Catatan dari Asrama Mahasiswa Kamkey hingga Kursi Menteri

banner 468x60

Oleh : Karmin Lasuliha
(Pendiri Yayasan Bina Generasi Papua)

Dunia ini memang sering disebut panggung sandiwara. Tapi bagi Bahlil Lahadalia, hidup bukan soal peran ini soal bertahan. Panggung itu baginya adalah medan tempur, yang baunya sudah ia kenal sejak masih jadi kernet angkot di Fakfak.

Hari ini orang melihatnya duduk rapi di kursi Menteri ESDM, mengurus isi perut bumi Indonesia. Jasnya mahal, posisinya tinggi. Tapi banyak yang lupa, di balik semua itu ada cerita lama tentang perut kosong, tentang lapar yang pernah ia tahan saat jadi mahasiswa di Jayapura.

Kalau mau bicara Bahlil, jangan mulai dari istana. Mulailah dari sebuah kamar sempit di Asrama Mahasiswa Fakfak di Kamkey, Abepura.

Di sana, hidupnya jauh dari kata layak. Pagi hari tak ada aroma kopi, apalagi sarapan. Perut kosong sudah jadi hal biasa. Ke kampus pun bukan naik kendaraan, tapi jalan kaki. Bukan karena hobi, tapi karena keadaan. Kadang ia berdiri di pinggir jalan, berharap ada yang mau memberi tumpangan. Dari situ, pelan-pelan tumbuh sesuatu dalam dirinya: empati yang tidak dibuat-buat.

Aneh memang. Justru dari kondisi sesulit itu, kedisiplinannya terbentuk. Ia bukan tipe aktivis yang sekadar teriak di jalan. Bahlil muda adalah perencana. Ia memikirkan langkahnya, mengukur arah, dan tahu ke mana harus pergi.

Saya masih ingat satu kalimatnya waktu awal di HMI. Sederhana, tapi kena. Mendesain diri itu jangan mulai dari uang. Mulailah dari gagasan. Bangun jaringan, yakinkan orang dengan ide. Uang nanti akan datang sendiri.

Itu bukan sekadar kata-kata. Ia jalani betul. Di dunia usaha, ia jatuh berkali-kali. Bahkan sempat benar-benar tersungkur. Tapi dia bukan tipe yang berhenti. Setiap jatuh, dia bangkit lagi dengan keberanian yang lebih keras dari sebelumnya.

Empatinya pun bukan empati musiman. Ia sering membantu mahasiswa yang hampir putus kuliah karena biaya. Banyak yang tidak tahu, karena memang tidak pernah ia ceritakan. Tapi bagi Bahlil, melihat mahasiswa berhenti karena uang itu seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu.

Ia tidak tahan melihat itu terjadi.

Dari situ lahir langkah yang lebih besar. Ia tidak mau cuma bicara. Ia membangun Pondok Pesantren Cendekia Mandiri di Cileles, Lebak. Bukan sekadar pesantren biasa dirancang serius, berdiri di atas lahan luas, dengan biaya yang ia keluarkan sendiri hingga puluhan miliar rupiah.

Tujuannya jelas: anak-anak yatim dari berbagai daerah, termasuk Papua, bisa sekolah gratis dengan fasilitas yang layak. Ia ingin mencetak generasi yang bukan hanya paham agama, tapi juga siap menghadapi dunia punya ilmu, punya mental, dan berani berusaha.

Ia sering datang ke sana. Duduk bersama anak-anak, tanpa jarak. Bukan sebagai pejabat, tapi sebagai orang yang pernah merasakan susahnya hidup.

Yang menarik, kepeduliannya tidak pernah dibatasi sekat. Ia datang ke panti asuhan, termasuk panti Kristen, dan memberi bantuan tanpa banyak bicara. Baginya sederhana: kalau ada yang susah, bantu. Tidak perlu tanya latar belakang.

Sikap itu juga terlihat saat ia bertemu mahasiswa. Spontan. Kadang langsung membantu biaya kuliah, bahkan memberi modal usaha. Bukan pencitraan, tapi refleks.

Saat dipercaya negara, ia tidak berubah. Di kementerian, ia justru membawa orang-orang yang punya cerita hidup mirip dengannya yang mungkin tidak punya banyak uang, tapi punya otak dan kemauan.

Bagi anak-anak muda, khususnya aktivis dan pengusaha, Bahlil bukan sekadar pejabat. Ia seperti kakak. Orang yang sudah naik, tapi masih ingat bau tanah tempat ia berasal.

Mungkin ada yang melihatnya dari luar dan menilai seadanya. Itu wajar. Tapi yang pernah mengenalnya dari dekat tahu satu hal: ia tidak pernah lupa dari mana ia datang.

Dan mungkin itu yang membuatnya tetap berjalan terus naik, tanpa pernah menutup tangga bagi orang lain yang ingin ikut naik.

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *