang mengaku sebagai muslim tapi hatinya tak gembira dengan kemenangan muslim dunia, itu pasti orang munafik. Munafik adalah orang kafir juga tapi membungkus dirinya dengan idiom-idiom Islam. Banyak contohnya di Medsos seperti Khalid Basalamah dan konco-konconya. Itu Islam bikinan Zionis.
Terhadap Ahlul Kitab ada lagi ayat yang menuntun sikap kita pada mereka. Begini bunyinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.
Menyimak rangkaian ketentuan diatas, rasa rasanya aneh jika ada persekusi terhadap agama lain di Indonesia yang berketuhanan yang maha Esa. Ada adu domba Barat dibalik fenomena yang digambarkan diatas baik karena beda agama atau sekedar beda mazhab. Setelah Iran mengalahkan Barat maka dipastikan tukang adu domba itu akan menghilang dengan sendirinya?











