JAYAPURA, Lapbiru.com – Gubernur Papua Matius D.Fakhiri (MDF) menegaskan keluarga besar Papua Barat Daya yang berada di Provinsi Papua harus ikut mengambil bagian dalam pembangunan. Pesan itu disampaikan Fakhiri saat menghadiri ibadah bersama keluarga besar Papua Barat Daya di Kota Jayapura, Sabtu (22/8/2026).
MDF menyebut pertemuan tersebut bukan sekadar ibadah. Lebih dari itu, pertemuan menjadi ruang untuk memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antarsesama warga Tanah Papua.
“Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar sebuah kegiatan ibadah. Ini momentum untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat kebersamaan, dan meneguhkan komitmen kita sebagai satu keluarga besar Tanah Papua,” katanya.
Ia mengaku memiliki ikatan emosional dengan Papua Barat Daya. Sebab, ibunya berasal dari wilayah Imeko, Papua Barat Daya.
“Saya adalah anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang berasal dari Imeko, Papua Barat Daya. Karena itu, Papua Barat Daya bukan sesuatu yang jauh dari diri saya. Ada ikatan darah, keluarga, hubungan emosional, dan persaudaraan yang kuat,” ujarnya.
MDF juga mengingatkan keluarga besar Papua Barat Daya untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Perbedaan suku, marga, kampung, profesi maupun tempat tinggal justru harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Menurutnya, pembangunan Papua membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat.
“Saya mengajak keluarga besar Papua Barat Daya untuk terus menjadi bagian dari proses pembangunan karena Pemerintah Provinsi Papua tidak dapat membangun Papua seorang diri,” tegasnya.
MDF berharap keluarga besar Papua Barat Daya yang tinggal dan beraktivitas di Papua terus memberikan kontribusi nyata. Ia ingin hubungan kekeluargaan tetap terjaga, sekaligus menjadi modal sosial untuk mendorong Papua yang lebih maju.
“Mari kita buktikan bahwa keluarga besar Papua Barat Daya adalah keluarga yang rukun, kompak, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi Papua. Kita boleh berasal dari tempat yang berbeda, tetapi kita tetap satu Tanah Papua,” pungkasnya.











