Tanggal 15 Januari 2026 menjadi salah satu hari yang cukup berisik di jagat perpolitikan nasional. Bukan karena keributan, melainkan karena satu keputusan besar akhirnya diambil.
Di hari itu, Munaslub Partai Reformasi digelar. Forum tersebut melahirkan dua keputusan penting sekaligus Muhammad Ridwan Andreas terpilih sebagai ketua umum, dan partai resmi berganti nama menjadi Partai BERANI atau Berkarya Indonesia.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya tampak sebagai pergantian nama dan jabatan. Tapi jika ditarik ke belakang, ceritanya jauh lebih panjang. Berlapis. Dan cukup berliku.
Muhammad Ridwan Andreas akrab disapa MRA bukan sosok baru di lingkaran politik nasional. Namanya dikenal luas sebagai loyalis Prabowo Subianto. Sejak Pilpres 2019, MRA sudah berada di barisan Tim Sukses Nasional Prabowo Presiden. Perjalanan itu berlanjut di 2024. Ia kembali berada di garis yang sama, mengawal perjuangan politik Prabowo hingga tahap akhir.
Sebelum publik mengenalnya sebagai figur sentral di Partai Berkarya yang kini bertransformasi menjadi Partai BERANI, MRA sempat berkiprah sebagai kader Partai Gerindra. Di sanalah ia menempa diri, memahami ritme politik partai besar, serta mengenal dinamika loyalitas, strategi, dan konflik yang nyaris tak pernah absen dari dunia politik.
Babak berikutnya membawa cerita ini bersinggungan dengan Partai Berkarya. Partai yang sejak awal identik dengan nama besar Tommy Soeharto. Partai yang sempat menaruh harapan besar, namun berkali-kali tersandung konflik internal. Dualisme kepengurusan, munas tandingan, hingga tarik-menarik legitimasi menjadi menu rutin yang tak kunjung usai.
Partai BERANI pada dasarnya lahir dari pertemuan berbagai elemen yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Ada loyalis Tommy Soeharto yang pernah “dimunaslubkan” di era Presiden Jokowi. Ada loyalis Prabowo yang selama ini aktif dalam kerja-kerja pemenangan nasional.
Ada pula kader Partai Reformasi yang pada Pemilu 2024 sudah mengikuti verifikasi faktual KPU RI, tetapi akhirnya dinyatakan tidak lolos sebagai peserta pemilu.
Nasib Partai Reformasi dan Partai Berkarya kala itu memang serupa. Sama-sama memiliki struktur. Sama-sama punya kader di daerah. Sama-sama bekerja keras mengikuti tahapan KPU. Namun ujungnya sama kandas. Reformasi gagal lolos verifikasi faktual. Berkarya terjebak dalam konflik dualisme yang tak berkesudahan.
Di tengah kondisi itulah muncul satu kesadaran bersama. Jika terus berjalan sendiri, masing-masing hanya akan kelelahan. Energi habis untuk konflik internal, bukan untuk membangun kekuatan politik yang nyata. Dari situlah gagasan konsolidasi mulai menguat.
Nama MRA kembali muncul di titik krusial. Ia sebenarnya sudah lebih dulu terpilih sebagai Ketua Umum Partai Berkarya hasil Munas I pada Juli 2025. Banyak yang mengira, itu akan menjadi akhir konflik Berkarya. Nyatanya tidak. Dualisme tetap berlanjut.
Beberapa bulan berselang, sekitar Oktober–November, muncul Munas versi lain. Dari forum itu, Muchdi PR ditetapkan sebagai ketua umum. Bukan hanya pucuk pimpinan yang berubah, arah simbolik partai pun ikut bergeser. Logo beringin karya yang selama ini menjadi identitas diganti dengan logo garuda. Langkah yang bagi sebagian kader dianggap terlalu jauh, bahkan menghapus sejarah.
Di titik inilah kelelahan mulai terasa. Lelah dengan konflik yang tak berujung. Lelah dengan perebutan legalitas yang tak pernah benar-benar selesai. Lelah melihat partai lebih sibuk mengurus dirinya sendiri.
Munaslub Partai Reformasi pada 15 Januari 2026 menjadi jawaban dari kelelahan itu. Forum tersebut tidak sekadar memilih ketua umum, tetapi juga mengambil keputusan strategis untuk berubah, menyatu, dan melangkah ke depan. Nama Partai BERANI atau Berkarya Indonesia dipilih bukan tanpa alasan. Kata BERANI menjadi penegasan sikap bukan sekadar akronim, melainkan simbol keberanian memutus mata rantai konflik lama.
Terpilihnya MRA sebagai ketua umum berlangsung relatif mulus. Banyak peserta munaslub menilai, ia memiliki tiga modal penting pengalaman organisasi, jejaring nasional, dan rekam jejak loyalitas politik yang konsisten. Bagi mereka, MRA bukan figur dadakan. Ia sudah lama ada di lapangan ikut menang, ikut kalah, dan tetap bertahan.
Di berbagai perbincangan informal di sela-sela munaslub, satu kalimat kerap terdengar “Kita capek ribut, sekarang saatnya kerja.” Kalimat sederhana, tapi jujur. Dan barangkali itulah yang paling menggambarkan suasana saat Partai BERANI resmi dideklarasikan secara internal.
Partai ini memang belum bicara soal target muluk. Belum bicara soal kursi atau koalisi besar. Fokus utamanya masih satu menyelesaikan rumah sendiri. Mengonsolidasikan kader dan Menyatukan struktur.
Bagi MRA, amanah ini jelas bukan perkara ringan. Ia berdiri di persilangan kepentingan yang kompleks. Ada loyalis Prabowo, ada loyalis Tommy Soeharto, ada kader Reformasi yang sempat kecewa pada sistem pemilu. Semuanya harus dirangkul, tanpa menyingkirkan satu sama lain.
Perjalanan Partai BERANI masih panjang. Tantangannya tidak kecil. Namun setidaknya, pada 15 Januari 2026, satu keputusan penting telah diambil. Bukan keputusan yang sempurna, tapi keputusan yang berani.
Dan dalam politik, sering kali, keberanian untuk memulai ulang jauh lebih penting daripada terus bertahan dalam konflik lama.











