Tidak ada calon gubernur dalam sejarah panjang kompetisi politik di Papua yang mendapat serangan hinaan dan pelecehan baik menyangkut agama sebagai dasar imannya maupun suku asalnya seperti yang dialami Mathius D. Fakhiri (MDF) dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua 2025.
Fakhiri adalah orang asli Papua (OAP). Namun, sepanjang kontestasi, ia tidak lepas dari serangan identitas. Ironisnya, dukungan paling signifikan justru mengalir dari kantong-kantong suara urban, wilayah yang dihuni mayoritas warga Nusantara.
Data hasil rekapitulasi menunjukkan, di Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom dua wilayah dengan proporsi besar pemilih pendatang pasangan MARIYO (Mathius D. Fakhiri – Aryoko Rumaropen) unggul jauh dari BTM–CK.
Kabupaten Keerom
Paslon 01: 15.294 suara
Paslon 02: 24.752 suara
Selisih: 9.458 suara
Kota Jayapura
Paslon 01: 90.728 suara
Paslon 02: 108.040 suara
Selisih: 17.312 suara
Total keunggulan MARIYO di dua wilayah urban ini mencapai lebih dari 26 ribu suara.
Fenomena ini berbanding terbalik dengan pola di TPS-TPS dengan dominasi warga asli Papua. Di sana, selisih suara relatif tipis, hanya sekitar 50 hingga 150 suara per TPS.
Rasa Iba dan Politik Identitas
Sejumlah pengamat menyebut, perolehan suara besar dari kantong pemilih pendatang menunjukkan adanya faktor psikologis yang bekerja di balik pilihan politik. “Fenomena ini lebih mirip dengan rasa iba,” kata seorang pengamat politik di Kota Jayapura.
Menurutnya, ketika seorang calon mendapat serangan berupa pelecehan identitas, simpati justru datang dari kelompok yang lebih plural dan beragam secara etnis maupun agama.
“Biasanya orang yang dihina akan menjadi pemimpin yang adil bagi semua suku, agama, dan golongan. Itu bisa menjadi harapan baru di Papua,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Kemenangan
Kemenangan MDF di kantong-kantong urban memperlihatkan ironi politik Papua orang asli Papua yang mendapat serangan berbasis identitas justru diangkat oleh solidaritas pemilih lintas suku dan agama.
Dukungan itu menunjukkan dua hal pertama, politik identitas yang dipakai sebagai senjata justru bisa berbalik arah kedua, masyarakat urban di Papua yang didominasi pendatang menjadikan isu keadilan dan penghormatan atas perbedaan sebagai dasar pilihan.
Dalam catatan ini, perjalanan Mathius D. Fakhiri bukan sekadar kompetisi elektoral, melainkan juga kisah tentang bagaimana luka pelecehan bisa bertransformasi menjadi solidaritas.( Mas)











